Chapter 6
Asep melihat kontak teman-teman sekolahnya dulu. Dari sekian banyak nomor, ada sepuluh yang terpilih.
“Hei, mau tanya dong! Di daerah kamu ada yang namanya Yunita gak? Orangnya gak terlalu tinggi, hitam manis.”
Klik. Sepuluh pesan terkirim.
Sepuluh menit berlalu. Tak ada balasan.
Asep pergi. Perutnya keroncongan. Ia ingat, dari pagi belum makan. Cuma makan pecel saja tadi siang.
Handphone disimpan di meja. Sementara Asep sibuk melahap nasi.
Kling!
Satu pesan diterima.
Kling!
Kling!
Kling!
Asep yang refleks mendengar bunyi, menghentikan pergerakan tangan yang siap memasukkan sendok ke mulut. Dilihat dulu siapa yang kirim pesan.
Orang pertama: “Nggak.”
Orang kedua: SMS kosong.
Orang ketiga, “Nggak.”
Keempat, “Nggak.”
Kelima, “Iya, ada. Kenapa? Ke sini aja! Sekalian main.”
“Oke,” jawab Asep.
Kling!
Satu pesan lagi masuk.
“Iya, ada. Kenapa? Ngincer ya?”
Lho? Asep melongo.
Oke, oke. Bisa jadi alternatif kedua.
Kling!
Satu pesan masuk.
“Ada.. ada.”
Asep mengangguk-angguk. Dia harus memastikan. Awas kamu Yunita! Enak saja membuat patah hati orang seenaknya! Tunggu tanggal mainnya!
***
Hari ini, hari pertama masuk kampus setelah libur panjang kemarin. Semester lima.
Sayangnya Wahyu tak datang. Karena itu Asep ke rumah Wahyu. Memastikan tak terjadi apa-apa dengan Wahyu. “Kenapa lagi?”
“Galau.”
“Aduh, Yu! Kamu jangan kayak anak kecil, dong! Perempuan kan bukan cuma Yunita. Masih banyak.”
“Tapi aku maunya sama dia. Aku jatuh cinta.”
Wahyu melongo. Lalu tertawa. “Oh, jadi temanku ini jatuh cinta, toh?”
“Ya tinggal cari! Kejar! Hubungi dia! Jangan diam! masalah tuh janga diperpanjang kayak STNK!”
Wahyu tertawa. Bisa juga Asep membuatnya tersenyum.
“Bersyukurlah, Yu, kamu begini. Jadi hidupmu nggak lurus kayak penggaris.”
Sekali lagi Wahyu tersenyum. Benar keputusannya kali ini. Mengundang Asep bisa mengobati hatinya yang sedang galau. “Kalau mau ikut, kita cari sama-sama. Kata teman SMP-ku, dia kenal Yunita. Cuma aku belum ke sana. Baru info dari SMS.”
“Mau! Mau!” Wahyu bersemangat.
“Besok.”
Wahyu mengangguk. Harapannya melambung tinggi.
***
Asep datang ke rumah Wahyu tepat jam delapan. Perkiraan Asep akan waktunya yang molor, ternyata meleset. Wahyu sudah rapi. Sebelumnya, Asep berbincang-bincang dengan Emak, meminta izin. Emak yang sudah percaya dengan Asep, mengangguk mengizinkan.
Wahyu pamitan. Emak yang sudah tahu pura-pura saja tidak tahu. Biar disangka Asep tidak mengganggu privasinya. Emak kan sayang Wahyu. Begitu-begitu dia juga anak Emak. Meski beberapa kali Emak bilang dia produk gagal. Emak cuma bercanda.
“Mak, aku pergi dulu,” ucapnya sambil mencium punggung tangan Emak.
Emak mengangguk sekilas. Sibuk melayani pembeli.
Tak butuh waktu lama buat mereka sampai. Jam sembilan mereka sudah sampai di rumah temannya itu.
