Chapter 1
Emak memandang Wahyu lekat. Nyaris tak ada bagian yang tertinggal. Dari ujung rambut hingga kaki. Semuanya terekam di kepala Emak. Tiba-tiba Emak tersenyum. Sementara pikirannya menerawang. Tak mungkin terlupakan, batin Emak.
Wahyu yang sadar diperhatikan, segera menegur. Tak ada jawaban. Senyuman Emak malah semakin lebar. Lalu Emak bercerita. Dua puluh tahun lalu Wahyu lahir. Alangkah bahagianya Emak melihat anaknya selamat. Kepala menjadi bagian tubuh pertama yang Emak lihat. Sayang, bukannya senang, Emak malah kaget.
“Lho?” Wahyu memotong pembicaraan.
Emak meneruskan ceritanya. Satu hari menjelang kelahiran, Emak menentang larangan tetangganya untuk tidak menjahit sapu ijuk. Mumpung belum melahirkan, begitu alasan Emak waktu itu. Sekarang, siapa sangka rambut Wahyu seperti ijuk? Hitam dan kasar.
“Oh, ya. Dulu waktu hamil kamu, Emak sering mimpi tikus. Tikus hitam bergerombol dan berisik. Mungkin karena itu kulit kamu jadi agak hitam.”
“Apa hubungannya?” tanya Wahyu kaget.
“Gak tahu. Mungkin aja kan?”
Wahyu mendelik. Emak tertawa.
“Dulu Emak pernah punya keinginan. Pas kamu lahir, kamu tidak menangis. Inginnya mengucap salam. Soalnya Emak pernah dengar, katanya bayi yang lahir menangis itu karena dicubit Syetan.”
Wahyu mengerutkan kening.
“Tapi kenyataannya, kamu cuma bisa nangis. Lapar, pipis, sakit, semuanya nangis.”
“Emak aneh.”
“Bukan aneh. Kan lucu seandainya pas kamu lahir langsung salam. Pasti lain dari yang lain.”
“Terus Emak takut. Dikiranya bukan anak manusia. Bayi kan emang cuma bisa nangis.”
“Udah, ah, itu kan dulu. Eh, Yu. Kamu udah punya pacar belum sih?” tanya Emak mengalihkan pembicaraan. “Emak perhatikan, belum pernah dengar kamu jatuh cinta. Tuh si Rifal, teman SD kamu udah tunangan. Belum lagi si Indra. Bulan depan dia nikah. Terus si Yadi. Katanya setahun lagi nikah. Minggu kemarin lamaran. Kamu kapan?”
“Kalau sudah waktunya.”
“Yee...” Emak mencemooh. Agak kecewa mendengarnya. “Tapi kamu pernah jatuh cinta kan? Kamu normal kan Yu?”
“Ya iyalah normal. Begini-begini, Wahyu pernah jatuh cinta, Mak!” jawabnya membela diri. “Dulu waktu SD, Wahyu suka sama seorang wanita. Wajahnya sih emang biasa-biasa. Tapi cantik menurutku. Suatu saat, Wahyu berinisiatif untuk memberinya bunga. Sebelum sekolah, Wahyu petik mawar di depan rumah. Tapi, karena takut ketahuan, Wahyu selipkan saja bunga itu di bukunya. Soalnya Wahyu yakin, dia tidak akan mau terima. Apalagi dengan kulit Wahyu yang paling beda. Kulit Wahyu kan sawo kematangan alias sawo busuk.” Wahyu terus menjelaskan dengan serius.
“Kupikir, si dia akan langsung membuka buku. Begitu melihat ada bunga di bukunya, dia akan tersenyum dan aku bahagia. Eh ternyata salah. Buku itu sama sekali tidak dibuka. Sampai seminggu kemudian si dia buka buku itu. Sayangnya, bunga itu malah sudah busuk. Jadilah bukunya rusak. Kontan saja dia nangis. Tidak hanya itu. Dia juga berteriak-teriak sambil tanya-tanya siapa yang iseng menyimpan bunga busuk di bukunya. Akhirnya, karena takut dilaporkan ke guru, aku jujur. Emang aku yang melakukannya. Nyatanya, bukan senyuman yang aku terima. Aku malah digetok pakai bolpoin.”
