Chapter 4 Sosok Misterius
Reno dan Pak Arya memulai perjalanan mereka menuju Air Terjun Kaca Langit. Mereka berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang jarang dilalui manusia, melewati hutan lebat yang dipenuhi pohon-pohon tinggi dan suara-suara alam yang menenangkan.
Perjalanan ini adalah pelajaran baru bagi Reno. Ia belajar untuk menyatu dengan alam, merasakan energi yang mengalir di sekitarnya.
Dengan cincinnya, ia bisa merasakan getaran tanah, mendengar suara hewan dari jarak jauh, dan membedakan aroma tumbuhan. Kekuatan ini membuatnya merasa lebih terhubung dengan dunia daripada sebelumnya.
Selama perjalanan, Pak Arya banyak bercerita tentang ayah Reno, yang bernama Nareswara. "Ayahmu adalah seorang pria yang hebat," kenang Pak Arya, "Ia adalah pemimpin yang adil dan bijaksana. Ia percaya bahwa siluman dan manusia bisa hidup berdampingan. Keputusan itu tidak disukai oleh sebagian orang, terutama oleh Malkar."
"Malkar, kenapa dia begitu membenci manusia?" tanya Reno, amarahnya kembali memuncak setiap kali nama itu disebut.
"Malkar percaya bahwa siluman adalah ras yang superior. Ia ingin menguasai dunia dan menjadikan manusia sebagai budak," jawab Pak Arya, suaranya dipenuhi kebencian, "Ia mengkhianati klan kita, melenyapkan ayahmu, dan mengambil alih kekuasaan."
Reno mencengkeram erat cincinnya. "Aku akan membalaskan dendam ayahku," gumamnya.
"Balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah, Nak," kata Pak Arya, bijak, "Yang terpenting adalah menghentikan Malkar. Dia tidak hanya mengancam klan kita, tetapi juga seluruh umat manusia."
Setelah berhari-hari berjalan, mereka sampai di sebuah danau yang tenang. Di seberang danau, tersembunyi di balik kabut, tampak sebuah gunung tinggi.
Di puncaknya, terlihat siluet sebuah air terjun raksasa yang airnya terlihat seperti kaca, memantulkan cahaya matahari yang terbenam.
"Itu dia," bisik Pak Arya, "Air Terjun Kaca Langit."
Saat mereka bersiap untuk menyeberangi danau, sebuah sosok misterius muncul dari balik pohon.
Sosok itu mengenakan jubah hitam, wajahnya tertutup tudung. Pak Arya segera mengambil posisi siaga. Reno juga merapatkan dirinya, ia merasakan energi yang tidak asing dari sosok itu. Energi itu gelap, dingin, dan penuh kebencian. Itu adalah energi Sangkar Malam.
"Aku tahu kau datang, pewaris," suara serak dari balik tudung itu menggeram, "Malkar mengirimku untuk membawamu pulang."
Reno tidak mundur. Ia mengaktifkan kekuatannya, dan tubuhnya mulai bersinar dengan cahaya keemasan.
Ia mengepalkan tinjunya, siap untuk bertarung. Ini adalah ujian kedua baginya, dan tidak akan membiarkan siapa pun menghentikannya.
****
Reno mengaktifkan kekuatannya. Tubuhnya diselimuti aura energi keemasan, dan matanya berkilat merah. Di depannya, sosok misterius dari Sangkar Malam menyingkap tudungnya. Wajahnya adalah wajah seorang wanita muda, tetapi matanya memancarkan kebencian yang dalam.
"Namaku Maleya," katanya, suaranya dingin, "Aku adalah pengawal setia Malkar. Aku akan membawamu kembali hidup-hidup atau tidak."
Pak Arya melangkah maju, memposisikan dirinya di depan Reno, "Mundur, Nak. Dia berbahaya."
"Tidak, Pak Arya," jawab Reno, "Ini pertarunganku. Aku harus menghadapinya."
Reno melangkah maju. Maleya menyerang lebih dulu. Ia bergerak dengan kecepatan luar biasa, melesat di antara pepohonan seperti bayangan. Reno mengaktifkan elemen bumi, kakinya menjejak tanah dengan kokoh, dan ia berhasil menghindari serangan Maleya.
