Dante Fair Tale

Reads
231
Votes
0
Parts
5
Vote
Report
Penulis Ana Rofianti

2. Permintaan Telah Terkabulkan

Pak Edi tengah membukakan pintu untuk Dante ketika tiba-tiba Daisy berlari-lari menuju ke arahnya. Daisy terengah-engah sebentar sebelum berkata, “Apa kamu bisa pergi menonton sepak bola bersama nanti sore?”
Dante sangat ingin menjawab bahwa dia akan pergi bersamanya nanti sore, tapi mendadak Pak Edi mengambil alih, “Saya rasa Tuan Dante tidak bisa pergi, Nona Manis. Hm… orang tuamu tidak akan memberikan izin dan sepertinya jadwalmu sore hari adalah les piano. Benar, Tuan Dante?”
Dante mengangguk lemah dan ia sangat kecewa melihat Daisy tidak berusaha memaksanya pergi lebih lama lagi. “Baiklah, kalau begitu. Sampai jumpa,” kata Daisy sopan, namun tampaknya ia sama kecewanya seperti Dante. Kemudian Daisy kembali bergabung bersama teman-temannya yang sejak tadi berkasak-kusuk menunggu Daisy.
Dante masuk ke mobilnya dan menjadi murung sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya.
Ami menyambutnya di pintu depan dan segera menggendongnya, lalu mengecup Dante hingga pipinya bertambah merah. “Ami! Jangan begitu!” protes Dante, namun ia lelah memberontak, jadi ia biarkan saja Ami menggendongnya masuk.
“Kamu tahu, Sayang? Ayahmu baru saja pulang!” kata Ami ceria.
“Benarkah?!” tanya Dante bersemangat. “Tentu!” jawab Ami memastikan. Dan ia pun menurunkan Dante yang segera berlari menaiki tangga menuju ruang kerja ayahnya. Pintu ruang kerja ayahnya setengah terbuka, Dante pun menghambur masuk. Ia sangat gembira mendengar ayahnya pulang. Saat Dante tiba, ia menyaksikan ayahnya sedang duduk di atas meja kerjanya sambil memegang guci seukuran teko teh dengan gambar naga hijau yang sangat bagus. Berdiri di sampingnya, ibu Dante sedang tertawa-tawa mendengar cerita ayah. Dan beberapa koper terlihat bergeletakan di samping tumpukan kardus yang entah berisi apa, Namun Dante yakin semuanya pasti barang-barang yang menarik bahkan menakjubkan, seperti yang selama ini dibawa pulang ayahnya.
Ayahnya menoleh ke arah pintu mendengar derap langkah Dante. “Dante!!” teriak ayah Dante senang. “Ayah, Ibu… kalian bersama-sama!” kata Dante mendapati kejutan menyenangkan ini. Jarang sekali ia menemukan ayah dan ibunya berada di rumah dalam waktu yang bersamaan. “Tentu saja, Nak!” seru ayah Dante sambil mengangkatnya, “Ah, kamu rindu pada Ayah?” Dante mengangguk dan segera memeluk leher ayahnya.
“Kami semua merindukan Ayah,” kata ibu Dante sambil mengusap-usap kepala Dante.
“Dan Ibu juga. Aku rindu pada Ibu,” aku Dante. Ayah tertawa mendengarnya.
“Nah, kamu sudah makan? Ganti bajumu dan cepat makan!” perintah ayahnya. Tapi Dante tak menghiraukannya, ia melepaskan pelukannya dan berjalan menuju tumpukan kardus besar dan kecil di sudut ruangan. “Apa saja isinya, Yah?” tanya Dante tertarik.
“Hm, harta karun berharga,” kata ayah Dante tersenyum puas. Dante mengambil kotak kecil berwarna hitam yang berada di tumpukan paling atas. Ternyata kotak itu berat sekali sehingga langsung jatuh ketika Dante mengambilnya, tutupnya terbuka dan sebuah bola keperakan seukuran kepalan tangan menggelinding keluar dari kotak itu.
