16. Kembali
Ada banyak kehadiran yang begitu dinanti. Namun aku tak pernah tahu apa benar kehadiranku kali ini sebuah kehadiran yang dicintai. Aku ustazah baru yang bakal datang di pondok ini.
Inilah pesantren pertamaku, sebelum aku mondok lagi ke Pulau Jawa. Aku ingin membaktikan ilmuku untuk almamaterku. Seperti yang sebelumnya sudah kuceritakan aku adalah santri angkatan pertama kala itu.
Pagi hingga siang hari aku mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah pesantren, karena di pesantren juga ada sekolah umumnya. Sedangkan sore hari aku mengajar ngaji anak-anak di surau kampungku. Surau yang masih sama kehangatannya, surau di mana untuk pertama kalinya aku belajar huruf hijaiyah, yang diajar salah satunya oleh bapak.
Sebelumnya aku hanya mengajar di SMP di daerahku, namun akhirnya akupun menerima tawaran Bu Nyai untuk mengajar di pesantren. Jadi aku mengajar di dua sekolah.
Menjadi gadis berumur dua puluh tahunan adalah tergolong gadis tua, karena teman sebayaku rata-rata sudah berkeluarga, bahkan di antara mereka sudah ada yang memiliki anak lebih dari satu.
Bahasa kekiniannya adalah jomblo, ya aku si jomblo itu. Ke mana-mana sendirian, setiap bertemu dengan orang selalu ditanya kapan nikah? Pertanyaan itu ekstrimnya sudah mulai muncul di awal kepulanganku.
Setidaknya aku bisa melupakan semua pertanyaan-pertanyaan basi tersebut, kalau aku benar-benar tahu siapa jodoh dan kapan aku akan menikah, sudah kukirim undangan ke rumah penanya setianya. Di sekolah di mana aku mengajar aku bisa melupakan semuanya, pertama kali bertemu dengan anak-anak aku harus menampilkan keramahan, namun pertemuan berikutnya aku akan berubah menjadi guru paling galak dan disiplin. Sebenarnya sih bukan jahat, tapi tegas. Anak-anak saja yang salah mengira dan salah sangka.
Jadwal sekolah sudah segera dimulai, para santri berbondong-bondong menuju kelas masing-masing. Semua anak sudah ada di dalam kelas, bukan karena mereka disiplin biasanya, itu karena takut gara-gara aku gurunya.
Sebenarnya aku tidak segarang yang mereka kira, namun sepertinya wajah ini sudah dari sananya begini. Jadi disyukuri dan dinikmati saja.
Other Stories
Osaka Meet You
Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...
Mozarella Bukan Cinderella
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Di Bawah Atap Rumah Singgah
Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Pantaskah Aku Mencintainya?
Ika, seorang janda dengan putri pengidap kanker otak, terpaksa jadi kupu-kupu malam demi b ...