Epilog
Setahun lewat...
Nastiti tersenyum melihat foto yang dikirim lewat WA. Saron mengirim foto Arka, dirinya, dan Bram. Disusul Arka yang gemuk di antara Tante Linda dan Om Fatir. Semua kelihatan bahagia.
Sesaat foto Arka tengah digendong Bram yang juga tampak bahagia. Nastiti tersenyum. Semua bagai bergulir cepat. Rasa benci terhadap Icang di masa belia, perselingkuhan Bram, dan kemudian jatuh cinta kembali pada Icang masih melekat dalam ingatannya.
Pelarian di Tanah Karo dan pelarian di hari pernikahan. Kembali ke rumah bersama Icang yang disambut dengan hangat oleh ayah ibunya. Setelah itu proses meminta maaf pada keluarga besar Bram saat dirinya kabur. Tampaknya keluarga Bram sudah tuntas usahanya untuk memaksakan kehendak mereka.
Rasa luluh Tante Linda dan Om Fatir saat menatap cucunya. Nastiti lega tetap mengikuti kata hatinya. Setahun ini benar-benar mendekatkan hatinya dengan Icang. Membuka cerita cinta baru dan nyatanya hatinya telah nyaman pada hati Icang yang sangat paham akan dirinya. Mencintai kelebihan dan kelemahan diri pasangan adalah keyakinan untuk menerima lamaran Icang.
Luna juga sudah melangsungkan pernikahannya dengan Roy. Tampaknya semua sudah terurai dengan baik dan bermuara pada semestinya.
Nastiti bersyukur, untung Saron menolak segala uang sogokan ibu mertuanya di waktu lalu untuk menggugurkan kandungannya.
Cinta! Hanya cinta yang murni yang membuat Saron kuat untuk mempertahankan bayi dalam kandungannya, walau dengan konsekuensi harus melahirkan tanpa lelaki yang seharusnya bertanggung jawab.
Nastiti tersenyum bahagia. Allah jugalah yang telah membantunya melewati semuanya. Mengikuti bisikan hati dan membiarkan cinta mencari jalan yang sempurna. Kita memang tidak pernah tahu jodoh yang akhirnya dipilihkan-Nya pada kita. Tidak selamanya benci menjadi kebencian, dan nyatanya Nastiti malah menjadi sebaliknya dari kebencian menjadi cinta.
“Semoga kebahagiaan kalian juga menjadikan aku seorang mempelai pengantin wanita yang paling berbahagia jug…” Nastiti berbisik menutup picture yang dikirim Saron.
Sebuah tangan menyentuh lembut pundaknya. Icang tersenyum bahagia melihat Nastiti dalam balutan brokat putih berpayet silver. Wanita tercantik yang akan disuntingnya.
“Sudah siap, Sayang?” Icang mengulurkan tangannya.
“Insya Allah…”
Nastiti menyambutnya dengan senyum mengembang. Mengizinkan Icang membimbingnya melangkah ke masjid dan menemui penghulu yang sudah siap mengesahkan mereka menjadi suami istri.
Other Stories
Dream Analyst
Frisky, si “Dream Analyst”, bersama teman-temannya mengalami serangkaian kejadian meny ...
Titik Nol
Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...
Dari 0 Hingga 0
Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...
Nyanyian Hati Seruni
Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...