Pertarungan pun dimulai. Maleya mengendalikan elemen api, melemparkan bola-bola api ke arah Reno. Reno menggunakan elemen buminya untuk menciptakan perisai dari tanah. Mereka saling menyerang dan bertahan, kekuatan mereka beradu di tepi danau yang tenang.
Meskipun Reno lebih kuat secara fisik, Maleya lebih lincah dan berpengalaman. Maleya berhasil menemukan celah, dan menyelinap di balik perisai Reno, menendang kakinya hingga Reno jatuh. Maleya mengarahkan tinjunya yang diselimuti api ke arah wajah Reno.
"Menyerahlah pewaris," geram Maleya, "Kau tidak sebanding denganku."
Namun, Reno tidak menyerah. Ia melihat cincinnya, dan mengingat kata-kata Pak Arya. Ia harus mengendalikan kekuatannya.
Reno memfokuskan pikirannya pada cincin itu. Ia tidak hanya memusatkan energinya pada elemen bumi, tetapi juga pada elemen air, warisan dari ayahnya.
Tiba-tiba, Reno merasakan sensasi aneh. Aliran air di danau di belakangnya mulai bergejolak. Reno mengarahkan tangannya ke arah danau, dan sebuah pilar air raksasa bangkit, menghantam Maleya dan membuatnya terpental.
Maleya tidak menyangka Reno memiliki kekuatan elemen air. Ia bangkit, wajahnya dipenuhi rasa terkejut dan marah, "Kau adalah pewaris yang sesungguhnya!"
Reno bangkit berdiri. Kini ia tidak hanya mengandalkan kekuatan fisiknya, tetapi juga elemen air yang di kuasai. Ia menciptakan perisai dari air dan melemparkan serangan air yang kuat ke arah Maleya. Maleya berusaha menghindar, tetapi ia tidak bisa. Ia jatuh ke tanah, lemas, dan kalah.
Reno tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia melangkah maju, tangannya sudah siap untuk menyerang. Tetapi, saat ia melihat wajah Maleya ketakutan. Ketakutan yang sama seperti yang ia lihat pada wajah perampok tempo hari. Reno mengurungkan niatnya.
"Aku tidak akan melenyapkanmu," kata Reno, suaranya tenang, "Aku hanya ingin menghentikanmu."
Maleya menatap Reno dengan tak percaya, "Kenapa kau tidak melenyapkanku?"
"Karena aku tidak ingin menjadi sepertimu, sepertinya," jawab Reno, menatap Malkar dengan tatapan penuh tajam, "Aku tidak ingin melenyapkan orang lain. Aku hanya ingin melindungi orang-orang yang kusayangi."
Maleya terdiam. Ia melihat Reno ada ketenangan di matanya, dan menyadari bahwa Reno berbeda dari Malkar. Reno bukanlah monster, ia adalah seorang pemimpin yang sesungguhnya.
"Kembalilah, Maleya," kata Pak Arya, suaranya lembut, "Malkar bukanlah jalanmu."
Maleya menatap Reno dan Pak Arya dengan ragu-ragu, tetapi akhirnya ia mengangguk, "Aku akan kembali. Tapi aku tidak tahu, apakah aku akan kembali kepada Malkar atau tidak." Maleya bangkit dan menghilang di balik pepohonan.
Reno memandang kepergiannya, lalu menatap Pak Arya. "Apa yang terjadi barusan?"
"Kau telah menunjukkan belas kasihan, Nak," jawab Pak Arya, tersenyum, "Ayahmu akan bangga padamu. Kau telah menguasai dua elemen, elemen bumi dan air. Sekarang, kita harus melanjutkan perjalanan. Waktumu tidak banyak."
Reno mengangguk. Ia tahu ini hanyalah awal dari perjalanan panjang. Ia sudah mengalahkan satu musuh, tetapi ada musuh yang lebih besar sedang menunggunya. Dan ia tidak akan menyerah.
****
Reno dan Pak Arya melanjutkan perjalanan mereka. Kemenangan atas Maleya memberi Reno kepercayaan diri yang baru.