“Wah, mesti nunggu siang! Terlalu pagi, sih! Dia, kan, sekolah!”
“Jam berapa dia pulang?”
“Jam satu kayaknya.”
Lama tanpa aktifitas, Asep dan Wahyu memilih pergi. Jalan-jalan sebentar mencari angin. Lagipula temannya itu sedang mengerjakan skripsi. Bagaimanapun, kedatangan mereka pasti mengganggu konsentrasinya.
Jam satu lebih mereka datang kembali.
Bermaksud buru-buru, motor Asep malah terhalang kerumunan siswa. Gang sempit yang mesti mereka lewati penuh sesak oleh siswa-siswa SD yang baru pulang.
Terpaksa mereka merayap. Percuma diklakson. “Bagaimana? Sudah pulang?” tanya Asep tak sabar ketika mereka sudah sampai.
“Sudah. Memangnya tadi nggak liat?”
“Yang mana? Tadi cuma lihat anak SD.”
“Iya, itu. Yang rambutnya keriting. Yang paling tinggi.”
Ha?
Asep dan Wahyu melongo.
Asep mengeluarkan handphone.
“Jadi bukan yang ini?”
“Oh, kalau ini aku nggak tahu.”
Aduh, Emaaaakkkkk!
Tahu begitu sudah dari tadi pergi. Ngapain juga mereka di sana kalau orangnya bukan itu?
Langsung saja mereka permisi.
***
Dari rumah itu, mereka meluncur ke rumah Andri. Entahlah siapa. Wahyu tidak tahu.
Kali ini perjalanan mereka menuju ke perkampungan. Jaraknya paling jauh. Tidak apa-apa. Mending yang jauh dulu, kata Asep. Yang dekat bisa sambil pulang. Orang yang dimaksud sedang menyapu ketika mereka sampai. Suasana kampung sangat terasa. Ayam berkeliaran sebebasnya.
Rumah Andri tidak dipagar. Hanya separuhnya saja bagian yang menutupi tanaman-tanamannya. Katanya, kalau tidak dipagar, tanamannya habis dipatuk ayam. Andri menyuruh mereka buat menunggu di dalam. Andri akan menyiram dulu tanaman-tanamannya. Namun mereka menolak. Sekalian mau lihat Andri.
“Kamu hebat, Dri! Kerja jalan, kerjaan rumah beres!” puji Asep.
“Gimana lagi? Tuntutan. Aku kan tinggal sendiri. Gak ada yang ngurus.”
“Memangnya orang tua kemana?” tanya Wahyu menimpal.
“Orang tua di Cilacap. Aslinya kan dari Jawa. Di sini cuma ngontrak.”
“Kerja?”
“Iya.”
“Ini apa namanya?” tanya Wahyu menunju pada tanaman yang terpendek. Sepertinya baru ditanam.
Wahyu jongkok, mengamati. Meraba-raba daunnya.
Jauh dari kesadarannya, celana panjang dan kausnya yang tidak terlalu panjang seolah memberikan kesempatan buat bokongnya melongok dunia.
“Oh, itu yang buat bikin cingcau. Obat panas dalam.”
“Kalau ini?”
“Itu daun salam. Buat masak.”
“Ini pasti pandan wangi?”
Andri mengangguk. Dari kejauhan, ayam-ayam yang bekeliaran bergerak maju ke arah mereka. Mematuk-matuk jalan barangkali dapat makanan.
Satu ayam jago tinggi besar maju.
Tuk! Bokong Wahyu dipatuk.
Wahyu kaget luar biasa. Dirabanya bokong sambil diusap-usap. Sumpah serapah meluncur begitu saja. Asep dan Andri tertawa. Ayam pergi. “Kenapa, Yu?” tanya Asep yang tak henti tertawa.
“Ayam sialan! Matuk tahi lalat.”
“Sini aku lihat!”