Emak tertawa. “Tapi, Yu, wanita tidak akan mau kalau calon suaminya seorang pengangguran. Coba aja pikir! Mau dikasih makan apa nanti? Sebagai lelaki, mencari nafkah itu wajib hukumnya. Seorang istri bisa lho mengajukan cerai kalau tidak dinafkahi selama enam bulan berturut-turut. Itu saking pentingnya menafkahi.”
“Iya, Mak. Wahyu mau coba peruntungan di Youtube. Barangkali ketemu rezekinya.”
“Apa? Yut.. apa?”
“Youtube. Jadi kerjanya kita mengunggah video-video ke Youtube. Nah, kalau sudah banyak viewers-nya bakal ada yang pasang iklan. Jadi, nanti kita dapat uang.”
Emak diam. Kata-kata Wahyu tak bisa diterjemahkan otaknya.
Wahyu yang sadar dengan itu terkikik geli. “Iya, Wahyu lupa. Emak gak paham, ya? Ya udah. Tak usah jadi beban. Doakan saja anakmu ini. Semoga sukses.”
***
Semalaman Wahyu mencari informasi tentang Youtube. Wahyu tak ingin sembarang terjun, ikut-ikutan karena trend. Karenanya, dia mesti mendapat informasi sebanyak dan seakurat mungkin.
Di mesin pencari, Wahyu mengetik; cara mendapatkan uang dari internet, cara mendapat uang dari Youtube, cara membuat akun Youtube, istilah-istilah dalam Youtube, cara mempromosikan akun, sampai pengalaman Youtuber sukses.
Observasi, begitu alasan Wahyu ketika meminta uang untuk membeli pulsa. Emak yang tak mengerti, memberinya cuma-cuma. Tentu saja dengan harapan terbaik. Semoga usaha Wahyu lancar.
Maka, jadilah Wahyu belajar bergadang. Selain karena kuota malam yang nyaris tak terpakai, juga ia mesti berhemat. Bagaimanapun, Wahyu sayang Emak. Ia tak ingin merepotkan Emak dengan meminta uang keseringan. Kasihan. Emak kan cuma jualan pecel.
Bapak? Jangan ditanya! Entah kemana. Katanya sih merantau. Tapi ya sudahlah! Ingat saja mungkin tidak! Tak pernah kasih kabar, apalagi uang.
Soal pulsa dan kuota, ada satu kejadian yang membuat Wahyu dimarahi habis-habisan.
Pertama bergadang, Wahyu malah ketiduran. Bukannya observasi, cari informasi, eh malah nonton film. Parahnya, film yang ditontonnya masih hidup sampai pagi. Jadilah kuota yang baru dibelinya itu langsung habis.
Terang saja Emak marah-marah. Seenaknya minta uang. Penghasilan apa sehari seratus ribu cuma buat pulsa? Tapi itu sudah lewat. Sekarang tidak.
Sebagai percobaan, Wahyu berencana merekam Emak sedang membuat pecel. Sekalian promosi. Barangkali saja Emaknya mendadak tenar. Orang-orang penasaran. Lalu pecelnya laku keras.
Esoknya, tanpa sepengetahuan Emak, Wahyu merekam Emak. Emak benar-benar tak sadar menjadi bahan percobaan. Tentu saja. Bakal panjang urusannya kalau Emak tahu. Apalagi sampai sadar Emak direkam.
Sebentar! Kerudung Emak belum benar.
Sebentar! Bedak Emak pas, kan?
Sebentar! Emak grogi.
Sebentar!
Sebentar!
Sebentar!
Terus saja begitu.
Belum lagi kalau kurang bagus menurut Emak. Repot. Bakal minta dihapus. Lha, kapan selesainya? Wahyu sangat tahu Emak. Biarpun hidup jauh dari kota, tetap saja Emak ingin tampil cantik.
Dengan judul ‘Pecel Terlezat Sedunia’, Wahyu mengunggah video perdananya. Tak lupa, ia promosikan lewat media sosial. Satu per satu teman-dikenal ataupun tidak asal dalam kontak-dikirimi pesan. Belum lagi menandai dalam status. Lalu dari mulut ke mulut.
