Chapter 3
Namanya Yunita.
Wahyu harus cepat. Ia tak bisa sendiri terus. Lengah sedikit saja, pasti disalip Asep. Toh, selama ini pun pamor Asep lebih bagus dibanding dirinya. Dimana-mana, ada saja teman Asep. Digilai wanita, meski hanya hitungan jari.
Ya, dibanding dirinya. Apalah arti dirinya di mata wanita? Selama ini belum satu pun wanita merespon trik-trik Wahyu. Segala taktik pendekatan, gagal. Malah Asep yang dicari.
Hhh... kali ini tak boleh gagal!
Emak ke dapur, mengambil garam. Wahyu membuntuti.
“Mau apa, Wahyu?”
“Mak, minta duit, dong! Mau ngisi pulsa. Kuota habis. Tinggal yang malam. Aku nggak mau kalau mesti bergadang terus. Lagipula aku kan mau bikin video lagi.”
“Apa hubungannya sama Emak?”
“Kalau Emak terkenal, Emak orang pertama yang akan Wahyu sebut. Kalau Wahyu diwawancara, Wahyu akan bilang begini, ‘Pertama-tama, terima kasih kepada Tuhan YME, kedua, kepada Emak tercinta.’ Begitu, Mak!”
“Nggak paham.”
“Pokoknya minta duit aja. Emak terima beres.”
“Emak nggak ada duit, Yu! Kamu kerja, dong! Kamu tuh udah gede! Ngandelin Emak yang dagang pecel, kan, gak tentu. Kadang laku, kadang nggak. Lagipula malu sama tetangga. Masa iya kamu jadi pengangguran? Wajah pas-pasan, kerja nganggur. Apa kata dunia?”
Wahyu cemberut. Tapi tangannya masih memegang daster Emak. “Nih, cuma ada lima belas ribu. Dicukup-cukupkan aja!”
Wajah Wahyu agak lesu. Tapi tak apa. Yang penting bisa SMS-an. Segera ia langkahkan ke warung terdekat. Sebenarnya ia malas ke warung. Tadinya mau titip ke Emak. Sekalian Emak mau beli gula. Namun, diurungkannya. Wahyu tidak ingin kejadian dulu terulang.
Emak yang akan ke warung, dititipi Wahyu buat beli pulsa. Setelah lama menunggu, si tukang warung belum juga bicara apa-apa. Sampai tukang warung menegur. “Nunggu siapa, Mak?”
“Kan, nunggu pulsa!” jawab Emak polos.
Si tukang warung terkekeh. Geli.
Tak lama, Emak pulang. Marah-marah. Memalukan, katanya.
Satu getok jadi hadiah Emak siang itu. Berhubung Wahyu harus ngirit, maka segera saja Wahyu gratiskan. Kata operator, kirim 5 kali bakal gratis 1000 SMS ke semua operator. Wahyu manfaatkan saja!
Hai. Benar ini Yunita?
Satu pesan terikirim. Jam satu lebih lima menit.
Ditunggu-tunggu, lima-sepuluh-lima belas menit-sampai dua jam, tak satu pun balasan masuk.
Apa jangan-jangan dia bohong? Tapi masa iya bohong? Tak tertarikkah dengan pesona Wahyu si ganteng kalem?
Hai. Iya benar. Siapa, ya?
Dua menit setelah adzan magrib, balasan itu datang. Syukurlah. Dia memang jodoh, ucap Wahyu penuh harap.
Wahyu : Aku Wahyu. Kamu Yunita, kan?
Yunita : Iya. Oh, yang di Youtube itu? Maaf.. aku kira siapa. Kenapa? Ada apa?
Tepat! Signal bagus!
Wahyu : Oh, nggak apa-apa. Iseng aja. Eh, aku hubungin kamu emangnya gak ada yang marah?
Yunita : Siapa? Aku sendiri, kok!
Sendiri?
Dibuka lebar-lebar mata Wahyu. Dibacanya berulang.
“Maaaaakkkkk! Emaaaakkkk!! Wahyu jadi kawin! Wahyu bakal punya pacaaaarrr!” Wahyu berteriak keras. Emak yang sedang menggoreng ikan asin, meloncat ke dalam. Pikiran buruk membayangi. Takut terjadi sesuatu dengan anak satu-satunya itu. Dirampok, misalnya.