“Dante, apa yang kamu lakukan? Kamu tidak apa-apa?” tanya ibunya cemas.
Terkejut, Dante tidak mendengar ibunya. Kilau cahaya keperakan dari bola yang berpendar membuatnya seakan terhipnotis. Tiba-tiba saja yang paling diinginkannya saat ini adalah memegang erat-erat bola itu dan memilikinya. Dante memungutnya dari lantai dan mengelusnya perlahan.
“Dante?” panggil ibu dan ayahnya bersamaan.
“Ayah, apakah Ayah keberatan jika ini menjadi milikku saja?” tanya Dante sambil mengangkat bola peraknya. “Ah, bola itu ya.. sebenarnya Ayah tidak begitu tahu sejarah dan fungsinya. Itu Ayah temukan di daerah pertambangan bersama dengan harta karun Ayah yang lain,” Ayah tampak menimbang-nimbang keputusannya.
“Berikan saja kalau begitu. Sebagai oleh-oleh,” saran ibu. Pandangan Dante berpindah cepat ke arah ayahnya. Ia sungguh tidak sabar menunggu ayahnya mengatakan ‘ya’. Kening ayah berkerut sejenak, ”Yah, baiklah. Itu hadiah untukmu Dante,” putusnya kemudian sambil mengangkat bahu.
“Terima kasih, Yah!” seru Dante gembira. Ia sangat senang sampai nyaris melonjak-lonjak. Tapi kemudian dia ingat, Hei, aku sudah besar! Melonjak-lonjak hanya untuk anak kecil saja! batinnya. Jadi kegembiraannya hanya tampak pada senyumnya yang sangat lebar. Namun entah kenapa saat menatap bola perak itu, senyumnya berubah menjadi senyum yang janggal.
“Baiklah, Nak! Ayo isi perut kita yang kosong!” kata Ayah sambil menggiring ibu dan Dante menuju ruang makan.
Ayah dan ibu begitu asyiknya bertukar cerita dan tertawa di atas meja makan, hingga mereka tidak sadar bahwa sejak tadi perhatian Dante tidak lepas dari bola keperakan miliknya yang ia letakkan di samping piring makannya. Tangan kanannya memegang sendok makan, sementara tangan kirinya menangkup erat bola keperakan miliknya.
Setelah makan, Dante mendekap bolanya dan tiba-tiba saja ia ingin sendirian di kamarnya, tanpa ada orang lain, hanya bersama bola keperakan di genggamannya. Ia sedikit bingung dengan keinginannya ini, karena saat ini di hadapannya berlangsung hal yang sangat langka. Hal yang sangat diharapkannya sejak dulu, yaitu kedua orang tuanya berkumpul bersamanya, menemaninya. Suasana impiannya sejak dulu. Tapi mengapa tiba-tiba ia tidak menginginkannya lagi? Mengapa ia ingin melewatkan waktu hanya dengan bola keperakannya dan bukannya bersama orang tuanya seperti yang selama ini ia impikan? Ia sama sekali tidak tahu. Benar-benar tidak tahu.
Dante turun dari kursinya dan berniat pergi ke kamarnya. Tapi ayah memanggilnya kembali, “Dante, tunggu sebentar! Mau ke mana kamu, Nak? Kemarilah!”
Dante ingin berkata ’Ya, tentu. Aku akan bersama ayah.’, tapi yang meluncur dari mulutnya ternyata berbeda setelah mendadak genggamannya pada bola keperakan itu semakin erat. “Aku mau ke kamar. Aku lelah, Yah. Dan… dan…”
“Baiklah. Baiklah. Tidak apa-apa, Nak. Tapi nanti sore Ayah ingin mengajakmu pergi memancing. Bagaimana menurutmu?”
Dante hanya mengangkat bahu kemudian melangkah menuju kamar tidurnya, meninggalkan kedua orang tuanya terbengong-bengong melihat sikapnya. Begitu pun dengan Ami yang sejak tadi berseliweran menyiapkan makan, ia sangat heran menyaksikan tingkah aneh Dante siang itu.
