Chapter 2 Punggung Yang Patah
Almira berjalan gontai, napasnya terasa berat, setiap langkah terasa seperti beban yang tak tertahankan. Malam setelah pesta ulang tahunnya yang hampa, ia memutuskan untuk mencari Leo. Ia berharap, di balik pengkhianatan keluarganya, setidaknya ada satu orang yang tulus mencintainya.
Ia berjalan ke kafe langganan mereka, tempat di mana mereka biasa bertemu. Lampu-lampu kafe yang hangat kontras dengan hatinya yang membeku.
Ia melihat Leo duduk di sudut favorit mereka, tampak santai dengan secangkir kopi. Begitu melihat Almira, Leo tersenyum dan melambaikan tangan.
Senyum itu, yang dulu bisa menenangkan badai di hati Almira, kini terasa seperti topeng yang rapuh.
"Mir, kenapa semalam enggak angkat teleponku?" tanya Leo,
suaranya terdengar lembut, "Maaf, aku ketiduran."
Almira tidak menjawab, ia hanya menatap Leo dalam-dalam. Matanya sembap, dan di sana, tercetak jelas luka yang menganga, "Leo, kamu tahu? Ada kalanya, punggungmu terasa rapuh bukan karena kau membawa beban yang terlalu berat, tapi karena orang yang kau harapkan menjadi sandaranmu justru mematahkannya."
Leo terdiam, senyumnya memudar, "Apa maksudmu, Mir? Kau kenapa?"
Almira tak sanggup lagi menahan air matanya. Ia menangis, isaknya memenuhi ruang kafe yang sepi, "Aku hancur, Leo. Keluargaku, mereka memperlakukanku seperti sampah. Dan, aku cuma punya kamu. Aku berharap kamu datang, jadi aku bisa sandarkan semua luka ini di pundakmu."
Leo berdiri, memeluk Almira, mengusap punggungnya, "Aku di sini, Mir. Selalu. Mereka semua salah. Kamu itu permata terlalu berharga buat mereka."
Kata-kata itu seharusnya menenangkan. Namun, entah kenapa, Almira merasa ada yang janggal. Pelukan itu terasa hampa, dan kata-kata itu terdengar seperti naskah yang dihafal. Di tengah pelukan itu, ponsel Leo bergetar.
Ting!
Sebuah notifikasi pesan masuk.
"Sayang, sudah selesai dengan urusan kamu? Aku kangen."
Almira melepaskan pelukan Leo, matanya tertuju pada layar ponsel yang menyala itu. Leo segera menjauhkan ponselnya, ekspresi wajahnya berubah panik.
"I-itu cuma iklan, Mir," Leo tergagap.
"Iklan?" Almira menatap Leo, hatinya berteriak, "Sejak kapan iklan memanggilmu sayang?"
Air mata Almira kembali tumpah, namun kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan kemarahan yang membara. Ia teringat kata-kata mutiara dari buku yang pernah ia baca. "Pengkhianatan bukanlah sekadar melukai. Ia menghancurkan kepercayaan hingga ke akarnya."
"Leo, aku tidak bodoh," suara Almira bergetar, namun penuh ketegasan, "Aku tahu itu bukan iklan. Aku sudah cukup lelah dibohongi keluargaku. Jangan kau tambahkan lagi kebohongan itu."
Leo mencoba meraih tangan Almira, tapi gadis itu menepisnya.
"Leo, aku pikir kamu satu-satunya orang yang melihatku apa adanya. Aku pikir kamu adalah pelabuhan terakhirku, tempat aku bisa pulang saat badai datang. Tapi ternyata, di tengah laut lepas, perahuku bocor, dan kamulah orang yang sengaja membuatnya tenggelam."
Almira menggelengkan kepalanya, matanya dipenuhi kekecewaan yang teramat dalam, "Aku tidak bisa lagi berharap. Aku sudah terlalu lelah. Punggungku sudah patah. Dan anehnya, bukan karena beban keluarga, tapi karena kamu, orang yang kutaruh harapanku, justru mematahkannya."
Tanpa menunggu penjelasan dari Leo, Almira berbalik. Ia berjalan keluar dari kafe itu, meninggalkan semua harapan, semua janji, dan semua kebohongan di sana.
Di luar, hujan mulai turun, seolah alam ikut merasakan betapa dinginnya hati Almira. Di bawah rintik hujan, Almira akhirnya tahu, bahwa ia benar-benar harus berdiri di atas kakinya sendiri, karena tidak ada lagi tempat untuk bersandar.
Other Stories
Di Bawah Atap Rumah Singgah
Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...
Baca Tanpa Dieja
itulah cara jpload yang bener da baik ...
Membabi Buta
Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
“Miko!!” satu gumpalan kertas mendarat tepat di wajah Miko seiring teriakan nyaring ...
Separuh Dzarah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...