My Love

Reads
1.5K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
Penulis Petra Shandi

6. Amarah

Aku masih menuang rindu pada setangkup asa yang ia janjikan. Meski pada akhirnya aku tak pernah tahu, ke mana kelak jalan ini berlabuh. Lalu bagaimana kujalani takdir ini? Ketika bayangannya perlahan memburam, meracik resah yang kian bergejolak di dalam hati.
Harus kupertahankan bayangan kekasihku. Ada sejenis ketakutan. Bagaimana bila nanti aku mengabaikannya? Bagaimana bila nanti aku lupa kebiasaannya? Dan yang paling kukhawatirkan, bagaimana bila nanti aku berhenti mencintainya? Janji yang pernah terpatri dalam hati tak bisa sepenuhnya menjamin pertahananku. Bila kekasihku sendiri tak berusaha, membantuku untuk menyehatkan kembali hubungan kami.
Tapi Demi Tuhan! Di mana kamu berada, Sayang? Redakan keresahan yang tak beralasan ini.
Aku baru kembali dari KBRI. Ada satu berita yang sungguh di luar dugaanku. Teresa sudah lama mengakhiri kontrak dengan organisasi itu. Sialan! Lalu kenapa dia masih berkeliaran di tempat ini? Sungguh, benih-benih amarah perlahan tumbuh di sela-sela kegelisahan akan nasib kekasihku. Apakah terjadi sesuatu dengan Teressa? Kutepis jauh-jauh pikiran buruk itu. Aku yakin dia baik-baik saja. Jauh lebih baik dari keadaanku saat ini.
Sudahlah… aku putus asa. Biasanya di saat hatiku gundah seperti ini, selalu ada kawan yang menemani. Yah, walau hanya sekedar menemani minum di café. Namun itu cukup efektif menghiburku. Damn! I miss my friends.
Berbekal sebotol Chivas Regal yang kubeli di café dekat hotel, kutelusuri bibir pantai di daerah Pantai Kelapa. Keramaian mulai beralih menjadi sunyi. Padahal ini baru jam sepuluh malam. Biasanya masih ada beberapa kedai makanan yang beroperasi. Aku berjalan perlahan seraya menikmati hembusan angin dari arah pantai. Dingin. Semakin menambah kebekuan hatiku.
“Aaaggh!!” aku memecah keheningan malam hingga gemanya bisa terdengar dengan jelas. Namun, bagaimanapun teriakanku barusan, tak juga bisa meredakan amarah ini.
“Pergi saja perempuan sialan! Kalau kamu ingin pergi. Pergi saja sekalian dengan bayanganmu!” teriakku untuk kedua kali seraya melempar botol alkohol yang telah kutenggak habis isinya ke arah lautan. Pada akhirnya aku kehilangan kendali, tubuhku tersungkur menyatu dengan butiran pasir putih. Seperti orang gila aku menangis perlahan. Meratapi kepedihan hatku yang entah kapan bisa terobati. Sungguh. Teresa keterlaluan memperlakukanku seperti ini.
“Bang…” samar terdengar suara halus di antara deru ombak. Perlahan aku menoleh ke belakang. Siluet serupa wanita nampak di sana.
“Nadya?” kuseka air mataku segera.
“Abang kenapa?” dia mendekat lalu memegang bahuku. “Abang mabuk?”
Sontak aku bangkit dari posisi semula. “Nggak. Abang nggak mabuk,” bantahku seraya menepuk butiran pasir yang menempel di kemeja dan celana jeans-ku.
Nadya menggelengkan kepala seolah sangsi dengan jawaban yang kuberikan. “Ayo, kuantar Abang pulang. Aku tahu Abang sedang mabuk,” tanpa ragu ia menggamit lenganku, seolah memaksa untuk segera pergi dari pantai ini.
Entah apa yang terjadi. Tiba-tiba saja kami bertautan begitu dekat. Ini adalah jarak terdekat saat bibir kami nyaris bersentuhan. Aku merasakan selintas energi untuk menaklukkan bibir ranum itu. Dan tatapannya… Ah Tuhan! Entah apa yang ia perhatikan hingga kedua bola matanya begitu dalam menatapku. Reflek kukecup bibir itu perlahan. Nadya memang tersentak, namun ia sama sekali tidak menyanggahnya. Hingga akhirnya kuberanikan lebih jauh lagi mencumbu setiap lekuk bibirnya.