Hasilnya? Tidak terlalu memuaskan. Hanya tujuh puluh orang yang tertarik menonton. Tak apa. Masih belajar, katanya membesarkan hati. Mencoba menghilangkan kegalauannya.
***
“Bagaimana? Setuju?” tanya Asep ketika dosen keluar.
“Boleh,” jawab Wahyu tanpa banyak pikir.
Asep-satu-satunya sahabat Wahyu-tertarik dengan apa yang dilakukan Wahyu. Asep melihat prospekn Youtube cerah. Bagaimanapun, internet bukan lagi hal asing. Tak dapat dibayangkan, satu-dua-bahkan sepuluh tahun kemudian secanggih apa teknologi. Dan pastinya orang akan semakin ketergantungan pada internet.
Awalnya Asep berencana membuat akun sendiri. Namun-mengingat ia agak malas mengerjakan semuanya sendiri-lebih baik memanfaatkan yang ada. Lagipula tak perlu susah lagi membuat. Tinggal pakai, begitu alasan Asep yang dikemukakan kepada Wahyu.
Naas, beberapa hari bekerja sama dengan Asep, Wahyu malah bingung. Terancam dikeluarkan gara-gara terlibat skandal. Semua ini ulah si Asep. Wahyu hanya korban kejahilan. Sayangnya, Wahyu tak menyadari.
Tak sadar?
Iya. Ada satu kelemahan Wahyu yang sering dimanfaatkan Asep. Wahyu gampang percaya. Asal dikasih alasan yang masuk akal, dia akan manggut-manggut. Kadang sok paham. Padahal benar-benar tak paham.
Siang itu, Wahyu yang sedang tidur di kelas, dibangunkan Asep. Tanpa memberi kesempatan buat mengumpulkan kesadaran, Asep menarik lengan Wahyu kuat. Jadilah ia tergopoh-gopoh sambil mengucek mata. Dikiranya ada bencana.
“Kamera! Kamera! Siap!”
Wahyu tak peduli, malah terus mengucek mata.
“Yeee... ini anak! Mana kamera? Siap! Ada yang mesti direkam. Lumayan buat di-upload,” rayu Asep.
Dengan gerak lambat, si Wahyu mengeluarkan ponsel.
“Ayo, sekarang kamu siap! Melaporkan skandal dosen yang tidak ada di kampus manapun! Cepat!”
Mendengar kata skandal, wajah Wahyu mendadak segar. Kemudian ia bersiap, membenarkan rambut yang acak-acakan, baju kusut, dan.. tes tes.
“Selamat siang pemirsa. Dari kampus xxx dilaporkan, seorang dosen berinisial J tertangkap basah melakukan skandal dengan satpam berinisial A. Rekaman ini diambil langsung dari TKP. Berikut cuplikannya.”
Klik. Video dijeda.
Dari jarak lima meter, dengan posisi duduk, tangan menggenggam hadnphone-pura-pura memainkan-Wahyu terus memantau pergerakan Pak Joki; satu-satunya dosen yang memiliki tinggi badan tidak lebih dari 150 cm.
Wahyu yang sudah sangat percaya pada Asep, terang saja langsung mengikuti arahan buat memata-matai Pak Joki.
Jam setengah tiga tepatnya. Waktu pas buat membuntuti, ketika Pak Joki akan pulang. Tempat parkir yang berseberangan dengan posisi duduk Wahyu dan Asep, memungkinkan mereka merekam dengan jelas.
Pak Joki menyalakan motor, kemudian pergi. Berhenti di depan gerbang. Ada Pak Anwar yang tengah menanti.
Klik. Diteruskan kembali kamera video itu.
Pak Anwar naik mengendarai motor agak oleng. Nyaris jatuh. Wahyu dan Asep tertawa. Pak Joki sulit menyeimbangkan. Pak Anwar kaget. Kemudian turun. Mungkin takut jatuh. Setelah siap, Pak Joki mengangguk.
Diangkatlah kaki kanan Pak Anwar, melewati jok motor. Motor malah oleng ke kanan. Sekali lagi. Nyaris saja Pak Joki tidak mampu menahan beban. Asep dan Wahyu lagi-lagi tertawa. Pak Anwar kembali mengurungkan niatnya buat naik.
