Chapter 5
Malam Minggu, malam panjang. Cihuy... keluar ah sama bebeb.
Baru saja Wahyu mengganti status di BBM.
Dalam benaknya, Wahyu mematokkan diri mesti seperti orang lain. Memamerkan segala aktifitas di media sosial, termasuk jadwal kencannya. Dia kan ingin gaul. Apalagi sekarang punya Yunita. Eh, hampir punya, maksudnya.
Di malam minggu ini, Wahyu akan mengajak Yunita keluar. Rencananya, Wahyu akan menyatakan perasaannya yang sudah lama disimpan. Kalau harus jujur, Wahyu agak ciut. Saingannya pasti berjubel. Tapi, di sisi lain dia optimis, sebab Yunita mau diajak kemana pun. Jadi, kesempatan ini tak bisa dianggap remeh.
Sudah Wahyu bayangkan, sekali diucapkan, Yunita akan mengangguk. Lalu Wahyu dan Yunita sama-sama tersenyum. Bahagia tak terkira. Yeaaahhh.. aku punya pacar. Wahyu senyum-senyum sendiri di atas kasur.
Pasti. Yunita pasti jadi milikku sekarang, ucapnya dalam hati.
Kling.
Satu komentar masuk. Asep.
“Masih musim malam minggu? Helloooo.. orang udah pada malam jumatan!”
Wahyu panas. Enak saja disepelekan.
“Sirik tanda tak mampu!” jawab Wahyu.
“Hah? Sirik? Modal komen di Youtube, sirik?”
“Hey, malam minggu di rumah? Please, dong! Tiang listrik aja di luar!”
“EGP! Jangan lupa bawa kaca! Kali aja sisa pecel nyangkut.”
Wahyu tak membalas. Sebal. Wajahnya ditekuk. Bibirnya yang agak maju, makin maju.
Ada yang sirik punya pacar cantik.
Wahyu mengganti status.
Asep yang iseng, tersenyum. Jari jemarinya seakan gatal jika tak menggoda sahabatnya itu.
“Parah! Belum jadian aja sok pamer. Gak diterima, nyesek!”
Asep tak peduli. Ia malah mengalihkan topik pembicaraan.
“Sep ke sini, dong! Anter ke alun-alun. Gak ada motor, nih! Angkot, kan, gak mungkin. Gak akan ada.”
Pas. Bisa ditebak.
“Payah!”
“Please! Kamu kan baik.”
“Berani bayar berapa?”
“Yaelah sama temen aja itung-itungan. Lagian hutang kemarin aja belum dibayar. Please, dong! Bantu hamba sekaligus murid percintaanmu. Pleassseeee!!!”
Asep tidak merespon. Bahkan BBM pun sama sekali belum dibaca.
PING!
PING!
PING!
Sepuluh, lima belas, dua puluh. Asep menghilang.
Nun jauh di sana, Asep malah nyengir. Biarin aja, biar tahu rasa, katanya. Sengaja ia permainkan. Rasanya memang gatal sehari tanpa begitu. Pekikan handphone tak henti. Lagi-lagi Wahyu. Asep santai saja keluar, memanaskan motor. Lagipula memang sudah niat akan keluar. Jadi, tak usah dibilang sama Wahyu.
Jam setengah tujuh lebih tiga ketika Asep sampai di depan rumah Wahyu. Mendengar suara motor yang sudah hapal, Wahyu meloncat keluar dengan tangan menenteng sisir. Rambutnya klimis. Harum. Harum minyak wangi sepuluh ribuan.
“Waduh, anak muda mau kencan,” ujar Asep santai.
“Huh anak muda yang sok sibuk. Datang juga. Di-BBM nggak dibales.”
“Aduh, itu ngomongnya enak banget.”
“Apapun, deh, yang penting jadi.”
“Jadi? Jadi apaan? Janjian? Emangnya mandi?”
“Wesss... pasti, dong!”
Asep masuk. Menghadap Emak sambil menunggu sang pujangga siap.