Dante masuk ke kamar tidur dan menutup pintu di belakangnya. Ia menutup semua kelambu di jendela dan naik ke tempat tidurnya. Dante mengelus-elus benda berkilauan di tangannya. Matanya memantulkan kilau keperakan yang dipancarkan bola itu. Suasana di sekitarnya menjadi gelap secara perlahan-lahan sampai akhirnya satu-satunya cahaya hanya berasal dari bola di tangan Dante. Hatinya berdebar antara takut dan penasaran terhadap benda kecil di tangannya itu. Bola di genggamannya mulai terasa hangat dan warna keperakan di permukaannya sedikit demi sedikit memudar, sehingga Dante mengetahui bahwa di dalam bola itu ada ruang dan bukannya pejal. Telapak tangan Dante mulai berkeringat menyaksikan apa yang terjadi di depannya.
Namun semuanya tiba-tiba berhenti. Kamarnya kembali diterangi oleh cahaya yang masuk melalui celah-celah kelambu dan warna keperakan kembali menutup seluruh permukaan bola itu. Apa yang terjadi? Dante mendongak cepat. Terdengar ketukan di pintu kamar Dante. Ada perasaan kecewa dan marah di hatinya karena peristiwa tadi tidak berlanjut, entah kenapa.
“Siapa?” sahut Dante ketus.
“Sayang?” Ami menjulurkan kepalanya dari balik pintu. Kemudian Ami masuk dan berdiri di samping tempat tidur Dante. “Kamu tidak apa-apa? Apa kamu sakit?” tanya Ami sambil memeriksa suhu badan Dante dengan menempelkan telapak tangannya di dahi Dante.
“Tidak,” sahut Dante menepis tangan Ami. “Ada apa, Dante? Kamu tampak sangat aneh siang ini,” kata Ami heran.
“Aku tidak apa-apa. Aku hanya sangat lelah. Aku ingin tidur, Ami. Kumohon keluarlah sekarang!” elak Dante. Ami memandang resah ke arah Dante dan melirik bola keperakannya yang tak pernah lepas dari genggaman.
“Ami?”
“Baiklah, aku keluar,” kata Ami menyerah. Ia memandang sejenak bola keperakan itu kemudian melangkah keluar dan menutup pintu kamar tidur Dante. Dante menghela napas dan pandangannya kembali tertuju pada bola keperakannya. Tak berapa lama, hal yang sama kembali terjadi. Suasana di sekitar Dante berubah menjadi begitu senyap dan kegelapan menyelimutinya. Satu-satunya sumber cahaya adalah kilau keperakan bolanya. Warna perak bola mulai memudar. Dante bisa melihat ada ruang di dalamnya dari sedikit celah permukaan yang warna peraknya sudah sama sekali memudar. Dante tidak sabar menunggu.
Tapi kemudian ia melihatnya. Seluruh permukaan bola itu menjadi transparan, tapi masih memancarkan cahaya keperakan. Dan ada sesuatu berwarna hitam bergerak-gerak mengitari ruangan di dalam bola. Dante menatap lekat-lekat ke dalam bola. Jantungnya berdebar semakin kencang. Takut dan penasaran menjadi satu. Benda itu berhenti bergerak-gerak dan balas menatapnya. Dante terpekik tertahan. Napasnya seakan tercekat. Benda itu hidup! Bahkan ia adalah manusia! Tapi ukurannya hanya sebesar ibu jari. Ada sepasang sayap kecil menempel di punggungnya. Ia memakai gaun berwarna hitam super lusuh dan rambut panjangnya tergerai berantakan. Ia seorang wanita.
Dante ternganga melihat apa yang ada di genggamannya sekarang.
“Ah! Akhirnya…” wanita sebesar ibu jari itu bersuara.
Meski ia berukuran mini, suaranya menggaung keras di telinga Dante. Perasaan takut yang lebih besar tiba-tiba menyergapnya.