Lagi, Pak Joki mengangguk. Pak Anwar mencoba kembali naik. Dicobanya sekali lagi. Sama saja. Motor oleng.
Klik. Selesai.
Wahyu segera mengedit video tersebut. Ada beberapa bagian yang mesti dipotong karena gambarnya oleng, efek cekikikan tadi. Setelah itu, klik. Upload ke Youtube. Judulnya SKANDAL DOSEN.
***
Sebagai newbie, Wahyu sangat senang ketika ada orang yang membicarakan video-videonya di Youtube. Hidungnya mengembang. Seolah terhempas ke alam tak dikenal.
Termasuk video skandal dosen. Namanya mendadak melejit. Di sana-sini pasti jadi bahan gosip. Membuatnya makin ge-er. Hebatnya, dalam kurun waktu tiga hari sudah bisa mencatat viewers sebanyak 2500. Sulit dipercaya. Tentu saja hal ini jadi bahan perbincangan seantero kampus. Sekarang, siapa yang tak kenal Wahyu?
Dengan tingkah jemawa, langkahnya sengaja dibuat-buat seperti orang berwibawa. Sapaan teman-teman tak dihiraukan. Paling hanya menoleh dengan tangan melambai. Kalau tidak, senyum sambil mengangguk sekali. Benar-benar berwibawa.
Asep yang berbarengan dengan Wahyu menggeleng-geleng. Tak kuat melihat tingkahnya yang aneh. Seperti orang kaya baru saja! Padahal Asep tahu, berangkatnya naik angkot. Uangnya pun cuma sepuluh ribu. Bayangkan! Sepuluh ribu!
Sebagai newbie yang baru mengunggah dua video, permintaan untuk meng-upload video lebih banyak semakin santer di telinga.
Entahlah, padahal mungkin permintaan itu sekadar lelucon, atau bisa jadi sindiran. Hanya saja, mana dia tahu itu sindiran? Dia kan gampang percaya. Sekali lagi, gam-pang per-ca-ya! Jadi, omongan orang apapun akan dipercayanya selama belum sadar.
Lantas berkonsultasilah ia kepada Asep. Menurutnya, ketenarannya berkat Asep. Kalau bukan Asep yang membangunkan dan memberitahu ada peluang skandal, dia takkan tenar.
Dia tak ingin menjadi manusia yang tak tahu balas budi. Dia selalu ingat pelajaran SD, tidak boleh sombong meski derajat sudah berbeda. Asep yang mendengar pengakuan Wahyu, mengangguk. Kemudian berjanji akan membantu mencari ide-ide yang lebih bagus.
***
Pagi itu, Wahyu sedang ongkang-ongkang kaki di depan rumah. Tangannya terus mengutak-atik ponsel. Lima menit yang lalu ia bangun. Belum sempat cuci muka. Apalagi gosok gigi. Ilernya saja masih disusut.
Lebih dari lima kali Wahyu disuruh mandi. Tak peduli Wahyu mendengarnya.
Tiba-tiba handphone berdering.
“Kenapa?” tanya Wahyu langsung menjawab. “Aaaa-paaaa?” pekikan slow motion persis sinetron adegan terkejut membuat Emak dan pembeli pecel melirik spontan.
Aahh.. modus. Sengaja ia lakukan itu. Dia kan ingin jadi orang terkenal. Sekalian latihan buat tampil di Youtube.
“Oke. Aku ke sana sekarang!”
Bergegas Wahyu ke kamar. Ambil handuk kemudian digosokkan ke gigi. Dilihatnya air di gelas yang tinggal setengah. Tangannya langsung masuk. Diusapkannya ke muka. Tak lupa mengganti baju. Masa iya ke kampus pakai kaus oblong dan celana selutut sobek-sobek?
Lima menit persiapan. Wahyu berangkat.
Seribu pertanyaan muncul di kepala. Namun, sepintas, ia teringat akan pesan ustadz, bahwa tidak baik memiliki pikiran negatif. Maka, kepanikan, kebingungan dan keheranannya kali ini berusaha disingkirkan. Pasti akan mendapat selamat dari rektor, karena mahasiswanya tengah naik daun. Ya, ujung-ujungnya titip nama. Mereka juga pasti ingin terkenal.
