Prolog
Gelap yang Menghimpit
Hujan turun deras malam itu, menabrak kaca jendela kamar Arka dengan suara berderap seperti dentuman kecil yang berulang-ulang. Kamar itu redup, hanya diterangi lampu meja belajar yang sinarnya tampak terlalu lemah untuk menghalau gelap. Di meja, berserakan kertas-kertas berisi catatan yang tak lagi terbaca karena coretan tinta yang tertumpah.
Arka duduk diam, menatap kosong ke arah jendela. Ia merasa hujan di luar seperti cermin dari hatinya berisik, kacau, dan tak menentu. Seakan dunia sedang menertawakan keputusasaannya.
Sudah berbulan-bulan ia terjebak dalam lingkaran kegelapan. Hidupnya berubah drastis setelah kehilangan pekerjaan di sebuah perusahaan yang ia banggakan, diikuti kabar buruk bahwa ayahnya jatuh sakit parah. Seolah itu belum cukup, tunangannya memilih pergi, meninggalkan pesan singkat bahwa ia butuh “hidup yang lebih stabil”.
“Kenapa semua harus hilang sekaligus?” gumamnya lirih.
Di meja, ada sebuah foto lama: Arka tersenyum lebar bersama ayah dan ibunya, saat wisuda beberapa tahun lalu. Di momen itu, hidup terasa penuh janji. Masa depan tampak jelas, seolah jalan sudah terbuka lebar. Tapi kini, semua terasa runtuh.
Dalam hati kecilnya, Arka ingin menyerah. Ia merasa tak ada lagi yang bisa diperjuangkan. Namun, di balik rasa sakit itu, ada suara kecil yang tak henti-hentinya berbisik: “Bertahanlah. Gelap ini bukan akhir.”
Hujan turun deras malam itu, menabrak kaca jendela kamar Arka dengan suara berderap seperti dentuman kecil yang berulang-ulang. Kamar itu redup, hanya diterangi lampu meja belajar yang sinarnya tampak terlalu lemah untuk menghalau gelap. Di meja, berserakan kertas-kertas berisi catatan yang tak lagi terbaca karena coretan tinta yang tertumpah.
Arka duduk diam, menatap kosong ke arah jendela. Ia merasa hujan di luar seperti cermin dari hatinya berisik, kacau, dan tak menentu. Seakan dunia sedang menertawakan keputusasaannya.
Sudah berbulan-bulan ia terjebak dalam lingkaran kegelapan. Hidupnya berubah drastis setelah kehilangan pekerjaan di sebuah perusahaan yang ia banggakan, diikuti kabar buruk bahwa ayahnya jatuh sakit parah. Seolah itu belum cukup, tunangannya memilih pergi, meninggalkan pesan singkat bahwa ia butuh “hidup yang lebih stabil”.
“Kenapa semua harus hilang sekaligus?” gumamnya lirih.
Di meja, ada sebuah foto lama: Arka tersenyum lebar bersama ayah dan ibunya, saat wisuda beberapa tahun lalu. Di momen itu, hidup terasa penuh janji. Masa depan tampak jelas, seolah jalan sudah terbuka lebar. Tapi kini, semua terasa runtuh.
Dalam hati kecilnya, Arka ingin menyerah. Ia merasa tak ada lagi yang bisa diperjuangkan. Namun, di balik rasa sakit itu, ada suara kecil yang tak henti-hentinya berbisik: “Bertahanlah. Gelap ini bukan akhir.”
Other Stories
Kala Cinta Di Dermaga
Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...
Youtube In Love
Wahyu yang berani kenalan lewat komentar YouTube berhasil mengajak Yunita bertemu. Asep pe ...
Losmen Kembang Kuning
Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...
Susan Ngesot Reborn
Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...
Padang Kuyang
Warga desa yakin jika Mariam lah hantu kuyang yang selama ini mengganggu desa mereka. Bany ...
Jam Dinding
Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...