Youtube In Love

Reads
525
Votes
0
Parts
7
Vote
Report
Penulis Titin Patimah

Chapter 4

Kalau mau pecel gratis, datang ke rumah! Sekarang!
Begitu isi SMS Wahyu. Bukan tawaran gratis pastinya. Cuma basa-basi karena dia akan meminta bantuan. Asep yang tahu apa maksudnya-karena tidak biasa-segera meluncur ke rumah Wahyu.
Emak menyambut ramah. Emak senang jika Wahyu bergaul dengan Asep. Pemuda baik itu sempurna di mata Emak. Selain berpenampilan rapi, tutur kata sopan, pastinya waras. Tidak seperti Wahyu yang konyol dan aneh.
Sudah ada sepiring pecel di meja. Asep yang sudah dipersilakan Emak, segera mengambil piring. Seketika saja, sendok berpindah ke..
“Stop!” Wahyu menghentikan tangan Asep yang sudah di depan mulut. “Tidak ada yang gratis!”
Asep tak peduli. Dimakannya dengan lahap. “Ye.. tahu, kan, nggak ada pecel gratis?”
“Coba deh buka lagi SMS-nya!”
“Kan cuma jebakan!”
“Ya udah sih, gampang! Tinggal bayar! Cuma lima ribu perak aja sewot!”
Wahyu mendekat. Lima langkah lagi, tangan Asep memberi aba-aba buat berhenti. Lalu tangannya mengibas sedikit. Pertanda bahwa Wahyu harus mandi dulu.
Bibir Wahyu monyong. Enak saja. Dia kan sudah mandi.
Panjang lebar Wahyu ceritakan kalau dia jadi rajin mandi. Gosok gigi tujuh kali sehari. Mandi lima kali sehari. Teleponan dengan Yunita setiap malam. BBM-an setiap jam.
ahyu duduk. Dilahapnya pisang goreng yang disuguhkan Emak kepada Asep.
“Sep, pinjam duit, lah! Dua ratuuuuusss aja!”
Asep tersedak. Nyaris muncrat pecel di mulutnya.
Eh, enggak ding. Ini kan bukan sinetron. Asep biasa-biasa. Tidak kaget, tidak panik. Asep mendelik. “Kere, sok-sok-an ketemuan!”
“Please! Kamu yang nyuruh ketemu. Kenapa jadi begini? Mana janji kamu buat bantu?”
“Tapi tidak untuk itu, Yu! Kamu kan tahu kalau aku...”
“Sama-sama kere?”
“Enak aja! Duitku banyak!” ucapnya seraya menunjukkan isi dompet. Ada lembaran seratus ribuan sepuluh.
“Tuh, kan, dua ratus nggak banyak.”
Asep mengendikkan bahu.
“Sep... please!!!”
“Hmmm?”
“Ya?”
Sekali lagi mengendikkan bahu.
“Ya udah, mana bajunya?”
“Nggak ada.”
“Masa nggak punya baju?”
“Soalnya Yunita suka lelaki yang pakai jeans, sepatu boats, kacamata hitam, jaket kulit, rambut merah-gondrong,” keluh Wahyu. “Dari semua itu, aku cuma punya rambut gondrong. Tiga bulan belum dicukur.”
“Celana sama kaos nggak ada?”
Wahyu mikir. “Ada.. ada.”
Sejenak, Wahyu ke kamar. Diambilnya celana jenas yang masih baru. Lalu ditunjukkan ke Asep.
Asep yang tahu stelan seperti itu langsung menggeleng. Tidak cocok, katanya.
Segera saja ia ambil cutter. Dikerik-kerik, sampai beberapa bagian bolong.
Pas!
Setelah beres, mereka ke rumah Asep. Kenapa ke rumah Asep? Karena ada barang-barang milik kakaknya yang sekarang sudah pindah. Barangnya tidak terlalu jelek. Lumayan. Sekalian saja biar tempatnya agak kosong. Toh selama ini kan tak terpakai. Kakak malah nyuruh buat dibuang.
***
Semalam, Wahyu menelepon Yunita. Mengutarakan bahwa dirinya tak sabar. Alangkah bahagianya Wahyu ketika respon yang diterimanya positif. Katanya, Yunita pun tak sabar ingin bertemu.
Semalaman Wahyu tak bisa tidur. Entah kenapa, bayangan kecantikan Yunita begitu dominan di kepalanya. Rambutnya yang panjang terurai, suaranya yang renyah dan nyaring, kelembutan tutur katanya, dan...
Emak menggedor pintu. Tidak biasanya sesiang itu masih di kamar. Wahyu tersentak. Diliriknya jam. Pukul tujuh. Pasti ketiduran menjelang subuh. Wahyu segera meloncat ke kamar mandi. Bersiul-siul, berteriak, bernyanyi. Entah lagu apa. Liriknya tak jelas.