Asep menunggu di depan gerbang. Cepat-cepat ditariknya lengan Wahyu. Wahyu santai, berlagak calm.
“Kenapa? Ada apa? Hidup itu nggak mesti panik. Slow aja!” kedua telapak tangannya terbuka. Bahunya agak bergidik. Sok cool. Padahal tidak mandi. Apalagi gosok gigi.
Asep tak peduli. Terus saja ditariknya Wahyu sampai tepat di depan ruangan rektor.
“Kamu masuk! Rektor nunggu kamu! Bilang kalau kamu Wahyu. Si youtuber itu.”
“Emangnya mau apa? Ngasih selamat?”
“Pokoknya masuk saja! Kalau ditanya ya jawab. Tapi jangan bawa-bawa nama aku!” ancam Asep.
Nun jauh di dasar hati Asep, ia yakini bahwa pemanggilan Wahyu berkaitan dengan unggahan di Youtube. Video itu tak seharusnya diunggah. Bagaimanapun, Asep tahu bahwa hal itu mencemarkan nama baik dosen dan kampus.
Aaahh.. tak bisa Asep berpikir. Pastilah ia pun akan dipanggil.
“Memang saya yang menyuruh Wahyu merekam.”
Jujur?
Aaahhh tidak! Tidak! Pasti akan dikeluarkan.
“Saya tidak melakukan itu.”
Ah, tapi Wahyu yang bakal marah. Wahyu kan satu-satunya teman yang dia punya.
“Memang saya yang menyuruh Wahyu merekam. Tapi sungguh, saya tak menyuruh dia untuk mengunggahnya ke Youtube. Bagaimana pun, saya tahu kalau itu akan mencemarkan nama baik Pak Joki, Pak Anwar dan kampus ini.”
Begitukah alasannya kalau aku dipanggil?
Hati Asep terus saja berkicau. Namun, demi kuliahnya aman, mau tak mau mesti mengorbankan Wahyu.
“Aduh, kok, jadi takut ya? Pasti gara-gara kemarin,” ucap Wahyu. Kali ini wajahnya berubah pucat. “Gimana ini? Mesti kasih alasan apa?”
“Kemarin berwibawa, tenang! Kenapa sekarang ciut? Pokoknya masuk! Ingat! Sekarang kamu sudah terkenal. Siapa sih yang tak kenal Wahyu?” Asep mencoba menenangkan. Meski kenyataannya menjerumuskan.
Sekilat, hati Wahyu membenarkan. Ketakutannya hilang dalam sekejap. Asep mengetuk pintu yang sedikit terbuka. Sebentar masuk. Entah ngobrol apa, disuruhnya Wahyu masuk. Asep segera pergi. Menunggu kabar selanjutnya di lain tempat.
Nun jauh di sana, harap-harap cemas Wahyu menunggu. Akan marah-kah? Atau memberi selamat?
Pasti memberi selamat. Aku kan sudah terkenal, yakin Wahyu dalam hati.
Dengan rasa percaya diri penuh, Wahyu siapkan hatinya buat tidak gede rasa. Ia tata serapi mungkin. Jangan sampai rona bahagianya bisa dibaca. Ia harus tetap tenang. Sekarang ia sudah bukan Wahyu yang dulu. Ia orang terkenal.
“Jadi kamu yang bernama Wahyu?” tanya rektor.
Wahyu mengangguk. Tadinya mau berulang kali. Tapi dipikir lagi, cukup sekali saja. Dia kan harus terlihat berwibawa. “Video kamu bagus. Saya sudah menontonnya.”
Alangkah bahagianya Wahyu mendengar itu. Benar-benar tak percaya. Ah, pasti sebentar lagi rektor akan memberi ucapan selamat. Menyalami lalu merangkul atau memeluk.
Ingin rasanya ia kembangkan senyumannya. Selebar mungkin. Sampai gigi geliginya terlihat semua. Kemudian disambung dengan cerita di balik layar. Namun, ia ingat tata krama Semua harus serba berwibawa.
“Terima kasih, Pak!” jawabnya sambil tersenyum.