Ia tidak lagi ragu-ragu menggunakan kekuatannya, kini tahu bahwa kekuatan itu adalah perpanjangan dari dirinya, bukan sesuatu yang asing.
Luka-luka dari pertarungan itu terasa seolah tidak ada. Kekuatan regenerasi silumannya bekerja dengan cepat, menyembuhkan lukanya dalam hitungan menit.
Saat mereka berjalan, Reno bertanya pada Pak Arya. "Pak, kenapa Maleya tidak melenyapkanku? Dia punya kesempatan."
Pak Arya tersenyum, "Kau memberinya alasan untuk tidak melenyapkanmu. Belas kasihanmu telah membuatnya ragu. Di mata mereka, hanya ada dua jenis orang, siluman atau manusia, tuan atau budak. Kau menunjukkan padanya bahwa ada jalan lain."
Reno mengangguk. Ia tidak ingin menjadi seperti Malkar yang hanya tahu cara melenyapkan dan menguasai.
Ia ingin menjadi seperti ayahnya yang ingin melindungi dan menyatukan.
Mereka akhirnya tiba di kaki gunung, di mana Air Terjun Kaca Langit tersembunyi. Kabut tebal menyelimuti daerah itu, membuat sulit untuk melihat apa pun. Pak Arya berhenti di sebuah batu besar yang diukir dengan simbol yang sama dengan yang ada di buku kuno Reno.
"Ini adalah pintu masuknya," kata Pak Arya, "Hanya keturunan murni klan yang bisa melewatinya."
Reno menyentuh batu itu, dan cincinnya bersinar. Energi dari cincin itu merambat ke batu, dan tiba-tiba, kabut tebal itu mulai menghilang, memperlihatkan sebuah jalan setapak yang menanjak ke atas gunung.
Mereka mulai mendaki. Semakin tinggi mereka mendaki, semakin kuat energi yang mereka rasakan. Energi itu terasa sejuk dan damai, seperti aliran air yang tenang.
Saat mereka mencapai puncak, Reno terperangah. Di depannya, ada sebuah danau kecil, dan dari danau itu, sebuah air terjun raksasa mengalir deras. Airnya begitu jernih hingga terlihat seperti kaca, memantulkan langit malam yang dipenuhi bintang. Reno tahu bahwa inilah tempat yang ia lihat dalam visinya.
"Pohon air," bisik Reno, mengingat teka-teki ayahnya, "Peninggalan ayahku ada di sini."
Mereka berjalan menuju air terjun. Saat mereka mendekat, Reno merasakan dorongan aneh dari cincinnya. Cincin itu bergetar, dan ia tahu bahwa telah menemukan apa yang ayahnya tinggalkan untuknya.
Reno melihat ke bawah air terjun, di mana sebuah gua tersembunyi di balik aliran air.
"Di sana," kata Reno, menunjuk ke gua itu, "Peninggalan ayahku ada di sana."
Mereka masuk ke gua, dan di dalamnya, Reno melihat sebuah pedang yang tertancap di sebuah altar batu. Pedang itu memancarkan cahaya biru yang indah, dan Reno tahu bahwa pedang itu bukan pedang biasa.
"Ini adalah pedang ayahmu, Pedang Penguasa Elemen," bisik Pak Arya, matanya berkaca-kaca, "Pedang ini memiliki kekuatan untuk mengendalikan semua elemen, tetapi hanya bisa digunakan oleh pewaris sejati."
Reno berjalan mendekat, ia menyentuh pedang itu, dan saat ia menyentuhnya merasakan sebuah ledakan energi. Energi itu meresap ke dalam dirinya, membuat tubuhnya terasa lebih kuat, lebih cepat, dan bertenaga.
Ia tidak hanya menguasai elemen bumi dan air, tetapi juga elemen api dan udara.
Kini Reno telah lengkap. Ia memiliki cincin yang membimbingnya, buku kuno yang memberinya pengetahuan, dan pedang yang memberinya kekuatan.
Ia siap untuk menghadapi takdirnya sebagai seorang Manusia Setengah Siluman yang akan mengakhiri kejahatan Malkar dan melindungi dunia.