“Kenapa?” tanya Emak sambil mengangkat rok dasternya.
“Wahyu jadi kawin, Mak! Emak bakal punya menantu cantik.”
“Kesambet syetan mana, hah? Jangan ngimpi! Kerja belum, mikir kawin! Siapa yang mau sama pengangguran?” Emak kembali ke dapur. Tercium ikan asin gosong.
Tak dihiraukannya kata Emak. Dia malah membayangkan sosok Yunita.
Benar-benar jodoh. Dia sendiri, aku sendiri, dan kita akan bersama, gumamnya. Wahyu percaya itu.
Percakapan itu terus berlanjut sampai kira-kira jam sepuluh. Eits, jangan percaya signal mendukung mereka! Tadi hanya permulaan saja.
Beberapa kali SMS Wahyu tidak terkirim. Membuatnya jengkel. Uring-uringan tak jelas. Emak yang menyaksikan, terus berkomat-kamit. Mendokan semoga Wahyu baik-baik saja. Lalu normal seperti biasa.
***
Ada waktu sekitar tiga jam buat Wahyu bisa mengakses internet. Maklum, yang masih sisa hanya kuota malam. SMS terakhir tak dibalas Yunita. Jadi, pastinya dia sudah tidur. Dikirim lagi pesan, rasanya tidak mungkin. Kasihan. Dia kan ingin jadi lelaki pengertian.
Sudah dua hari Wahyu belum memiliki ide buat membuat video baru. Melihat grafik pengunjung akun Yunita, sepertinya video nyeleneh dan hot bisa mencuri perhatian.
Okelah, Wahyu harus membuat tema seperti itu.
Mencari ide, tak bisa dengan mata terbuka. Wahyu memang tak biasa mencari ide dengan mata terbuka. Ia harus membayangkan, merasakan dirinya dalam adegan itu. Barulah bisa mendapatkannya.
Ya, meskipun selama ini belum satu pun idenya yang cocok. Selalu saja Asep. Asep lagi, Asep lagi. Ide Wahyu buruk di pandangan Asep. Termasuk di pandangan dirinya sendiri.
Apa menguak misteri suatu tempat saja? Adegan kesurupan lalu ditanya-tanya.
Nggak! ucapnya dalam hati.
Bagaimana kalau cara menyapu halaman dengan cepat? Daun-daun sengaja disimpan, lalu kipas angin akan meniupnya.
Coret!
Tidak cocok.
Bagaimana kalau cara mencari hantu?
Caranya?
Wahyu bingung dengan idenya. Sampai ia lelap.
***
Jam setengah enam, Wahyu menggeliat. Pantatnya diangkat.
Duuuutt!!!
Suara itu panjang dan nyaring. Lalu tangan kanannya didekatkan ke pantat. Tangan kanannya menangkap udara. Kemudian didekatkan ke hidung. Mmm.. haruumm. Lima menit dari suara ponsel tadi, Wahyu masih menguap. Digosoknya mata. Tepat di ujung kelopak, ia tekankan agak kuat, sampai belek kering kecil didapat.
Tak sampai di situ, ia raba kaos oblongnya. Tepat di bagian ketiak, ia cium. Tangannya dimasukkan. Digosok-gosok pelan. Dikeluarkan lalu ditempelkan ke hidung. Harum. Begitu saja bergantian kiri dan kanan.
Hari ini, Wahyu bangun pagi. Bukan karena suara Emak yang menggelegar menyuruh bangun. Toh, selama ini usaha Emak tidak mampu membuatnya bangun. Ini lain. Satu missed call dari Yunita membuat Wahyu segera menggosok mata. Tak ingin kelihatan malas, Wahyu langsung mengirimi Yunita pesan pendek.
Wahyu : Hei, cantik! Udah bangun?
Yunita : Maaf, Kakak. Aku kesiangan. Gara-gara semalam asyik nongkrongin Youtube. Kakak udah bangun? Maaf ya aku ganggu.
Wahyu nyengir. Akhirnya, ada juga yang perhatian.
