10. Stay Away
Menjauh mungkin bisa menjadi pilihan terbaik agar hati kita terjaga untuk tidak selalu terluka....
Arjuna benar-benar jatuhhati pada Naura. Naila merasa harus tahu diri. Semenjak resmi jadian Arjuna setiap siang menyambangi dirinya dan Naura ke sekolah mereka. Tentu saja bukan untuk bercerita akan masalah dirinya dengan kedua orang tuanya yang akan bercerai dengan Naila, tapi menjemput Naura untuk pulang sekolah bersama.
Walau Arjuna mengantar Naura hanya sampai ujung jalan. Biasanya mereka mengulur jam pulang sampai rumah dengan duduk-duduk di taman kompleks sambil menunggu Naila yang pulang jalan kaki atau bersepeda.
Tanpa mereka sadari Naila kerap menolak pulang bersama ada saja alasan Naila untuk pulang belakangan.
Dari kejauhan Naila melihat dua sejoli tengah kasmaran minum es kelapa berdua. Bukan hanya rasa cemburu karena Naura sudah memiliki Arjuna, tapi terlebih Naila merasa ada yang terampas sejak mereka jadian.
Naila merasa asing saat bersama mereka. Bahkan merasa hanya jadi obat nyamuk kalau mereka tengah berdua jalan pulang sekolah bersama. Arjuna tidak banyak ngomong lagi dengan dirinya semua perhatian Arjuna tertuju hanya dengan Naura. Makanya Naila memilih menghindar kalau harus jalan bertiga.
Seperti siang ini Naila mau kabur saja pura-pura tidak melihat kemesran mereka. Tapi sial suara berat Arjuna menghentikan langkahnya. Naila terpaksa membalikan tubuhnya memandang mereka dan menarik bibirnya agar tampak tersenyum.
\"Nai sombong amat sih sekarang! Ayo gabung kita mau pesan es kelapa, dicampur gula pasir atau gula jawa?\" Arjuna menawarkan.
\"Nggak ah aku lapar pingin pulang saja,\" jawab Naila ketus.
Naila kesal kenapa hanya ada satu jalan saja untuk pulang ke rumah. Jadi setiap hari harus melihat kebersamaan Arjuna dan Naura yang asik minum es kelapa muda di dekat taman kompleks.
***
Sudah hampir dua minggu ini dia jadi obat nyamuk sebentar menemani Naura menghabiskan es kelapa muda bersama Arjuna lalu baru pulang bersama dengan Naura mulai dari taman kompleks sampai rumah.
Orang rumah tahunya Naila dan Naura sepertinya pulang sekolah bersama dari sekolah sampai rumah. Jujur pura-pura pulang bareng bersama Naura yang sebenarnya dimulai dari taman kompleks samapi rumah rasanya tidak nyaman juga. Sama saja membohongi ibunya yang selalu menyuruh dirinya melindungi adiknya.
Walau sebenarnya adiknya juga lebih aman bersama Arjuna mengingat tingkat kelas di perguruan pencak silat Arjuna lebih senior.
Naura untuk sementara tidak mau ketahuan orang rumah kalau Arjuna mengantarnya sampai ke rumah, takut bibi Manisa pengganti bibi Tirah melapor pada mama kalau dia sedang dekat dengan cowok. Apalagi mama setiap saat selalu menanyakan kapan bisa menemani Fabian jalan.
\"Ah sekarang Naura sudah bisa share teh dengan Juna juga,\" bisik hati Naila.
Di suatu sore akhirnya memergoki mereka berdua minum teh bersama di teras. Jelas tidak ada mama dan papa. Kedua orang tua tersebut masih dengan urusan kantor.
Mungkin Naura ingin sesekali mengajak Arjuna berkunjung ke rumah yang hampir satu bulan hanya dihabiskan minum kelapa bersama di taman kompleks sepulang sekolah.
***
\"Nau emang kenapa sih kalian kaya back street gini pacarannya! Kan aku juga yang susah juga jadi obat nyamuk kalian.” Naila menggerutu.
Sudah hampir satu bulan ini tersiksa kalau harus menghabiskan waktu pulang sekolah menjadi mahluk yang mendadak asing untuk dua orang yang tengah kasmaran meskipun sangat Naila sayangi.
\"Yah habis kalau kita tidak pulang bersama nanti ibu curiga...” Naura dengan ringannya mengelak.
\"Nau aku ingin cepat sampai rumah setiap pulang sekolah! Kasihan ibu ngurus rumah sendiri. Kalau aku harus juga nungguin kamu yang asik pacaran dengan Arjuna telat terus dong bantuin ibu,\"Naila memang tidak mau menjadi orang asing lagi keberadaannya di antara mereka berdua.
Ternyata susah sekali untuk bisa menjauh dari sosok Arjuna, karena hampir setiap saat Naura meminta ditemani saat di taman kompleks minum es kelapa muda. Agar orang rumah tahunya dia pulang bersama dengan Naila.
\"Iya sabar-sabar, ibu di rumah pekerjaannya juga dibantu Bibi Manisah kan?” Naura memang paling bisa mengelak.
Kalau sudah begitu Naila memilih diam, apalagi yang bisa dia lakukan. Hidup dia dan ibunya sepenuhnya ditanggung keluarga Naura.