Emak tahu, Wahyu sedang bahagia. Emak juga tahu, bahagianya level seratus. Emak biarkan, asal Wahyu sehat sentosa. Dibalut handuk setengah badan, Wahyu meluncur ke kamar. Tak peduli Emak yang ditubruk. Sayurannya berserakan.
Handphone berdering. Satu pesan.
“Jam delapan kan? Aku ke sana sekarang, ya!”
“Oke,” balas Wahyu cepat.
Setengah delapan lebih sepuluh. Melihat situasi tidak memungkinkan buat sarapan, Wahyu segera keluar. Tentunya setelah memastikan siap.
Waktu memang tak bisa ditebak. Nyatanya, angkot yang seharusnya sampai jam delapan lebih seperempat, syukur-syukur kurang, malah molor. Jarak sepuluh meter, suara penanda kereta akan datang telah berbunyi. Penghalang rel bergerak turun. Menghadang para pengguna jalan agar nyawa mereka terselamatkan.
Angkot diam di barisan paling depan. Tidak terlalu depan, bersisa jarak satu meter lebih. Dari pinggir, sebuah motor menyalip. Cepat, dia sudah nyaman di posisi paling depan. Angkot menjadi barisan kedua. Lalu motor-motor lain ikut berjajar.
Lima, enam, hingga belasan. Suara penanda kereta masih berbunyi. Lama. Sementara kereta belum lewat. Seorang anak kecil memangku dagu di jok sebelah supir. Dipangku Mamanya, wajahnya hampir mengenai kaca depan, saking antusias menunggu kereta. Lima detik kemudian, dari sebelah kiri, sebuah kereta melintas. Bergemuruh. Semua mata tertuju.
Satu, dua, tiga hingga gerbong paling belakang. Hanya beberapa gerbong yang terisi. Sekilas, seorang wanita muda tampak tertidur. Anak kecil paling depan bersorak kegirangan. Berceloteh panjang lebar, menjelaskan apa yang baru dilihatnya. Mamanya tersenyum bangga. Tingkah bocah tiga tahun itu menggemaskan yang melihat. Lucu.
Palang pintu kereta bergerak naik. Mesin motor dan angkot berderu, berebut ingin lebih dulu. Selap-selip di padatnya jalan. Sementara angkot bersabar, bergerak maju perlahan, sebab motor-motor di belakang masih menyalip.
“Dimana? Masih lama?”
Yunita mengirim SMS. Wahyu tak membalas.
“Dimana, sih?”
“Sebentar lagi. Sabar. Macet.”
“Kamu pakai baju apa?”
“Kaos hitam, kacamata. Kamu?”
Terbang khayalan Yunita. Pas. Kacamata. Cocok. Selama ini dia suka lelaki berkacamata. Termasuk sangat suka Dikta, vokalis Yovie Nuno yang berkacamata itu.
“Aku pakai kemeja ungu, celana jeans hitam, tas punggung hitam. Duduk di bawah beringin.”
Dari kejauhan, Wahyu bisa mendeteksi orang yang terpaut lima meter di hadapannya. Kemeja ungu, jeans hitam, tas punggung hitam, dan..
“Yunita?” tanya Wahyu tiba-tiba.
Spontan, wanita itu menoleh.
Dalam adegan slow motion, tatapan mereka beradu. Mata Yunita dibuka lebar-lebar. Seakan satu inci pun tak boleh dilewatkan. Dia harus mengamati lelaki itu. Benar-benar kejutan. Selama ini, Yunita pikir, Wahyu adalah lelaki berotot, tampan, rapi. Nyatanya dugaannya meleset. Yang datang malah rock n roll.
“Maaf, bukan.” Wanita itu pergi, meninggalkan Wahyu sendiri.
Wahyu manyun. Lalu mengirim pesan. Lama. Tak ada balasan. Setengah jam berlalu. Rasa iba menyeruak. Jauh-jauh, tak ditemui. Akhirnya, keluarlah dari persembunyiannya.
“Aku di belakang.”
Satu pesan masuk. Wahyu segera menoleh.
Mata Wahyu terbelalak. Agak melotot.
“Jadi kamu Kak Wahyu?” satu pertanyaan Yunita meluncur tanpa bisa dicegah. “Bagaimana penampilanku? Sudah miripkah dengan Yovie Nuno?”
Yunita tertohok. Satu pertanyaan tajam.
Yunita tersenyum, tak bisa menjawab. Dilihatnya Wahyu dari ujung rambut yang dicat merah, turun ke wajah, jaket, kaos, celana, rantai, sepatu, dan topi koboi yang dipegang.