Nun jauh di sana, Yunita cengar-cengir. Wahyu, si tampan tapi bodoh. Dimana-mana, kalau bisa kirim pesan pasti sudah bangun. Kenapa mesti nanya lagi?
Tapi, abaikan saja, lah! Tak penting juga.
Wahyu : Udah, dong! Malah udah mandi. Kamu sendiri? Maaf telat balas, soalnya lagi bantu Emak di dapur.
Yunita : Belum. Ya udah, aku mandi dulu. Lagipula belum nyiapin sarapan. Udah dulu ya Kak..
Wahyu tak membalas. Kembali ia meringkuk. Ditariknya selimut kucel yang baunya lebih dari seratus rupa. Namun, harum pisang goreng membuat Wahyu mengurungkan niatnya. Segera saja Wahyu beringsut turun.
Wahyu berjalan ogah-ogahan. Kaosnya ia gosokkan ke gigi. Sisa-sisa makanan dan lendir seketika berpindah ke baju. Kuning. Bau. Benar saja. Sepiring pisang goreng hangat yang masih mengepul tersaji di meja. Tanpa cuci muka, mulut dan tangan, pisang sudah berpindah tempat. Nyam.. nyam.. nyam..
***
Hari ini Asep ke rumah. Sengaja datang untuk mendiskusikan video baru. Asep sudah menelepon berkali-kali. Naasnya, sama sekali tak diangkat Wahyu. Percuma di-SMS. Sekadar dibaca, tanpa balasan.
Asep rela menunggu Wahyu lama, asal Wahyu mandi dulu. Tak kuat Asep mencium aroma si Wahyu. Tidak mandi seminggu, siapa tahan?
Sepanjang mandi, Wahyu tak henti berpikir, ia tak bisa menyembunyikan rahasia kedekatannya dengan Yunita. Kepada Asep, Wahyu sangat terbuka. Apapun akan diceritakan tanpa diminta.
Asep yang sudah tahu gara-gara membaca komentar di Youtube, mengangguk-angguk paham sambil tersenyum misteri. Entahlah, kali ini dia akan menjerumuskan atau mendukung.
“Telepon dulu! Dekati dia sampai benar-benar tahu sifatnya. Jangan buru-buru! Nggak bagus buat karir percintaanmu!” ujar Asep ketika baru keluar kamar mandi, Wahyu langsung menceritakan rahasianya. “Pakai baju dulu, sana!” lanjutnya.
Segera saja Wahyu meluncur. Setiap perintah Asep, akan diturutinya tanpa saringan.
“Jadi kamu setuju kalau aku dekati dia?” Wahyu keluar dari kamar. Tangannya masih membenarkan resleting celana.
“Memangnya apa alasanku nggak setuju? Lagipula kan bagus buat video di Youtube. Kali aja viewersnya makin banyak.”
Bukan main senangnya Wahyu mendengar jawaban Asep. Asep pasti tidak akan menyalipnya di kemudian hari.
“Kamu tanya hobinya apa. Warna favorit, makanan favorit, film favorit, dan semua yang bisa dijadikan informasi. Terus kamu cocok-cocokin sama kesukaanmu! Sok tahu sedikit dihalalkan, kok! Asal jangan kelihatan bego!”
Wahyu mengangguk, mengerti.
“Kalau kira-kira sudah cocok, dia sudah paham dan bisa menerima kode-kode kamu, langsung aja ajak ketemuan! Keburu digaet orang, rugi!”
Telinganya mendengar, tapi otaknya membuat konsep apa yang akan dilakukannya ke depan. “Oke. Terkait video bagaimana?”
“Tenang! Aku punya ide bagus.”
“Apa?”
“Bagaimana kalau kita buat video tentang misteri? Hantu-hantuan biar keren.”
“Kamu lagi yang jadi pocongnya.”
“Giliran kamu, dong! Masa iya aku terus? Gimana kalau Yunita jadi takut?”
“Ya, itu derita kamu!” ujar Asep sambil memainkan hp. “Emangnya apa rencana kamu, hah? Sok punya ide, ah!”