***
Wahyu diturunkan Asep di dekat masjid. Sengaja Wahyu meminta di sana, agar Asep tidak memata-matai. Wahyu rikuh, merasa diintai. Asep tak peduli. Diturunkan dimana, terserah Wahyu. Fokusnya cuma satu, mencari ide sekalian mencari pokemon. Tadi siang coba-coba download.
Tak lama Yunita datang. Jeans hitam, tas selempang kecil, blouse, dan rambut kucir. Cantik. Apalagi diterpa cahaya bulan purnama. Seperti bidadari. Hhh.. Wahyu tak sadar kalau cahaya bulan tak seterang cahaya lampu. Tanpa Wahyu tanya datang dengan siapa, jam berapa, langsung saja ke inti acara. Melemparkan modus-modus percintaan yang jelas bisa ditebak.
Cantik, gumamnya.
Yunita tersenyum malu-malu.
“Sudah makan?” tanya Wahyu antusias.
Yunita diam. Tak menjawab kecuali tersenyum.
“Mau makan bakso?” tanyanya lanjut.
Yunita tetap diam. Wahyu yang agak kikuk karena seorang bapak-bapak berpeci terus memantau mereka, segera menggamit lengan Yunita. Diajaknya ke tempat bakso yang tak jauh dari tempatnya duduk.
“Maaf, aku langsung pegang tangan kamu. Soalnya tadi ada yang lihatin kita terus. Bapak-bapak yang pake peci.”
Yunita masih tersenyum, tanpa jawaban.
Wahyu diam sejenak. Tampaknya ada yang aneh dengan Yunita. Aaahh, apa jangan-jangan ini bukan Yunita? Apa jangan-jangan ini jin yang menyamar jadi Yunita? Bagaimana kalau tiba-tiba seseorang datang dengan wajah mirip Yunita datang? Akan kupilih siapa? Mana Yunita yang asli?
Segera saja Wahyu hilangkan perasaan buruknya itu.
“Kamu kenapa? Sakit?”
Lagi, Yunita menggeleng.
“Lapar, ya?”
Tanpa jawaban lagi. Wahyu malah jadi serba salah.
Di kejauhan yang tidak terlalu jauh, Asep senyum-senyum sendiri. Melihat kelakuan Wahyu rasanya... ah, Asep tidak tega menyebutnya. Dari tadi, dilihatnya Wahyu terus mengajak ngobrol wanita itu. Yang terlihat hanya senyum dan gelengan kepala. Apa yang dilakukan Wahyu, ya?
Ada rasa penasaran. Harus diakui, Wahyu memang hebat. Berawal dari keberaniannya mengajak kenalan di komentar Youtube, dia bisa mengajak ketemuan dan mungkin sampai jadian.
Okelah, kali ini Asep harus menemui Wahyu. Dia harus tahu bagaimana wajah si Yunita yang katanya cantik itu. Asep berjalan menuju tukang bakso. Sekilas, Yunita melirik ke arah Asep. Bukan karena ketampanan Asep lebih dari Wahyu, melainkan memang karena sensasi yang ditangkap inderanya.
Asep masuk. Berjalan sampai di depan meja Wahyu. Wahyu tidak sadar kalau yang masuk adalah Asep. Seolah mencari bangku kosong, Asep memutar-mutar badan. Hingga tatapannya sampai di meja Wahyu.
“Hei, Yu, kamu di sini?”
Mata Wahyu membelalak. Aahhh si Asep, apa-apaan sih? Mau apa dia? Mau ganggu acaranya-kah?
“Hei, ini siapa? Pacarnya?”
Asep terus saja memainkan perannya yang diciptakannya sendiri. Wahyu belum menjawab, kecuali menunjukkan muka kesal. Diberikannya kode-kode. Namun, Wahyu belum menyadari. Sampai akhirnya dia sadar kalau Asep pura-pura tidak sengaja bertemu.
“Oh, hei, Sep. Kenalin, ini Yunita.”
Yunita tersenyum. Agak ceria.