Sehatkah? tanya Yunita dalam hati. Sejak kapan Yovie Nuno bergaya seperti ini?
“Seperti yang kamu mau,” lanjutnya.
Yunita mencoba mengingat kejadian lampau. Dia ingat, saat Wahyu bertanya bahwa Yovie yang pakai kacamata hitam, ponsel mati. Ini pasti miss komunikasi. Tapi ya sudahlah, fisik bukan untuk dinilai secara utuh.
Wahyu mengakrabkan diri. Gayanya benar-benar dibuat-buat. Jauh dengan di telepon. Kali ini agak cool.
Di tengah obrolan, Wahyu merasakan sesuatu menerjang-nerjang dubur. Gas akan keluar. Namun, ditahannya kuat-kuat. Berusaha tidak bergerak. Sedikit saja posisinya berubah, kemungkinan gas itu akan keluar. Segera Wahyu cari akal.
“Makan, yuk! Di depan ada seblak. Mau?”
Yunita mengangguk. Legalah hati Wahyu. Syukur. Setidaknya kalau angin itu keluar, anginnya terbang, tertiup angin. Jadi Yunita tidak akan mencium.
***
Yunita agak kikuk. Beberapa pasang mata serasa memandang mereka aneh. Mungkin karena penampilan Wahyu yang sudah tak bisa dijelaskan lagi. Seperti preman. Bisa jadi mereka kira bahwa Yunita membawa bodyguard.
Melihat parasnya yang cantik, Wahyu bertekad mesti jadi satu-satunya lelaki yang berada di hatinya. Akan dimanfaatkannya momen ini buat menunjukkan keperkasaannya. Meski dia sadar kalau pacar cantik berarti bakal banyak saingan.
Dipesanlah dua seblak komplit. Wahyu meminta pedasnya level lima, sedangkan Yunita hanya level satu.
“Pedas?” tanya Yunita ketika Wahyu berkali-kali mengusap hidung. Keringat dan ingusnya tak kunjung mengering, juga wajahnya yang memerah.
Wahyu yang tidak ingin terlihat remeh, menggeleng. “Biasanya level sepuluh,” jawab Wahyu santai. Padahal baru kali ini ia makan seblak pedas level lima.
Yunita menggeleng. Tak sangka lelaki di hadapannya kurang mahir berakting. Sudah bisa ditebak lemah, masih saja sok kuat. Sayangnya, gelengan kepala itu dipercaya Wahyu sebagai kekaguman. Maka, semakin lahaplah Wahyu menghabiskan.
Taktik Wahyu ternyata salah sasaran. Niat gaya, jadi musibah. Lupa bahwa tadi dia ingin buang gas. Sekarang, keinginan itu malah menjadi. Apalagi didorong rasa pedas yang sangat amat.
Maka, jadilah Wahyu buru-buru mengajak Yunita pulang. Eits, bukan sekadar mengajak. Hanya mengajak sampai depan angkot. Alasannya sih takut hujan. Padahal gak bawa kendaraan. Masa iya nganter pake angkot? Malu, dong! Pikir Wahyu. Meski sebenarnya alasan sesungguhnya adalah ingin cepat pulang, buang gas dan BAB. Itu saja.
Yunita yang sudah tahu, mengangguk mengiyakan. Yunita naik angkot. Wahyu meninggalkannya sendiri. Eits, tapi Yunita turun lagi. Dibuntutinya Wahyu. Merasa sudah bebas, dibuanglah gas yang selama ini ditahan. Mumpung sendiri.
Duuuuutttt!!!
Besar. Nyaring.
Yunita melotot tak percaya. Sejorok itukah?
Tapi dihentikannya pengintaian itu sebab Wahyu naik angkot.
***
Diciumnya tangan Emak takdzim. Basa-basi, Asep dipersilakan masuk. Penasaran anaknya terjangkit penyakit apa, jadilah Asep ditanya-tanya. Sengaja Asep datang. Emak memintanya datang hari ini, mumpung si Wahyu sedang keluar. Ada yang mesti dikonsultasikan.
“Iya, Mak. Jadi si Wahyu itu sedang janjian. Namanya Yunita. Kenalnya di hape.”
Emak mengangguk, mengerti dengan ucapan Wahyu akhir-akhir ini.
“Punya duit darimana dia?”
“Pinjam dari saya, Mak. Dua ratus. Terus buat modal teleponan sama pendekatannya pinjam seratus. Jadi totalnya tiga ratus.”