“Eits, punya, dong!” jawab Wahyu percaya diri. “Tapi ini mesti malam. Jadi, begini. Kamu pakai baju putih. Dari kejauhan, setengah badanmu kena sinar bulan. Dari lutut ke bawah dibiarkan gelap. Jadi kayak melayang. Kamu maju, dan semakin dekat. Setelah dekat, eh ternyata orang gila. Bukan hantu.”
Asep melongo, tak mengerti.
“Bagus, kan, ideku?”
Asep menggeleng. “Nggak masuk akal!”
***
Sedari sore, Wahyu sudah mempersiapkan mental untuk menelepon Yunita. Ah, Yunita, dari namanya saja sudah cantik. Apalagi orangnya.Berkali-kali Wahyu mencoba. Selalu saja salah. Suara dibesar-besarkan, dimerdu-merdukan, dinormalkan, terus saja tidak cocok. Dari bercermin, sampai direkam, tetap saja tak ada yang dipilih. Pikirannya terus mencari konsep terbaik. Mengembara ke kamus-kamus percintaan.
Hallo? Benar ini dengan Yunita?
Aaahhh, nggak! Terlalu formal.
Hei, Yunita! Apa kabar? Sudah lama nggak ada kabar. Kemana aja, nih?
Coret!
Terlalu agresif. Lagipula kasih kabar kan setiap hari.
Hallo, Yunita? Gimana kabarnya? Senang sekali aku, Wahyu, bisa menghubungi Yunita. Semoga Yunita dalam keadaan sehat tanpa kekurangan satu apapun.
Nggak! Ini kan pembukaan surat!
Hei, what’s up bro! Gue Wahyu dan kita masih di acara pedekate.
Apa ini? Ini pembukaan acara televisi.
Sampai jam menunjukkan angka setengah sembilan. Setengah jam lagi, Yunita pasti tidur. Jangan sampai telat! Pokoknya dia harus bisa menelepon malam ini!
Dengan tangan gemetar, Wahyu menguatkan tekad. Ia harus bisa malam ini! Paket nelepon malam sudah dipersiapkan sedari magrib. Nada sambung masih terdengar jelas. Lagu Menjaga Hati miliknya Yovie n Nuno.
“Hallo?” Wahyu terkesiap. Suara di ujung sana terasa begitu nyaring. Renyah. Membuat hati Wahyu gemetar. Belum apa-apa, hatinya sudah meleleh. Dibayangkannya seorang wanita cantik, berambut panjang, bertutur kata lembut, penyayang dan..
“Hallo? Heeeiii! Masih ada?”
Wahyu terperanjat.
“Iya, hallo? Yunita?”
Yunita terkesiap. Siapa ini? Nomor baru tapi tahu namanya. Suaranya nyaring, lembut, renyah. Indah banget. Dibayangkannya lelaki tinggi, berbadan kekar, berjas rapi, kerja kantoran. “Siapa, ya?”
“Ini Kak Wahyu”
“Oh, Kak Wahyu. Kenapa? Ada apa, Kak?”
“Aku ganggu, gak?”
“Nggak. Yunita belum tidur, kok!”
Pembukaan beres. Sesuai saran Asep dan memang dia orangnya percayaan, maka dia langsung agresif bertanya. “Yun, kamu sukanya makan apa?”
“Bakso, Kak! Kakak sendiri?”
“Aku suka pecel.”
Ya iyalah, pecel kan gratisan.
“Kamu suka warna apa?”
“Biru. Kakak?”
“Kok sama ya?”
“Ah, masa sih?”
“Iya. Oh, ya. Nada sambungnya enak. Lagu siapa?”
“Masa nggak tahu? Itu lagunya Yovie Nuno. Coba deh download. Nggak bakal nyesel! Kakak tahu nggak? Aku tuh suka banget sama Yovie Nuno. Lagunya keren-keren. Romantis pokoknya. Terus musiknya beda dari yang lain. Permainan pianonya Yovie itu bikin aku meleleh. Aaahhh.. pokoknya top top toppppp.”
Kesempatan!
Kata Asep, aku harus pura-pura tahu, asal jangan kelihatan bego. “Yovie itu yang suka pakai baju seragam, kan?”
“Iya. Tapi nggak seragam, deh! Kalau aku lihat bajunya emang bermodel hampir sama. Pakai kemeja sama dasi.”