Wahyu, Asep dan Yunita ngobrol sampai bakso habis. Tak ada yang tahu kalau Wahyu tak henti memerhatikan Yunita. Bahkan diam-diam hatinya memberikan pengertian lain. Semacam rasa cemburu sampai dia sadar kalau mood Yunita berubah setelah Asep datang.
Ada beragam pertanyaan di benaknya. Apa karena kedatangan Asep mood Yunita berubah? Apa jangan-jangan Yunita jatuh cinta pada Asep? Bagaimana kalau Asep pun mencintai Yunita?
Wahyu mencoba menenangkan diri. Diteguknya air yang tinggal sedikit.
“Eh, Sep, kayaknya kita mesti pergi.” Wahyu dengan sengaja ingin menghindar. Tak ingin malam spesialnya terganggu.
“Eh, aku ganggu acara kalian, ya? Sorry sorry, aku pikir...”
“Nggak, kok, Kak. Biasa aja. Santai,” ucap Yunita sumringah. Senyum termanisnya diberikan kepada Asep secara cuma-cuma, membuat Wahyu terperanjat.
Jadi benar gara-gara si Asep Yunita jadi berubah? Aku harus bergerak cepat! ucapnya dalam hati.
Wahyu mencari tempat duduk. Tak dipedulikannya Asep dimana. Yang pasti, kebersamaannya dengan Yunita malam ini lebih berharga dibanding mengetahui keberadaan Asep.
Jam setengah sembilan. Orang-orang makin ramai. Makin malam, makin penuh. Muda-mudi keluar bebas. Berpasangan. Bercengkrama. Tertawa. Berkumpul.
Di tempat yang agak sepi, mereka duduk. Yunita memilih memainkan handphone. Wahyu yang sedang mempersiapkan mental, terus mencoba mengeluarkan suara yang dirasanya berat.
Wahyu terus meremas jari. Kaki kanan diayun pelan. Kaki kiri menginjak tanah. Ujung sepatunya menginjak sandal Yunita.
“Yun, mau nggak jadi pacar Kakak?” spontan Wahyu berkata. Maksudnya percobaan, tapi suaranya terlalu keras.
Yunita menoleh. “Apa, Kak?” kembali dia fokus ke handphone.
Kepalang basah!
“Kamu mau jadi pacar aku?”
Spontan Yunita menghentikan jarinya dari layar. Kaget. Tak percaya.
Jantung Wahyu berpacu cepat. Rasa tak percaya menghadang kuat. Tak percaya bisa ia katakan itu.
“Kakak nembak aku?” tanya Yunita sambil tertawa. “Serius?”
Wahyu menggeleng. Pasrah menerima jawaban. Sekarang malah sibuk menerka jawab. Menyiapkan mental seandainya ditolak.
Handphone Yunita memekik.
Cepat ia berdiri, memakai sandal. Tanpa melihat ke bawah, ia langkahkan kaki. Satu langkah, tak bisa maju. Sandalnya terinjak.
Naas, penjepitnya putus.
Yunita segera menoleh ke bawah. Sementara deringan handphone tak henti. Cepat ia angkat.
“Yah, putus. Maaf!” ucap Wahyu pelan.
Yunita tersenyum malu-malu. “Iya gak apa-apa.”
“Terus kamu pulangnya gimana?”
“Gampang. Aku kan bawa motor.”
“Bener nggak apa-apa? Beli aja sekarang, yuk?”
“Nggak usah, Kak. Di rumah masih ada. Oh ya. Kayaknya aku mesti pulang sekarang, deh. Nggak apa-apa, kan?”
“Lho, kok, gitu? Marah ya gara-gara sandalnya keinjak?”
“Bukan. Tadi soalnya ada yang nelepon.”
“Pacar?”
Yunita tersenyum. “Ah, Kakak. Apaan, sih?”
“Mau diantar?” Pura-pura Wahyu sok baik. Padahal dia sendiri diantar. Bawa motor aja gak bisa.
“Udah, nggak usah. Bisa sendiri.”
Dengan berat, Wahyu mengizinkan. “Ya udah. Hati-hati.”
“Iya, Kak.”