“Nai kamu masih ingat konspirasi yang aku sebut sebulan lalu kan?\" Naura bertanya penuh semangat.
\"Hmmm...iya....\" Naila menjawab malas.
Naila merebahkan tubuhnya di tempat tidur Naura yang empuk dengan cover bercorak tedy bear.
Naila ingin sesekali merasakan nyaman tidur siang dikamar Naura yang ber-AC, tidak seperti kamar dirinya dan ibu yang memakai kipas angin saja.
\"Nai sebenarnya nanti malam Juna mau ngajak jalan. Kita janjian nonton film di studio 21 di mall Junction. Nah aku ada masalah nih, barusan mama telepon kalau Fabian akan datang juga nanti malam ke rumah. Terus mama meminta aku menemani Fabian untuk nonton juga.\"
\"Wah ya sudah berarti gampangkan kamu tinggal milih saja mau nonton bareng Juna atau mau dengan Fabi?\" jawab Naila asal.
Mata Naila sudah mengantuk, sejuk AC di kamar Naura membuatnya ingin cepat memejamkan matanya.
\"Nai ya jelas aku pilih Juna lah, aku sudah cinta mati sama dia! Kamu saksinya!\" Naura mendelik tajam.
\"Ya sudah bilang lah sama mama kalau kamu nggak bisa jalan sama Fabi karena sudah punya janji sama Juna,\" saran Naila cuek tanpa dosa.
\"Mana mungkin aku bisa memilih! mama kan nggak akan mengijinkan kita pacaran dengan cowok yang mama nggak kenal!\" teriak Naura.
\"Ya kamu kenalin saja Juna sama mama jadi biar enak nggak perlu sembunyi-sembunyi lagi pacarannya.” Naila sendiri sebenarnya juga tidak yakin dengan pendapatnya barusan, mengingat aturan Mama Miranda yang tidak mengijinkan mereka berdua pacaran dengan cowok yang tidak dikenal oleh Mama Miranda, terutama untuk Naura putri kandungnya.
\"ih belum saatnya Nai, aku juga masih banyak penyesuaian sama Juna, tapi aku sangat sayang dengan dia. Aku yakin pasti mama tidak akan mengijinkan aku pacaran dengan Juna karena mama maunya aku dengan Fabi!\" Naura memasang wajah suram.
\"Terus mau gimana dong?\"Naila ikutan bingung.
\"Nai kamu ingatkan percakapan kita sebulan lalu, sekaranglah saatnya kamu menolong adikmu tercinta.\"Naura mengingatkan konspirasi yang ia rencanakan.
Naila mengernyitkan dahinya mengingat diskusi waktu lalu, yang sebenarnya lupa-lupa ingat.
\"Gini aku pura-pura akan menyetujui kemauan mama jalan dengan Fabi nanti malam, tapi sampai di mall Junction, kamu aja ya Nai yang temani Fabi dan aku tetap jalan dengan Juna.\"Naura dengan polos merencanakan untuk berbohong terhadap Mama Miranda.
\"Apa? Aku menemani cowok kasar itu! Ogaaaah!\" Nailah menolak mentah-mentah.
\"Nai please... bantu aku dong demi aku, demi mama agar tidak kecewa,\" Naura memasang wajah memohon.
Naila jadi termenung, Mama Miranda sudah sangat baik terhadap dirinya dan ibunya. Kalau menolak permintaan Naura gimana ya? Menerimanya juga bingung, apalagi ketemu cowok kasar yang menyebalkan.
\"Nai gimana dong? Mau ya?\" Naura sudah memasang wajah pasrah.
\"Nanti kalau mama tanya hubungan kamu dengan Fabi gimana?\"Naila was-was.
\"Ah gampang itu urusan aku nantinya, sekarang yang penting untuk sementara ini mama tahunya aku sama Fabian udah berusaha dekat, urusan aku jadian atau tidak nantinya! Itu sudah urusan tuhan lah yang menakdirkan siapa jodoh kita,\"kata Naura diplomasi.
Kali ini wajah Naura sudah mulai tersenyum. Naila sepertinya mau berkonspirasi menolongnya.
\"Ah dasar paling bisa berteori.\" Naila menggerutu karena kesal jadi efek samping dari hubungan Naura dan Arjuna.
\"Jadi mau ya!Please mau ya! kita pura-pura pergi bertiga dulu alasannya kamu nebeng kita mau ke Gramedia.\" Naura mulai menerangkan taktiknya.
\"Terserah kamu Nau aku sebenarnya nggak mau ikutan berbohong,\" jawabNaila agak jutek. Sejujurnya dia tidak mau untuk berkonspirasi masalah ini.
\"Iya beres biar aku yang atur,\"ucap Naura yakin.
Kali ini Naura benar-benar tersenyum ceria.
Naila menjadi lemas berusaha menjauh dari Arjuna susah payah tengah dilakukan dan sekarang belum selesai urusan hatinya menjauh dari Arjuna, Naura malah meminta mendekatkan pada cowok yang dianggapnya kasar.
“ I realy wanna far away from them....”
Other Stories
Melepasmu Untuk Sementara
Perjalanan meraih tujuan tidaklah mudah, penuh rintangan dan cobaan yang hampir membuat me ...
Namaku Amelia
Amelia, seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, harus menghadapi hari-hari sulit di ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Suara Dari Langit
Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan
Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...
Mozarella Bukan Cinderella
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...