Lagi, Asep tertawa. Satu tahi lalat hitam agak besar terpampang nyata. “Disangka makanan kali, ya?”
Tawa mereka pecah. Untung saja sakitnya cepat hilang. “Ngomong-ngomong, mana yang namanya Yunita?” tanya Asep mengalihkan pembicaraan.
“Oh, ya. Kalian tengok saja ke rumahnya. Lurus, belok kiri, pas di belokan ada rumah cat pink. Itu rumahnya.”
“Hati-hati!” ujar Andri begitu mereka pergi. Asep dan Wahyu berbalik badan.
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa. Hati-hati aja! Takutnya dipatuk ayam lagi.”
Mereka tertawa.
***
“Mana, Yu? Gak ada.”
“Tanya Andri, dong! Telepon!”
“Hush! Ketahuan nanti!”
“Cat pink belokan, kan? Itu pasti. Tapi nggak ada. Bukan kali, ya?”
“Atau bisa jadi lagi keluar.”
Asep dan Wahyu sengaja berjalan lambat. Sesekali mereka tanyakan rumah Wahyu. Sekadar menghilangkan jejak bahwa mereka sedang mengintai rumah Yunita. Alamat yang dicari tidak diketahui orang sana. Tentu saja tidak akan ada. Wahyu kan bukan orang sana.
“Yun, nih anakmu ngompol!”
Mendengar kata Yun, Asep dan Wahyu sumringah. Saling pandang, karena sudah pasti Yunita. Siapa lagi.
Sebentar! Anak?
Oh, pasti salah. Yunita kan masih gadis. Masa iya punya anak?
“Yunitaaa!!!” teriaknya keras, menggelegar. “Anakmu ngompol! Bawa pulang, nih!” teriak seorang ibu-ibu sekali lagi.
Buru-buru seorang wanita sekitar umur tiga puluh tahunan menghampiri. Direngkuhnya anak kecil itu.
“Jadi, itu Yunita?” tanya Asep.
“Oke. Kita pulang!”
Asep dan Wahyu berjalan terburu. Pulang, tujuan mereka.
“Kok, cepat? Ada?” tanya Andri yang masih melihat-lihat tanaman.
“Ibu anak satu, kan?”
Andri mengangguk.
“Oh, jadi bukan yang ini?” Asep menunjukkan foto Yunita yang dimaksud. Huh, syukurlah Wahyu pernah menyimpan foto Yunita. Setidaknya bisa jadi petunjuk.
Andri menggeleng.
“Kita salah orang.”
“Oh, kirain yang itu. Sorry!”
“Nggak apa-apa. Kita pulang dulu, ya!”
“Jangan kapok ke sini lagi.”
Satu jempol menjadi jawaban.
***
Malam penuh bintang gemintang. Adakah pertanda aku akan bahagia? Adakah pertanda akan mendapat cinta sejati? Gumam Wahyu di bangku depan rumah.
Emak yang akan menyuruh Wahyu makan tak mendapatinya di ruang televisi. Dicarinya ke kamar. Sama, tak ada. Lalu Emak mencoba keluar, barangkali di sana. Ya. Wahyu di sana. Melihat gemintang yang berkilauan dengan wajah sendu.
Belum sembuhkah dia?
Emak mendekat. Mencoba mendekatkan diri dengan anak semata wayangnya itu. Bagaimana pun, Emak ingin jadi wadah bagi anaknya. Tempat berkeluh kesah, tempat mencurahkan segala resah.
“Kenapa, Yu? Ada masalah?” Emak pura-pura tidak tahu. Berharap anaknya akan terbuka.
“Kalau ada masalah, coba berbagilah! Kayak sama siapa aja,” tegur Emak lanjut.
Wahyu diam. Menimang keraguan. Haruskah ia bagi kesedihannya? Atau biarkan Emak menerka sendiri? Atau haruskah pura-pura bahagia demi Emak bahagia?
Wahyu terus menatap ke depan dengan tatapan kosong.