“Sudah… sudah… jangan dilanjutkan lagi!” sepertinya Nadya mencoba mengembalikan pikiran warasku. Ia segera menoleh lalu menutup wajahnya. “Abang sedang mabuk, aku bukan Teresa, Bang.”
Aku mendekapnya dari belakang. Dengan sedikit gerakan ia berusaha berontak menghempaskanku. “Sebentar saja, Nad. Aku kedinginan,” perlahan ia melunak dan membiarkanku memeluknya erat.
***
Aku tak berani menampakkan batang hidungku di hadapan Nadya. Kejadian semalam terekam sempurna di dalam memoriku. Tapi kenyataannya dia malah sibuk mengirimiku rentetan pesan pendek yang tak satupun kubalas. Rupanya dia masih khawatir dengan kondisiku. Sialan! Ini adalah kali pertama aku terlihat rapuh di hadapan seorang perempuan. Bahkan di depan Teresa, aku belum pernah menampakkan air mata. Entah apa yang ada di benak Nadya, aku tak berani menebaknya. Yang kutahu, aku sangat menyedihkan tadi malam.
“Bang… sebentar lagi aku mau mampir ke tempat Abang. Mau dibawain obat atau yang lain? Mumpung aku masih di jalan.”
Aku melempar ponsel ke sofa setelah membaca isi SMS yang dia kirim barusan. Nadya sungguh tidak memahami kondisiku. Saat ini yang aku butuhkan adalah mengurung diri tanpa ada gangguan dari siapapun. Perlahan aku bangkit lalu meraih ponsel. Mungkin sebaiknya kuhubungi dia agar tak datang untuk sementara waktu.
“Nad…”
“Eh, Abang gimana kondisinya? Udah baikan?”
“Iya. Abang sudah mendingan. Kayaknya abang cuma butuh istirahat sebentar, tidur seharian mungkin bisa membantu. Jadi kamu gak perlu repot dateng, Abang gak mau kamu ninggalin pekerjaan cuma gara-gara Abang.”
“Gak apa-apalah Bang. Lagian sekolahku deket kok sama tempat Abang. Sekalian bawain bubur ayam. Aku yakin Abang belum sarapan. Iya kan?”
Aku malah terdiam, bingung harus menyanggah apa.
“Tenang aja. Aku gak bakal lama. Cuma mau mastiin kondisi Abang.”
“Ya sudah…”
Untuk kesekian kali aku kalah. Perempuan itu selalu memenangi perdebatanku. Ini aneh, tadinya sudah kupastikan dia tak boleh datang ke tempat ini. Kenyataannya, justru aku malah berharap ia datang saat detik-detik akhir percakapan kami. Ah, Tuhan! Seharusnya tak kuhubungi perempuan itu.
Pasca kejadian tadi malam, entah kenapa bayangan Nadya terlihat lebih cantik dari biasanya. Atau hanya sugestiku saja? Seakan kami telah memahami satu sama lain hingga tak ada satupun yang bisa ditutupi lagi. Bodoh! Bagaimana bisa seperti itu? Memahami diriku saja aku tak mampu, bagaimana bisa memahami orang lain—terlebih pada sosok bernama Clara Nadya, perempuan yang baru saja kukenal.
“Gak usah terkesima gitu deh,” canda Nadya sungguh membuatku malu. Lalu aku tersenyum seraya menawarinya masuk ke dalam ruanganku.
“Pagi ini kamu gak ngajar?”
“Ngajar. Jadwalku nanti jam sepuluh,” celotehnya seraya mengeluarkan sekotak lunch box dari kantong kresek berwarna putih. “Abang gak ke dokter? Aku lihat wajah Abang pucat sekali.”
“Nggaklah. Mungkin efek semalam. Mudah-mudahan nanti siang badan Abang segar lagi. Makasih ya, Nad,” aku membuka kotak lunch box itu dan mendapati satu porsi bubur ayam yang menggugah selera.
Senyumnya mengembang saat aku mulai mencicipi bubur itu. Dan sungguh, lengkungan bibir itu tiba-tiba mengingatkanku akan kejadian semalam. Perlahan kuletakkan kembali sendok itu ke tempat semula.