Perjalanan ini adalah pelajaran baru bagi Reno. Ia belajar untuk menyatu dengan alam, merasakan energi yang mengalir di sekitarnya.
Dengan cincinnya, ia bisa merasakan getaran tanah, mendengar suara hewan dari jarak jauh, dan membedakan aroma tumbuhan. Kekuatan ini membuatnya merasa lebih terhubung dengan dunia daripada sebelumnya.
Selama perjalanan, Pak Arya banyak bercerita tentang ayah Reno, yang bernama Nareswara. "Ayahmu adalah seorang pria yang hebat," kenang Pak Arya, "Ia adalah pemimpin yang adil dan bijaksana. Ia percaya bahwa siluman dan manusia bisa hidup berdampingan. Keputusan itu tidak disukai oleh sebagian orang, terutama oleh Malkar."
"Malkar, kenapa dia begitu membenci manusia?" tanya Reno, amarahnya kembali memuncak setiap kali nama itu disebut.
"Malkar percaya bahwa siluman adalah ras yang superior. Ia ingin menguasai dunia dan menjadikan manusia sebagai budak," jawab Pak Arya, suaranya dipenuhi kebencian, "Ia mengkhianati klan kita, melenyapkan ayahmu, dan mengambil alih kekuasaan."
Reno mencengkeram erat cincinnya. "Aku akan membalaskan dendam ayahku," gumamnya.
"Balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah, Nak," kata Pak Arya, bijak, "Yang terpenting adalah menghentikan Malkar. Dia tidak hanya mengancam klan kita, tetapi juga seluruh umat manusia."
Setelah berhari-hari berjalan, mereka sampai di sebuah danau yang tenang. Di seberang danau, tersembunyi di balik kabut, tampak sebuah gunung tinggi.
Di puncaknya, terlihat siluet sebuah air terjun raksasa yang airnya terlihat seperti kaca, memantulkan cahaya matahari yang terbenam.
"Itu dia," bisik Pak Arya, "Air Terjun Kaca Langit."
Saat mereka bersiap untuk menyeberangi danau, sebuah sosok misterius muncul dari balik pohon.
Sosok itu mengenakan jubah hitam, wajahnya tertutup tudung. Pak Arya segera mengambil posisi siaga. Reno juga merapatkan dirinya, ia merasakan energi yang tidak asing dari sosok itu. Energi itu gelap, dingin, dan penuh kebencian. Itu adalah energi Sangkar Malam.
"Aku tahu kau datang, pewaris," suara serak dari balik tudung itu menggeram, "Malkar mengirimku untuk membawamu pulang."
Reno tidak mundur. Ia mengaktifkan kekuatannya, dan tubuhnya mulai bersinar dengan cahaya keemasan.
Ia mengepalkan tinjunya, siap untuk bertarung. Ini adalah ujian kedua baginya, dan tidak akan membiarkan siapa pun menghentikannya.
****
Reno mengaktifkan kekuatannya. Tubuhnya diselimuti aura energi keemasan, dan matanya berkilat merah. Di depannya, sosok misterius dari Sangkar Malam menyingkap tudungnya. Wajahnya adalah wajah seorang wanita muda, tetapi matanya memancarkan kebencian yang dalam.
"Namaku Maleya," katanya, suaranya dingin, "Aku adalah pengawal setia Malkar. Aku akan membawamu kembali hidup-hidup atau tidak."
Pak Arya melangkah maju, memposisikan dirinya di depan Reno, "Mundur, Nak. Dia berbahaya."
"Tidak, Pak Arya," jawab Reno, "Ini pertarunganku. Aku harus menghadapinya."
Reno melangkah maju. Maleya menyerang lebih dulu. Ia bergerak dengan kecepatan luar biasa, melesat di antara pepohonan seperti bayangan. Reno mengaktifkan elemen bumi, kakinya menjejak tanah dengan kokoh, dan ia berhasil menghindari serangan Maleya.
Pertarungan pun dimulai. Maleya mengendalikan elemen api, melemparkan bola-bola api ke arah Reno. Reno menggunakan elemen buminya untuk menciptakan perisai dari tanah. Mereka saling menyerang dan bertahan, kekuatan mereka beradu di tepi danau yang tenang.