Wahyu ingat. Ia pernah melihat artis yang dimaksud. Ia yakin, itu pasti artis kesukaan Yunita. “Oh, iya iya. Yang pakai seragam tahun 80-an, kan? Yang dari Bandung. Kalau gak salah, yang nyanyi lagu I Love U Bibeh.”
“Itu cang...”
Tut tut tut...
Ponsel mati.
Wahyu mati kutu. Ia lupa baterainya lemah. Sedari sore dipakai terus buat merekam suaranya yang jelas direkam berapa ratus kali pun tak berubah. Ia kutuk dirinya sendiri. Bodoh!
***
Hari-hari Wahyu berwarna. Apalagi setelah bisa menaklukkan dirinya buat telepon Yunita. Kehadiran Yunita di hidupnya seakan membangkitkan semangat Wahyu. Emak senang melihat perubahan itu.
Wahyu yang jarang mandi, sekarang paling rajin mandi. Sehari bisa lima kali. Wahyu yang jarang gosok gigi, sehari bisa tujuh kali. Pasta gigi ukuran besar habis dalam waktu lima hari.
Tak apa. Emak tak mempermasalahkan pasta gigi dan bayar listrik yang dua kali lipat akibat Wahyu sering menghidupkan pompa air. Bukan masalah. Yang penting Wahyu sehat dan normal seperti dulu.
Bangun jam lima, kadang setengah lima, membuat Emak terheran-heran. Emak memang senang, tapi ada kejanggalan mengenai Wahyu. Pernah beberapa kali Emak coba apa yang menjadi sebab Wahyu berubah. Jawabannya simpel. Hanya, “Wahyu akan kawin”. Itu saja. Mendengar itu, kembali Emak menggeleng kepala. Belum sembuh, ternyata.
Kling!
Jam lima pagi, satu PING masuk.
Wahyu yang belum bangun, segera membuka mata. Risih, merasa dirinya dipantau Yunita. Buru-buru dibukanya BBM. Takut disangka masih tidur.
Wahyu: Kok cuma PING? Sudah bangun?
Yunita: Sudah. Kakak lagi apa?
Wahyu: Nunggu PING kamu.
Yunita: Emoticon senyum.
Wahyu: Yun, kalau boleh Kakak tahu, kamu sibuk apa? Sekolah, kerja, atau...?
Yunita: Aku udah gak sekolah. Paling bikin video aja.
Wahyu: Wah, sama dong! Emang itu hobinya, ya?
Dengan percaya diri, Wahyu tersenyum. Yunita pasti akan senang karena hobinya sama. Yang berarti jalan buat nembak Yunita jadi mudah.
Yunita: Nggak juga. Iseng aja. Lagipula lumayan nambah penghasilan.
Kok?
Wahyu: Ooooohhhhh... kirain hobi. Sama, dong! Cuma kalau aku belum ada duitnya.
Yunita: Lha, katanya hobi? Kok jadi buat nambah penghasilan? Gak sama, dong?
Wahyu gelagapan. Bingung meneruskan. Untung saja Yunita segera mengirim BBM lagi.
Yunita: Ngomong-ngomong, kakak sudah buka link aku? Tonton, dong! Nanti gantian, aku yang nonton punya kakak.
Wahyu tak membalas lagi. Jempolnya segera menuju link Yunita. Waktu sudah larut. Artinya, Wahyu bisa buka Youtube. Pokoknya ia harus menuruti kemauan Yunita. Yunita senang kan nggak rugi. Jalanku akan semakin mulus, ucapnya.
***
Wahyu berusaha membujuk Emak untuk dibelikan pulsa. Sayang, segala cara yang ia lakukan, tak berefek apa-apa. Emak biasa saja. Hidupnya tak terganggu dengan adanya pemogokan Wahyu.
Hari ini Wahyu mogok makan. Bicara diatur. Hanya sesekali, yang penting-penting saja. Komunikasi dengan Emak, hanya dengan uluran tangan. Dari pagi, terus saja seperti itu. Meminta pulsa.