“Nad, soal kejadian semalam. Abang min…”
“Gak usah dipermasalahkan lagi, Bang. Aku sudah lupa,” lagi-lagi seulas senyum nampak di sana.
Tapi sungguh, aku tidak bisa lupa. Bahkan hingga saat ini perasaan bersalah ini tak kunjung mereda. Aku harus melakukan sesuatu.
“Sungguh, Bang. Aku gak apa-apa. Aku ngerti perasaan Abang. Gak usah dipikirkan lagi, ya?” Nadya seolah bisa membaca pikiranku. Ia berusaha menenangkanku. “Ngomong-ngomong, sebaiknya Abang gak usah kerja dulu.”
Kali ini giliran aku yang melengkungan bibir. “Tadi aku sudah menghubungi Carlos. Dia sudah tahu aku sedang tidak enak badan.”
“Syukurlah, Bang.”
Entah apa yang terjadi. Pasca percakapan barusan, kami malah terjebak dalam keheningan. Hanya tatapan kami yang saling beradu satu sama lain. Seolah ingin menerka apa yang sebenarnya terjadi di antara kami. Dan sungguh, gundahku ternyata semakin merajarela.
“Ah… aku harus kembali ke sekolah, Bang,” salah tingkah, Nadya memecah keheningan. “Kalau sempat, aku nanti kembali lagi ke sini,” ia bangkit dari sofa.
“Nad…” ujarku saat ia tepat di mulut pintu.
Perempuan itu menoleh. “Ya, Bang?”
“Makasih buat kebaikan kamu.”
Nadya hanya menyunggingkan senyum lalu perlahan menghilang dari bayanganku.
***
Waktu merayap perlahan. Sungguh terasa lamban. Tadinya kukira kondisiku akan membaik selepas sarapan dan meminum obat anti demam. Tapi kenyataannya malah sebaliknya. Tubuhku terasa sakit, perutku perih. Apa-apaan ini? Apa aku salah makan? Kucoba memikirkan makanan apa yang kukonsumsi beberapa hari ke belakang. Padahal aku adalah pengonsumsi makanan empat sehat lima sempurna. Atau gara-gara minuman itu? Ya Tuhan! Aku hanya minum sebotol. Bahkan aku pernah minum berbotol-botol minuman keras saat bersama kawanku, namun efeknya tidak separah ini.
Aku menyeka keringat dingin yang membasahi dahi dan leherku. Mulai terpikir untuk mengikuti anjuran Nadya untuk memeriksakan diri ke dokter. Tapi, sungguh. Badanku tak mampu untuk bergerak lagi. Aku mencoba merebah sekali lagi di atas ranjang. Memperbaiki posisi tidur agar terasa nyaman.
“Bang…” samar-samar terdengar suara seorang perempuan. Tapi entahlah aku merasa seperti berhalusinasi. Kamarku berputar dan badanku terasa melayang. Masih, suara itu terdengar meski hanya serupa dengungan yang menyamarkan. Kupaksakan untuk bangkit, yang terjadi tubuhku malah tersungkur.
“Bang Shandi!” Akhirnya sosok serupa malaikat menghampiri. Setelah itu aku tak ingat lagi.
***
Masih serupa tanda tanya dalam benakku. Kenapa tiba-tiba sosok kekasihku ada di tempat ini? Dan di mana pula ini tepatnya? Aku terjebak dalam lorong panjang berliku serupa labirin. Teresa berdiri anggun tepat sepuluh meter dari hadapanku. Wajahnya cerah dibingkai oleh rambut panjang ikalnya yang terkibas angin. Sempurnanya lagi gaun lebar berwarna putih itu nampak indah saat jumbainya melayang-layang. Sungguh. Ia serupa dewi.
Teresa tertawa seraya melambaikan tangan, seolah menantang untuk menangkapnya. Bibirku tersungging. Tak perlu berpikir panjang, aku harus segera meraihnya. Tidak peduli belukar tajam di sepanjang labirin yang bisa saja melukaiku. Yang ada di benakku, Teresa harus kurengkuh dan takkan pernah kulepaskan lagi.