Baru selangkah, Wahyu memanggil lagi. “Gimana pertanyaan Kakak tadi?”
Yunita diam sebentar. “Nanti dikasih tahu, ya!” ucapnya sambil pergi.
Tanpa tahu Yinta pulang dengan siapa, Wahyu hanya bisa memandangi punggung Yunita sampai lenyap. Tak lama Asep datang. “Sukses?”
“Nggak tahu. Nggak ada jawaban.”
“Santaaaiiii! Emang gitu. Sok minta waktu. Ujungnya diterima juga. Percayalah!” Asep memukul pundak Wahyu pelan. “Ngomong-ngomong cantik juga, dia. Bisa buat aku?”
“Wes.. wes.. sorry. Sudah diwanti-wanti dari zaman mana itu? Nggak bisa dong main serobot seenaknya!” Wahyu naik darah.
“Ya udah, sih, santai aja! Kan cuma nanya. Lagian belum tentu juga dia mau sama kamu.”
Wahyu mendelik. “Sama aku, maksudnya.”
***
Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
Klik.
Sekali lagi.
Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
Lagi.
Terus saja begitu.
Berulang kali Wahyu pencet nomor Yunita. Tak ada jawaban. Kemana dia?
Satu pertanyaan itu sukses membuat Wahyu tak enak diam. Berbagai posisi sudah dicoba. Terlentang, menyamping, tengkurap, berdiri, mondar-mandir. Aahh, pikirannya tertuju pada Yunita.
Apa jangan-jangan dia marah gara-gara ditembak tadi? Bodoh! Bodoh! Bodoh!
Kalau saja tak dia katakan, pastilah Yunita tidak akan menghilang begini. Dia pasti shock mendengarnya. Dia pasti sedang bingung memikirkan jawabannya. Dia pasti..
Aku tidak salah! Apa yang harus kusalahkan? Dimana letak kesalahannya? Aku hanya menyampaikan perasaanku saja. Tidak lebih. Hal wajar, bukan?
Eh, apa cintanya malah berpaling pada Asep? Iya. Tadi kan Yunita jadi berubah setelah Asep datang. Emm.. awas saja kalau benar itu. Tidak akan kumaafkan si Asep brengsek itu!
Untuk memuaskan rasa penasaran yang menggunung, Wahyu membuka BBM. Yunita berada di urutan teratas dalam obrolan, tak perlu susah lagi dicari.
PING!
PING!
PING!
PING!
PING!
Silang merah!
Apa-apaan ini? Kenapa jadi susah dibuhungi?
Oke, oke. Aku tak boleh berprasangka buruk, katanya menguatkan. Mungkin memang baterainya habis, sedang tidur, atau lupa mencharger. Dia pasti tidak akan marah berlebih. Dia kan calon menantu terbaik buat Emak.
Wahyu melirik jam. Jarum pendek tepat berada antara angka sebelas dan dua belas. Wahyu segera membuka baju. Mengganti dengan kaos oblong dan celana kolor. Kembali ia membaringkan tubuh. Namun, sebelum dipejamkan mata, dibukanya lagi handphone. Penasaran. Barangkali dengan SMS bisa terkirim.
Kamu kenapa, Yun? Kenapa tidak bisa dihubungi? Kamu marah?
Satu, dua, tiga. Tak tanggung-tanggung. Sepuluh SMS terkirim.
***
Yunita benar-benar tak bisa dihubungi. Berbagai media yang bisa menghubungkannya dengan Yunita sudah dicoba Wahyu. Satu bulan dua hari tiga jam, tepatnya. Yunita menghilang tanpa jejak. Kabarnya kabur entah kemana. Raib ditelan waktu.Wahyu yang memang sudah jatuh cinta pada Yunita, meski pada awalnya hanya iseng, belum bisa melupakan Yunita.
Gadis manis itu, gadis yang akan dikenalkannya pada Emak, gadis yang menurutnya gadis terbaik buat jadi menantu Emak, gadis manis yang akan dipamerkannya pada Asep, hilanglah sudah harapannya. Pupus. Hancur. Tak bersisa sama sekali.