Meskipun Reno lebih kuat secara fisik, Maleya lebih lincah dan berpengalaman. Maleya berhasil menemukan celah, dan menyelinap di balik perisai Reno, menendang kakinya hingga Reno jatuh. Maleya mengarahkan tinjunya yang diselimuti api ke arah wajah Reno.
"Menyerahlah pewaris," geram Maleya, "Kau tidak sebanding denganku."
Namun, Reno tidak menyerah. Ia melihat cincinnya, dan mengingat kata-kata Pak Arya. Ia harus mengendalikan kekuatannya.
Reno memfokuskan pikirannya pada cincin itu. Ia tidak hanya memusatkan energinya pada elemen bumi, tetapi juga pada elemen air, warisan dari ayahnya.
Tiba-tiba, Reno merasakan sensasi aneh. Aliran air di danau di belakangnya mulai bergejolak. Reno mengarahkan tangannya ke arah danau, dan sebuah pilar air raksasa bangkit, menghantam Maleya dan membuatnya terpental.
Maleya tidak menyangka Reno memiliki kekuatan elemen air. Ia bangkit, wajahnya dipenuhi rasa terkejut dan marah, "Kau adalah pewaris yang sesungguhnya!"
Reno bangkit berdiri. Kini ia tidak hanya mengandalkan kekuatan fisiknya, tetapi juga elemen air yang di kuasai. Ia menciptakan perisai dari air dan melemparkan serangan air yang kuat ke arah Maleya. Maleya berusaha menghindar, tetapi ia tidak bisa. Ia jatuh ke tanah, lemas, dan kalah.
Reno tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia melangkah maju, tangannya sudah siap untuk menyerang. Tetapi, saat ia melihat wajah Maleya ketakutan. Ketakutan yang sama seperti yang ia lihat pada wajah perampok tempo hari. Reno mengurungkan niatnya.
"Aku tidak akan melenyapkanmu," kata Reno, suaranya tenang, "Aku hanya ingin menghentikanmu."
Maleya menatap Reno dengan tak percaya, "Kenapa kau tidak melenyapkanku?"
"Karena aku tidak ingin menjadi sepertimu, sepertinya," jawab Reno, menatap Malkar dengan tatapan penuh tajam, "Aku tidak ingin melenyapkan orang lain. Aku hanya ingin melindungi orang-orang yang kusayangi."
Maleya terdiam. Ia melihat Reno ada ketenangan di matanya, dan menyadari bahwa Reno berbeda dari Malkar. Reno bukanlah monster, ia adalah seorang pemimpin yang sesungguhnya.
"Kembalilah, Maleya," kata Pak Arya, suaranya lembut, "Malkar bukanlah jalanmu."
Maleya menatap Reno dan Pak Arya dengan ragu-ragu, tetapi akhirnya ia mengangguk, "Aku akan kembali. Tapi aku tidak tahu, apakah aku akan kembali kepada Malkar atau tidak." Maleya bangkit dan menghilang di balik pepohonan.
Reno memandang kepergiannya, lalu menatap Pak Arya. "Apa yang terjadi barusan?"
"Kau telah menunjukkan belas kasihan, Nak," jawab Pak Arya, tersenyum, "Ayahmu akan bangga padamu. Kau telah menguasai dua elemen, elemen bumi dan air. Sekarang, kita harus melanjutkan perjalanan. Waktumu tidak banyak."
Reno mengangguk. Ia tahu ini hanyalah awal dari perjalanan panjang. Ia sudah mengalahkan satu musuh, tetapi ada musuh yang lebih besar sedang menunggunya. Dan ia tidak akan menyerah.
****
Reno dan Pak Arya melanjutkan perjalanan mereka. Kemenangan atas Maleya memberi Reno kepercayaan diri yang baru.
Ia tidak lagi ragu-ragu menggunakan kekuatannya, kini tahu bahwa kekuatan itu adalah perpanjangan dari dirinya, bukan sesuatu yang asing.
Luka-luka dari pertarungan itu terasa seolah tidak ada. Kekuatan regenerasi silumannya bekerja dengan cepat, menyembuhkan lukanya dalam hitungan menit.