“Yu?” tanya Emak mengagetkan.
Wahyu terperanjat. Tersenyum. “Nggak papa, Mak! Wahyu cuma ingin sendiri.”
“Tapi jangan lupa makan. Emak sudah masak pepes ikan pakai daun kemangi banyak.”
Wahyu mengangguk. Emak pergi.
Ada kekhawatiran di dirinya. Entah kenapa, kesedihan yang dirasa Wahyu seakan tembus ke hati Emak. Menohok tajam. Membuat tak enak perasaan.
Semoga hidupmu bahagia, ucap Emak dalam hati.
Kling!
Satu pesan diterima. Asep.
Asep: Jadi?
Wahyu: Ya.
***
Kemungkinan besar, esok adalah penentuan. Yunita. Esok tanggal mainmu. Kalau sampai esok kutemui, awas saja! Seandainya tanpa alasan jelas, takkan kumaafkan!
Hati Wahyu terus berkicau. Menceracau tak jelas. Ada rasa rindu, juga kesal.
Aku harus siap. Bagaimanapun, aku harus memperjuangkannya. Setidaknya kalau ada yang bertanya, aku pernah berjuang. Sebagai lelaki, memang sudah kewajiban mengejar yang sudah menjadi hakku. Aku tak mau selamanya tertindas. Enak saja digantungkan sesuka hati. Mentang-mentang aku kurang ganteng, hah? Aahhh... pokoknya aku mesti menuntut jawaban. Ya atau tidak.
Aku memang tak boleh lari. Kalau tidak, resah ini pasti menghantui. Padahal aku sudah berjanji bahwa aku akan menjaga cinta siapapun yang datang mengetuk pintu hatiku. Lagipula, aku pernah mendengar sebuah lagu bahwa terlanjur basah ya sudah mandi sekalian.
***
Pagi-pagi Wahyu sudah mandi. Asep datang, Wahyu sudah siap di depan. Jadilah tidak perlu menunggu lama. Setengah jam mereka sampai di rumah temannya. Sambil menunggu waktu agak siang, mereka ngobrol tak jelas.
“Oh Yunita?” tanya temannya Asep memperjelas. “Kok bisa punya hubungan sama dia?”
“Dia, nih! Biasa, lah, anak muda. Dari komen Youtube langsung dikasih nomor.”
Teman Asep tertawa. “Anak muda zaman sekarang. Pedekate dibuat gampang. Eh, ngilangnya juga mudah.”
Wahyu malu-malu. Wajahnya bersemu.
“Kalau dari sini kalian mesti masuk ke gang ini,” tunjuknya. “Lurus aja sampai ada masjid. Nah, di depan mesjid itu rumahnya. Nggak akan nyasar, kok! Soalnya cuma satu-satunya.”
“Ya udah. Kita pergi sekarang aja!” ajak Wahyu.
Tak sabar hati Wahyu. Benar kata temannya Asep. Tak susah mencari rumah itu. Pokoknya, kalau itu bukan rumah Yunita, berarti pura-pura akan ke mesjid. Begitu pesan Asep yang mewanti-wanti dari tadi.
“Itu Yunita!” tunjuk Wahyu pada wanita yang sedang menuntun anak kecil. “Ayo, samperin!”
Langkah mereka diperbesar. “Yun!” tanya Wahyu pelan. Wanita itu berbalik.
Yunita shock. Wajahnya agak ketakutan. “Kak.. Kak Wahyu? Kok.. kok, di sini?”
“Kakak nyari kamu. Kamu kemana aja? Apa kabar?” tanya Wahyu tak henti. “Oh, ya. Kamu kenapa mendadak menghilang? Kamu marah? Atau sudah punya yang lain? Atau aku punya salah? Kalau iya, kenapa tidak bilang? Aku kan tidak akan mengharap yang lebih,” ucap Wahyu tanpa henti.