Keadaan Wahyu tak ubahnya bagai bunga layu. Kehidupannya kini tak lagi sesemangat kemarin-kemarin. Dia mulai berubah kembali menjadi Wahyu yang dulu. Wahyu yang jarang mandi, jarang gosok gigi, jarang cuci tangan kalau makan, jarang cuci muka pas bangun tidur, bangun siang dan nongkrongin hp. Membuat Emak khawatir. Padahal Emak sudah bahagia melihat perubahan Wahyu.
Asep yang diberitahu Emak tentang keadaan Wahyu segera meluncur ke rumah Wahyu. Dilihatnya Wahyu sedang tidur. Padahal jam sudah siang. Matahari sudah meninggi. Jam setengah sebelas. Ia masih berdengkur.
“Bangun!” ucapnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Wahyu.
Tak mempan. Sekali lagi. Masih tak mempan. Asep nyaris kehilangan akal. Lalu dia keluar, diam di depan pintu.
Kring!
Wahyu menggeliat, meraih handphone.
Asep tertawa.
“Gila kamu, Yu! Dibangunkan dari tadi susahnya minta ampun. Nah cuma hape yang sekali, langsung bangun. Parah!”
“Ah, ganggu aja! Ada apa?”
“Bangun dulu! Mandi! Ada kabar tentang Yunita.”
Mendengar itu, terang saja Wahyu langsung bangun. Menggosok-gosok mata dengan semangat. “Mana? Mana? Ketemu dimana?”
“Syaratnya mandi dulu!”
Wahyu segera pergi setelah mengambil handuk.
Manjur, ucapnya.
Ya, lagipula, kan, setiap ucapan Asep akan diterima tanpa saringan.
***
“Mana?” tanya Wahyu yang sudah rapi.
“Apanya?”
“Yunita.”
“Eh, aku Cuma mau tanya, gimana sama Yunita? Sukses?”
Wahyu melongo. Sialan! Dia kena tipu.
“Jadi kamu bohong?”
“Siapa yang bohong? Tadi kan cuma bilang ada kabar tentang Yunita. Lha, emang mau nanya itu. Intinya kan Yunita. Ada yang salah?”
Wahyu diam. Diperhatikannya baik-baik. Lalu manggut-manggut, merasa dirinya salah dan Asep menang lagi.
“Ya udah, sih. Seger, kan, udah mandi?”
“Ah, tahu gitu nggak usah mandi.”
“Emang segitu ruginya ya mandi? Kenapa sih susah banget mandi? Cuma ngalirin air ke badan. Itu saja.”
“Dingin!”
“Tapi kan sekarang sudah wangi.” Asep tersenyum puas. “Jadi gimana tuh si Yunita?”
“Kabur. Tanpa kabar.”
“Kok bisa?”
“Nggak tahu.”
“Anak mana sih dia?”
“Katanya sih masih daerah yang kemarin kita ketemu.”
Asep manggut-manggut. Di kepalanya, peta teman-teman sekolah Asep sudah tergambar. Dia harus mencari tahu dimana Yunita tinggal.
“Aku nggak bisa begini, Sep! Aku harus tahu kejelasan cintaku! Nggak enak digantung!” ucap Wahyu dengan wajah sendu.
“Hebat! Digantung nggak mati-mati,” Asep menggeleng-geleng kepala.
Wahyu melempar Asep dengan bantal. Asep tertawa. Sedikit senyuman terhias di wajah Wahyu. “Aku harus cari dia! Tapi bingung cari kemana. Duit nggak punya, hutang numpuk. Galau, lah, pokoknya!”
“Eh, baru sadar hutang numpuk?”
Sekali lagi Asep tertawa. Kali ini sambil keluar, takut ditimpuk lagi. Memesan pecel sambil melapor bahwa anaknya baik-baik saja.
Other Stories
DIARY SUPERHERO
lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...
Horor
horor ...
Mother & Son
Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...
Nina Bobo ( Halusinada )
JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...
Perahu Kertas
Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...
Hati Yang Terbatas
Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...