“Oh, ya. Jadi kamu toh yang merekam Pak Joki? Jempol. Benar-benar lucu.”
Wahyu tertawa tiga kali. “Ha ha ha. Memang lucu seperti pembuatnya.”
Rektor terkejut. Menggeleng kepala. Sekali lagi Wahyu mengangguk. Masih menjaga wibawa.
“Saya akan menghadiahi kamu. Atas prestasimu itu, saya harus ucapkan selamat. Selamat!” ucapnya sambil memanjangkan tangan.
Wahyu menyalami. Benar dugaannya.
“Oh, ya. Ini saya kasih amplop.”
Wow, benar-benar seperti mimpi. Seorang rektor memberi selamat serta amplop? Wahyu ingin berteriak. Sah-lah dirinya jadi orang terkenal. Pokoknya kabar gembira ini harus diketahui semua orang. Terutama Asep. Berkat jasanya dirinya terkenal.
Pikiran Wahyu melayang. Kalau isinya uang, setengahnya akan diberikan kepada Asep. Dia harus menerima kebahagiaan ini.
“Coba kamu buka!” perintah rektor.
Terang saja Wahyu langsung membuka. Kertas? Oh, mungkin ini cek. Dibukanya lipatan kertas itu.
“Apa? Surat peringatan? Apa salah saya?”
“Karena kamu merusak nama baik Pak Joki, Pak Anwar, profesinya, kemudian nama kampus ini.” Wahyu melongo, tak percaya.
“Bapak pasti bercanda, kan? Bapak mau numpang beken, kan? Bilang saja, Pak! Saya buatkan video khusus buat Bapak. Spesial!” Wahyu terus berpikir positif. “Ini pasti permainan Bapak. Bapak ingin menjadikan ini ide. Aaahh, Bapak cerdas. Top, deh!” Wahyu cengengesan, tertawa tiga kali. Ha-ha-ha.
Rektor yang tingkat sebalnya lebih dari gunung semeru, menggebrak meja sambil berkata, “Keluar!”
Wahyu shock. Buru-buru pergi.
***
Wahyu mencoba berjalan santai. Dirapikan wajah kagetnya. Ia sembunyikan kuat-kuat. Sedalam dan serapat mungkin. Apapun keadaannya, orang lain tak boleh tahu. Calm, baby! begitu kata orang gaul.
Dari balik tembok, Asep menarik Wahyu. “Heh, gimana? Ada apa? Apa kata rektor?” hatinya belum tenang. Jika sesuatu terjadi, dia pasti ikut disalahkan. Agak shock, Wahyu. Ia menenangkan diri setelah melihat wajah Asep.
“Oh kamu. Gak pa-pa.”
“Bohong!”
“Serius! Aku cuma dikasih ini.” Wahyu memperlihatkan amplop yang digenggamnya.
Melotot mata Asep. Cuma?
“Jangan gila!”
Asep menerima amplop yang disodorkan Wahyu. Dibacanya. Begitu kagetnya Asep.
“Tidak ada yang mesti diributkan. Mereka hanya tidak tahu saja. Iya. Mereka hanya tidak sadar kalau aku mempromosikan kampus ini.”
Kening Asep berlipat. “Apaan sih? Nggak jelas.”
“Yee.. ini serius. Mereka hanya tidak tahu apa-apa. Biarlah. Biarkan aku jadi pahlawan tanpa nama. Biarkan aku menggapai mimpi ini sendiri, tanpa intervensi rektor dan dosen-dosen.”
“Ngaco! Ngomong apa sih?”
“Ini nggak ngaco. Ini serius. Kalau aku sampai dikeluarkan, mereka akan menyesal telah membuang permata.”
Asep tertawa. “Permata hitam?”
“Begini, ya, Asep yang tidak tampan rupawan,” ujar Wahyu tenang, tanpa beban. Ia yakin tidak salah. Tidak perlulah menyesal. Toh, memang tidak ada yang perlu disesalkan. “Setelah kuposting Pak Joki, semua tahu Pak Joki. Semua tahu kampus ini. Mereka pasti akan berbondong-bondong buat daftar. Ya, meskipun ini bukan sepenuhnya salahku.”