Saat mereka berjalan, Reno bertanya pada Pak Arya. "Pak, kenapa Maleya tidak melenyapkanku? Dia punya kesempatan."
Pak Arya tersenyum, "Kau memberinya alasan untuk tidak melenyapkanmu. Belas kasihanmu telah membuatnya ragu. Di mata mereka, hanya ada dua jenis orang, siluman atau manusia, tuan atau budak. Kau menunjukkan padanya bahwa ada jalan lain."
Reno mengangguk. Ia tidak ingin menjadi seperti Malkar yang hanya tahu cara melenyapkan dan menguasai.
Ia ingin menjadi seperti ayahnya yang ingin melindungi dan menyatukan.
Mereka akhirnya tiba di kaki gunung, di mana Air Terjun Kaca Langit tersembunyi. Kabut tebal menyelimuti daerah itu, membuat sulit untuk melihat apa pun. Pak Arya berhenti di sebuah batu besar yang diukir dengan simbol yang sama dengan yang ada di buku kuno Reno.
"Ini adalah pintu masuknya," kata Pak Arya, "Hanya keturunan murni klan yang bisa melewatinya."
Reno menyentuh batu itu, dan cincinnya bersinar. Energi dari cincin itu merambat ke batu, dan tiba-tiba, kabut tebal itu mulai menghilang, memperlihatkan sebuah jalan setapak yang menanjak ke atas gunung.
Mereka mulai mendaki. Semakin tinggi mereka mendaki, semakin kuat energi yang mereka rasakan. Energi itu terasa sejuk dan damai, seperti aliran air yang tenang.
Saat mereka mencapai puncak, Reno terperangah. Di depannya, ada sebuah danau kecil, dan dari danau itu, sebuah air terjun raksasa mengalir deras. Airnya begitu jernih hingga terlihat seperti kaca, memantulkan langit malam yang dipenuhi bintang. Reno tahu bahwa inilah tempat yang ia lihat dalam visinya.
"Pohon air," bisik Reno, mengingat teka-teki ayahnya, "Peninggalan ayahku ada di sini."
Mereka berjalan menuju air terjun. Saat mereka mendekat, Reno merasakan dorongan aneh dari cincinnya. Cincin itu bergetar, dan ia tahu bahwa telah menemukan apa yang ayahnya tinggalkan untuknya.
Reno melihat ke bawah air terjun, di mana sebuah gua tersembunyi di balik aliran air.
"Di sana," kata Reno, menunjuk ke gua itu, "Peninggalan ayahku ada di sana."
Mereka masuk ke gua, dan di dalamnya, Reno melihat sebuah pedang yang tertancap di sebuah altar batu. Pedang itu memancarkan cahaya biru yang indah, dan Reno tahu bahwa pedang itu bukan pedang biasa.
"Ini adalah pedang ayahmu, Pedang Penguasa Elemen," bisik Pak Arya, matanya berkaca-kaca, "Pedang ini memiliki kekuatan untuk mengendalikan semua elemen, tetapi hanya bisa digunakan oleh pewaris sejati."
Reno berjalan mendekat, ia menyentuh pedang itu, dan saat ia menyentuhnya merasakan sebuah ledakan energi. Energi itu meresap ke dalam dirinya, membuat tubuhnya terasa lebih kuat, lebih cepat, dan bertenaga.
Ia tidak hanya menguasai elemen bumi dan air, tetapi juga elemen api dan udara.
Kini Reno telah lengkap. Ia memiliki cincin yang membimbingnya, buku kuno yang memberinya pengetahuan, dan pedang yang memberinya kekuatan.
Ia siap untuk menghadapi takdirnya sebagai seorang Manusia Setengah Siluman yang akan mengakhiri kejahatan Malkar dan melindungi dunia.
Other Stories
Suffer Alone In Emptiness
Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...
Buah Mangga
buah mangga enak rasanya ...
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...
Rumah Rahasia Reza
Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...
Teka-teki Surat Merah
Seorang gadis pekerja klub malam ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota, meng ...
Konselor
Musonif, 45 tahun, seorang pemilik kios tindik, hidup dalam penantian hampa dan duka yang ...