Emak yang sejatinya mesti kasihan, malah tak peduli. Pikir Emak, dia yang lapar, kenapa juga mesti mogok makan? Toh, tidak ada yang menyuruh untuk tidak makan. Lagipula selama ini dia tidak bayar. Jadi buat apa menyiksa perut sendiri?
Kuota benar-benar habis. Kemarin, baru masuk link Yunita, loading-nya na’udzubillah. Lemot. Setelah itu, tak bisa masuk.
Kalau tak bisa melihat apa yang diunggah Yunita, jalannya belum sempurna, begitu kata Wahyu.
Tawaran Asep mengenai pembuatan video teranyar, untuk sekarang ini ditolak. Tidak ada kuota menjadi alasan Wahyu. Padahal idenya yang sekarang sangat bagus. Asep pasti terbengong-bengong.
Tentu saja, karena didapatnya pas lagi nelepon Yunita.
Aahhh Yunita. Kamu sangat menginspirasi.
Mendengar alasan Wahyu, Asep bersedia meminjamkan uang. Diberikannya lembaran lima puluh ribuan dua. Tentu saja Wahyu senang. Segera ia belikan kuota.
Kebiasaan Wahyu, kalau tangannya bertemu ponsel, ujung-ujungnya anteng. Tak peduli mata lelah, tak peduli mata berair, perih, yang penting puas dengan apa yang dia cari. Toh, katanya, dia membuka internet bukan semata mencari hiburan, tetapi proses pembelajaran. Wahyu yang sudah tak tahan ingin menjelajahi video Yunita, segera mencari link tersebut.
Ada beberapa video yang berhasil menarik minat Wahyu. Nyatanya, ia benar-benar tertarik buat melihatnya.
Yang pertama, judulnya TIPS MEMBUAT CIMOL
Melihat judulnya saja, lapar Wahyu semakin menjadi. Namun, berhubung ia sedang mogok makan, ia rela menahannya. Ia akan tunggu Emak tidur. Barulah ia makan. Itu artinya, butuh sekitar sepuluh jam lagi buat Wahyu bebas makan. Tentu saja, sekarang kan baru jam satu siang.
Tepung kanji, garam, air panas. Dicampurkannya semua adonan itu. Lalu diuleni sampai kalis. Barulah dibentuk bulat.
Bukan hanya judulnya yang membuat Wahyu tertarik, namun cara penggorengannya. Ada dua video sebagai perbandingan. Yang pertama, orang di video itu pakai jas hujan, sepatu boat, masker, helm, dan sarung tangan.
Entah darimana posisi si pengambil gambar. Yang pasti, mula-mula kamera didekatkan ke kompor. Apinya sedang. Setelah minyak panas, adonan dimasukkan. Tak lama, orang tersebut siap-siap. Dengan agak takut, dia membulak-balik cimol. Cimol terus mengembang sampai muncrat. Satu-dua, mengembang, pecah. Cimol terbang, entah kemana. Minyak panas muncrat. Terus saja seperti itu sampai tak ada sisa cimol di wajan.
Lalu muncul tulisan. SALAH!
Video kedua, adonan dimasukkan ke dalam wajan yang berisi minyak dingin. Wanita yang berpenampilan biasa-maksudnya tanpa helm dan jas hujan-menyalakan kompor dengan api kecil. Membolak-balik terus sampai mengembang dan agak keras hingga cimolnya tak menyusut.
Lalu muncul tulisan, BENAR!
Wahyu tertawa. Benar-benar lucu. Video berdurasi tiga menit itu mampu membuat Wahyu terpukau.
Video kedua, berjudul TIPS MENGAJAK MAIN ANAK MURAH.
Alis Wahyu agak mengerut. Aneh. Tapi, ia harus melihat itu. Justru yang aneh bikin penasaran. Lagipula viewers-nya banyak.
Klik.
Iklan muncul. Dikliknya tanda close.
Di video tersebut, seorang wanita-mungkin Yunita-menyiapkan sarung. Sarung dimasukkan ke badan. Lalu terlentang dengan kaki ditekankan ke ujung sarung. Sementara ujung satunya lagi dikaitkan ke leher. Selanjutnya seorang anak kecil naik ke kaki. Tepatnya seperti adegan sit-up.