Aku terus berlari mengejarnya. “Teresa!” seruku dengan suara terengah-engah. “Jangan lari, Sayang. Tunggu aku!” sementara kekasihku masih tertawa tanpa mau berhenti berlari.
Sekelebat cahaya menghalangi pandanganku. Entah datang dari mana cahaya menyilaukan itu. Aku menerobosnya tanpa peduli apa yang akan terjadi kelak. Namun apa yang terjadi? Yang kudapati justru sosok lain serupa Nadya. Langkahku terhenti. “Nad, Abang melihat Teresa!” seruku sumringah.
Perlahan ia menghampiriku. “Tenang, Bang. Abang bakal baik-baik aja,” ia mengusap dahiku yang berpeluh. “Abang semangat, ya! Aku gak suka Abang kayak gini,” kelopak mataku bergerak-gerak. Rupanya cahaya itu semakin menyilaukan.
Di mana ini? Bola mataku mengitari bayangan di sekitar. Di mana ini? Sungguh bahkan aku tak mengenal kamarku sendiri.
“Bang, demam Abang tinggi sekali. Kita harus ke rumah sakit.”
“Nadya? Kamu sudah lama ada di sini?”
Perempuan itu mengangguk. Maaf, tadi aku masuk gitu aja. Aku kaget liat abang pingsan di lantai. Makanya aku pindahin Abang ke ranjang. Tadi sempat sadar, tapi tertidur lagi. Dan Abang terus-terusan mengigau, nyebut-nyebut nama Teresa.”
Aku bangkit lalu menyandarkan tubuh ke dinding ranjang. “Badan Abang sakit sekali, Nad,” sungguh, aku tak bisa menyimak kata-katanya. Selepas itu Nadya membantu memapahku menuju taksi yang dipesan karyawan hotel. Untuk sementara biarlah kupercayakan hidupku pada Nadya.
***
Remang-remang cahaya perlahan membentuk satu bayangan serupa dirinya. Kami berada dalam satu ruangan berlatar putih dengan pekatnya aroma obat-obatan.
“Di mana ini, Nad?” lirihku.
“Abang ada di rumah sakit. Kata dokter Abang harus di rawat inap selama beberapa hari.”
“Abang sakit apa katanya?”
“Abang kena tipes,” tanpa canggung ia memijit lenganku.
Seorang perempuan berseragam putih memasuki kamarku tak lama kemudian. Ia tersenyum dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur dan obat-obatan. “Hello, Di’ak ka lae[1]?”
Aku hanya melongo lalu menatap Nadya dengan paras bingung.
“Dia bertanya kabar Abang,” timpal perempuan di sampingku seolah tahu apa yang ingin kupertanyakan.
“Lalu aku jawab apa dalam bahasa Tetun?”
Kali ini giliran perawat itu yang tertawa geli. “Kakak boleh jawab pakai bahasa Indonesia. Saya bisa kok Bahasa Indonesia.”
“Oh, maaf saya masih baru tinggal di Timor Leste,” aku jawab sekenanya seraya membalas sunggingan senyum manis perawat itu.
“Abang bener-bener gak ngerti Tetun sama sekali?”
“Iya. Bahkan Abang kesulitan bicara sama teman-teman di kantor.”
Nadya menggeleng. “Masa iya mereka gak bisa bahasa Indonesia. Abang dikerjain tuh.”
“So? Ajari Abang bahasa Tetun,” pada akhirnya aku mengajukan permintaan itu.
Entah kenapa sakitku berangsur mereda. Pastinya itu hanya sugestiku saja, hanya karena ada seseorang yang siap menemaniku selama menginap di Guido Valadares National Hospital.
[1] Halo Apa kabar?

Other Stories
Kepentok Kacung Kampret

Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...

Air Susu Dibalas Madu

Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...

Cinta Bukan Ramalan Bintang

Valen sadar Narian tidak pernah menganggap dirinya lebih selain sahabat, setahun kedekat ...

Cinta Rasa Kopi

Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...

Jodoh Nyasar Alina

Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...

Deska

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Download Titik & Koma