Asep mencoba memperingatkan. Ditariknya baju Wahyu sedikit. “Di rumah aja ngobrolnya biar enak.”
Ada beberapa anak kecil sedang main. Juga beberapa foto terpajang. Pastilah keponakannya. Jumlahnya banyak. Ya, bisa jadi mereka memang tinggal serumah. Yunita ke dapur. Membawa minum meski hanya air bening.
“Silakan diminum, Kak!”
Wahyu mengangguk. Diteguknya beberapa kali. “Jadi? Kamu kemana aja?”
“Ma.. ma... maaf, Kak. Aku memang menghilang. Tadinya...”
Belum sempat Yunita membereskan ceritanya, seorang laki-laki masuk.
“Siapa dia, hah?” tanyanya galak.
Tentu saja Wahyu dan Asep kaget bukan main. Siapa dia senaknya datang terus marah-marah? Tidak tahukah sedang ada tamu?
“Heh, jawab!” bentaknya pada Yunita. “Siapa mereka? Apa jangan-jangan pacar baru kamu?”
“Maaf, kamu siapa, ya?” tanya Asep mencoba ramah.
“Aku suaminya.”
“Bohong! Mantan suami! Kita sudah cerai!”
“Proses cerai. Kamu masih dalam masa ‘iddah. Jadi tidak bisa sembarangan terima lelaki lain.”
“Iya, tapi kamu mau apa? Kita sudah tak punya hubungan apa-apa. Aku sudah muak sama kamu!”
“Siapa yang bisa melarang aku ketemu anak-anakku?”
Anak? Bertambah kagetlah Wahyu dan Asep.
“Maaf. Kalau begitu kita permisi dulu.”
“Tunggu!” tahan Yunita. “Bagaimana dengan hubungan kita, Kak? Kakak terlanjur tahu statusku. Janda anak lima. Kakak siap menerima apa adanya? Ataukah akan seperti lelaki lain yang hanya melihat status?”
Bingung. Kepala Wahyu diliputi kebimbangan. Asep berkali-kali mencoba mengajak Wahyu pulang. Percuma di sana. Buat apa? Tak ada harapan untuk meneruskan hubungan.
“Kalau Kakak siap, aku kasih waktu buat Kakak pertimbangkan. Sampai masa ‘iddahku habis. Bagaimana?”
“Akan kupikir-pikir lagi.” Wahyu dan Asep pergi tanpa menoleh lagi ke belakang.
“Kenapa?” tanya teman Asep ketika akan berpamitan dan mengambil motor.
Asep berusaha biasa, menyembunyikan keadaan sebenarnya. “Jangan disembunyikan! Aku sudah tahu. Yunita memang kurang baik. Perangainya ya begitu. Cerainya pun gara-gara...”
Asep yang memasang telinga baik-baik kecewa. Ucapannya tak diteruskan.
“Karena?”
“Karena dia lebih mementingkan handphone. Anak-anaknya sama sekali tak diurus.”
Asep melotot. Benarkah? Kalau benar, Wahyu harus tahu! Wahyu tak boleh bernasib buruk. Sudah cukup digantungkan. Cepat Asep membawa motor. Menjemput Wahyu yang sengaja menunggu di jalan raya, tidak ikut ke rumah teman Asep.
Motor melaju cepat. Meninggalkan luka-luka untuk dibiarkan berserakan di jalan, diterbangkan angin. Berharap luka menganga besar itu cepat disembuhkan waktu. Bagaimanapun, Wahyu harus mendapati wanita baik-baik. Pada dasarnya Wahyu memang anak baik. Cukuplah selama ini dipermainkan Asep. Kali ini tidak! Tidak tanpa seizinnya.
Other Stories
Di Bawah Langit Al-ihya
Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...
The Museum
Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
“Miko!!” satu gumpalan kertas mendarat tepat di wajah Miko seiring teriakan nyaring ...
Erase
Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Separuh Dzarah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...