Lagi, Wahyu tertawa. Benar-benar kreatif.
Video selanjutnya, CADAR PLUS-PLUS.
Melihat kata plus-plus, Wahyu makin tertarik. Bahkan pikirannya sudah dipenuhi hal-hal kotor.
Klik.
Lagi, ada iklan. Segera saja diklik bagian keluarnya.
Masih bahan yang sama, sarung.
Sarung?
Mau apa?
Seorang wanita membeberkan sarung. Salah satu sisinya-bagian yang bisa dibuka, tapi jangan dibuka-ditalikan dari kening ke belakang. Lalu, bagian bawahnya-sisi yang bisa dibuka-ditarik. Dibuka terus sampai posisi si wanita di dalam sarung. Si wanita menghentikan penarikan ketika mata sudah bisa melihat dengan jelas.
Selesai.
Asep tertawa. Mirip ninja, katanya. Meski hatinya agak dongkol video itu meleset dari perkiraannya. Dikira Wahyu hal-hal berbau dewasa.
***
Dua panggilan tak terjawab dari Asep. Sengaja tak Wahyu hiraukan. Dia harus fokus ke Yunita. Dipikir-pikir, rasanya tak enak juga menghiraukan Asep. Bagaimanapun, dia partnernya. Sahabat terbaik yang Wahyu miliki.
Pas. Handphone berdering kembali.
“Apa?” tanya Wahyu asal. Tak bersemangat.
“Nggak jadi. Lupa mau ngomong apa,” jawab Asep kesal.
“Jangan gitu, dong! Sorry deh tadi gak diangkat. Soalnya lagi bantu Emak.”
“Alesan! Sejak kapan kamu tobat?”
“Sejak kenalan sama Yunita.”
“Alah! Ngomong aja males ngangkat!”
“Iya, deh, sorry! Kenapa? Ada apa?”
“Nggak ada apa-apa. Cuma mau bilang, gimana video kita? Mau bikin lagi nggak?”
“Duh, tanpa mengurangi rasa hormat, kayaknya buat sementara ditunda dulu, deh! Aku mau fokus ke Yunita dulu. Sayang juga kan, capek-capek pedekate, ujungnya gak jadi?”
“Emang responnya baik?”
“Jelasssssss!!!” ucap Wahyu semangat. “Eh, nanti bantuin, ya!”
“Eh, dodol! Kenapa jadi aku? Lagipula aku minjemin uang dengan pertimbangan bikin lagi video. Lha, kenyataannya?”
“Ya ampun, sama teman aja perhitungan! Udah, bantu aja! Pleassssseee!!! Kita kan teman.”
Asep gemas. Tapi tak bisa berkutik. “Ajak ketemuan aja! Telepon! Udah ditelepon kan?”
“Udah, dong! Sukses.”
“Nah itu udah ngasih kode. Langsung gaet! Tahu kan apa kesukaannya?”
“Tahu. Ah, tapi bingung, ah! Gimana kalau dia nolak? Rada takut juga!”
“Resiko. Laki-laki kan harus berani.”
“Ya udah. Aku coba pikirkan lagi, ya!”
Asep mendelik. Sok mikir! Selama ini idenya kan buruk! Dasar!
***
PING!
Wahyu mencoba mengetes Yunita.
Apa?
Satu BBM diterima.
Wahyu: Kalau ketemuan, mau gak?
Yunita: Kapan?
Wahyu: Maunya?
Yunita: Malu, ah! Yunita kan gak cantik.
Wahyu: ketemuan bukan karena kecantikan. Cuma mau ketemu aja. Kayak gini terus kan gak enak.
Yunita: pikir-pikir dulu, ya!
Wahyu: Mau aja, lah!
Yunita belum membaca.
Wahyu: PING!
Masih tak ada.
Wahyu: PING!
Yunita: Ya udah, mau.
Wahyu: Asli?
Yunita: emoticon jempol.
Wahyu bersorak. Gembira bukan main.
Yeeeaaaa... aku punya pacar!!!
Other Stories
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...
Aku Bukan Pilihan
Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...
Hanya Ibu
Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...
Luka
LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...
Menolak Jatuh Cinta
Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...
After Meet You
kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...