“Maksudnya? Oh, jadi kamu salahkan aku?”
“Maaf, kawan. Aku tidak menyalahkanmu. Kamu yang merasa.”
“Aku cuma memberi ide. Lagipula aku tidak pernah menyuruh buat meng-upload ke Youtube.”
Wahyu diam. Diingat-ingatnya percakapan hari itu. “Iya. Kamu benar. Sedikit pun belum pernah kamu perintahkan aku buat memposting di Youtube.”
“Karena aku hanya memberimu ide saja.”
“Iya. Terima kasih, kawan!”
Asep tersenyum. Lega. Terbebas tuduhan.
Dasar bodoh!
***
“Surat apa itu di meja?” tanya Emak selepas Isya.
“Cuma dari rektor.”
“Kenapa memang?”
“Surat peringatan.”
Mata Emak melotot. Tak lama kemudian emak menghujani dengan kata-kata pedas. Bukan pedas lagi, tapi memojokkan, meminta pertanggungjawaban atas apa yang sudah dilakukan Wahyu.
Tenang saja Wahyu membela. Sebenarnya bukan sepenuhnya salahnya. Ia hanya memposting dosen yang sedang naik motor. Itu saja. Hasilnya positif. Terkenal. Sayangnya rektor malah melihat dari sisi lain.
“Itu hanya merekanya saja yang bodoh! Aku kan cuma membantu supaya mereka cepat terkenal.”
“Kamu yang nggak waras! Buat apa disekolahin kalau ujung-ujugnya masih bego, hah?”
“Emak...” Wahyu mencoba merayu. “Biarkan aku jadi pahlawan tanpa nama. Akan kubekenkan nama mereka. Biar mereka tahu kalau aku tidak bermaksud menghina. Aku ingin sama-sama sukses. Kita sama-sama terkenal.” Suaranya dibuat sok puitis.
Emak mangkel. Dongkol. Anak semata wayangnya, kenapa juga mesti berpikiran bodoh?
“Apa karena Emak ngasih makan pecel tiap hari, Yu, kamu jadi begini?”
Wahyu tertawa. Apa hubungan pecel dengan dirinya?
“Emak.. jangan salahkan diri sendiri. Semua ini tidak ada sangkut pautnya dengan pecel. Biarkan Emak usaha dengan cara Emak sendiri. Dan aku beken dengan caraku sendiri. Kita sama-sama berjuang, Mak!”
Lalu Emak diam, menerawang alam lain. Apa salahnya? Kenapa anaknya bisa begini? Aneh. Benar-benar aneh.
Aaahhh.. bodohnya!
“Lagipula kan itu cuma surat peringatan. Wahyu tidak dikeluarkan, kok! Tenang, Mak! Wahyu tak akan menyimpan dendam barang sedikit pun. Cuma, perlu dicatat baik-baik. Wahyu akan jadi orang terkenal. Wahyu akan jadi orang hebat.”
“Ngimpi!”
“Siapa yang ngimpi, Mak? Bu Susi aja putus sekolah bisa jadi menteri? Masa iya Wahyu nggak?”
“Makin ngawur kamu, Yu! Istighfar! Sadar!”
Kembali Wahyu tertawa.
Apa yang salah di benak Emaknya? tanyanya dalam hati.
“Wudhu, shalat, banyak istighfar, terus tidur! Jangan banyak melamun! Panjang angan-angan itu tidak baik. Bisanya cuma mengkhayal.”
Wahyu tak peduli. Tak didengarkannya ucapan Emak.
Klik. Televisi dimatikan. Lampu kamar Emak sudah mati. Wahyu ikut ke kamar, mematikan lampu. Berselimut, lalu memejamkan mata. Berharap esok dapat ide yang lebih baik.
Kring! Ponsel berdering.
Wahyu bergerak cepat, meraihnya. Satu panggilan tak terjawab.
Cepat, Wahyu ketik pesan.
Ada apa?
Klik.
Tidak terkirim. Wahyu baru ingat, pulsanya habis.
Other Stories
I See Your Monster, I See Your Pain
Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...
Kk
jjj ...
Tiada Cinta Tertinggal
Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...
After Honeymoon
Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...
Separuh Dzrah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...