Emak sodorkan uang tiga ratus ribu. “Emak bayar. Tak apa duit segini keluar. Yang penting Wahyu sehat sentosa kayak dulu. Emak takut kalau anak itu..” Emak menjeda. Lalu bergidik sambil beristighfar. “Sebelum dia lahir, Emak sudah sangat berharap anak Emak jadi anak soleh, pinter sama tampan. Nyatanya ya seperti itu. kerjaananya nontonin hape. Kalau nggak teleponan nggak jelas. Lalu tidur, makan, hape lagi. Pusing Emak lihatnya.”
Asep tersenyum. Menahan tertawa kuat-kuat. Dia ingat ketika Wahyu menceritakan proses kelahirannya. Emak yang terobsesi Wahyu brojol langsung mengucap salam, kandas. Wahyu cuma bisa nangis.
“Ya, Asep paham. Ibu mana yang tidak khawatir sama anaknya. Cuma, perlu Emak ketahui bahwa selama ini Wahyu sama Asep itu belajar cari uang dari youtube. Bikin-bikin video, mudah-mudahan ada yang pasang iklan. Uangnya kan lumayan buat jajan.”
“Oh, jadi kata si Wahyu itu bener?”
Asep mengangguk. “Cuma gara-gara video itu Wahyu dapat teguran.”
“Emak sudah tahu.”
Dari kejauhan, Wahyu tergopoh-gopoh. Sebelah sepatunya dijinjing. Baru selangkah masuk, sepatu, jaket, kacamata, topi, dilemparnya sembarangan. Meluncurlah ia ke kamar mandi.
Emak dan Asep bengong. Bingung.
“Sukses?” tanya Asep ketika Wahyu mengusap-usap perut, keluar dari kamar mandi.
Jempol tangan kanan Wahyu diacungkan sambil duduk di sebelah Asep. “Pokoknya kalian nggak bakal nyangka. Ummm.. cantiknya luar biasa. Luar dalam. Keramahannya, kesopanannya, kelembutan hatinya, suaranya, badannya, dan segalanya. Aku banget. Aku gak bakal nyesel. Emak akan heran melihat anaknya pintar memilih jodoh. Dan buat kamu, Sep, kamu bakal terpesona. Jatuh cinta pada pandangan pertama. Awas aja kalau sampai jatuh cinta beneran. Kartu as mu sudah di tangan. Akan kuadukan ke pacarmu yang bawel itu.”
Dengan panjang lebar, Wahyu menceritakan pengalaman pertamanya. Sesekali Emak dan Asep tertawa, apalagi ketika Wahyu menahan kentut.
“Kalau Yunita tahu kamu jarang mandi, kayaknya bakal mundur, deh!” ucap Emak sembari tersenyum.
“Tenang! Selama Emak sama Asep nggak ngasih tahu, semua pasti aman.”
“Siapa tahu, kan, dia sadap kamu?”
“Emangnya orang penting, hah, pakai sadap-sadapan segala?”
“Ya kali aja! Kamu kan bakal jadi orang penting di hatinya.”
“Amin,” Wahyu menyambar.
“Tapi Yunita gak kaget dengan penampilan kamu?”
“Awalnya sih kayaknya kaget. Cuma lama-lama biasa aja.”
“Kaget. Kok, ondel-ondel nyasar?” Asep tertawa bersama Emak.
“Iya, kayak preman. Emak gak suka. Emak sukanya yang biasa-biasa aja.”
“Itu kan kesukaan Yunita, Mak. Wahyu cuma berusaha menyenangkan saja. kali aja dia tertarik sama Wahyu.”
“Hidup itu jangan dibuat-buat, Yu! Biasa aja! Ujung-ujungnya repot sendiri. Besok-besok, kalau kamu ngajak ketemuan lagi, bajunya yang mana? Masa iya yang itu lagi?”
“Hayo? Yang mana? Aku gak ada stok, lho! Aku kan bukan toko baju.”
Wahyu diam, menerawang masa depan. “Iya, ya? Ah, sudahlah! Pokoknya lihat saja nanti!”
“Mak, itu ada yang mau beli!” ujar Asep melirik ke pintu. Ada seorang wanita yang memanggil Emak. Emak berlalu. Asep sibuk menginterogasi Wahyu.

Other Stories
Hellend ( Noni Belanda )

Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...

The Unkindled Of The Broken Soil

Tak semua yang berjalan memiliki tujuan. Tak semua yang diam itu hampa. Dan tak semua ki ...

Rahasia Ikal

Ikal, bocah yang lahir dari sebuah keluarga nelayan miskin di pesisir Pulau Bangka. Ia tin ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Mewarnai

ini adalah contoh uplot buku ...

Luka

LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...

Download Titik & Koma