“Si-siapa kamu?” gagap Dante dengan segenap keberaniannya yang tersisa. Suaranya bergetar lirih menandakan betapa takutnya ia sekarang. Suasana di sekitarnya masih gelap. Dan kali ini mulai membuatnya tidak nyaman.
“Aku?” wanita itu tertawa keras. “Siapa yang tidak mengenalku? Tapi… yah… kamu adalah manusia. Ya… aku mengerti itu. Aku bisa memakluminya,” jelasnya sambil menyeringai menatap Dante lekat-lekat.
“Kalau begitu apa kamu ini sebenarnya?” tanya Dante. Kekhawatirannya semakin memuncak, namun rasa penasarannya berlomba dengan ketakutannya akan makhluk mungil nan seram itu.
“Aku adalah peri. Namaku Zha. Oh, dan ingat! Aku adalah peri yang baik,” jelas Zha memperkenalkan diri dengan tawanya yang membuat bulu kuduk Dante merinding.
“Peri?” ulang Dante sangsi.
“Ya, peri yang hebat. Yang bisa mengabulkan semua keinginanmu. Mengubah impianmu menjadi kenyataan.”
Mata Dante berbinar mendengarnya, “Benarkah?!” tanyanya antusias. Rasa takut dan kekhawatirannya hilang dalam sekejap.
“Tentu saja. Aku bisa membuatmu bebas pergi ke mana pun kamu mau atau… aku bisa mengubahmu menjadi dewasa sehingga kamu bisa melakukan apa pun yang kamu inginkan?” tawar Zha membuat Dante melongo kaget.
“Bagaimana kamu bisa tahu apa yang aku inginkan saat ini?” ujar Dante takjub.
“Aku adalah peri, ingat?” kata Zha terkekeh bangga.
“Aku… aku memang ingin bebas dan aku juga ingin menjadi orang dewasa yang bisa melakukan apapun semauku,” Dante mengutarakan keinginannya, namun entah kenapa ia merasa ragu-ragu apakah dia benar-benar ingin demikian.
“Kalau begitu aku akan membuatmu bebas,” tegas Zha, “Tapi sebelum itu, kamu harus membebaskanku dari benda terkutuk ini! Aku tidak bisa mengabulkan keinginanmu dari dalam sini,” kata Zha mengajukan persyaratan. Ia tampak agak menakutkan kali ini. Dante mulai bertanya-tanya mengapa ia sampai bisa terkurung dalam bola itu.
“Bagaimana kamu bisa berada di dalam sini?” tanya Dante ingin tahu. Lengang sejenak ketika Dante mengutarakan pertanyaannya. Zha tampak gusar dan ragu apakah memberitahukan alasannya pada Dante atau tidak.
“Kamu tidak perlu tahu…” Zha berkata, sambil masih menimbang-nimbang keputusannya. Matanya menilai Dante dari atas ke bawah. Anak di bawah umur sepertinya tak perlu tahu alasan besar di balik peristiwa mengerikan yang membawanya ke sini.
“Aku harus tahu! Kalau tidak, aku tidak akan membebaskanmu!” sambar Dante tak mau kalah. Zha kaget mendengar perkataan Dante, begitupun Dante juga tak menyangka mendapati dirinya tegas mengajukan persyaratan untuk peri. Ia merasa agak di atas angin mendengar Zha tidak bisa melakukan apapun padanya dari dalam bola. Ia bisa mengajukan permintaan apapun. Zha harus menurutinya agar bisa bebas.
“Ya, ya… baiklah,” kata Zha cepat-cepat. Ia tidak ingin kebebasan yang ia tunggu-tunggu selama ini lenyap begitu saja di hadapannya. “Seorang peri yang jahat mengurungku di dalam sini dan membuangku ke dunia manusia karena ia tak ingin aku merebut kekuasaannya,” jelas Zha singkat namun tampak tak meyakinkan.
“Kekuasaan?”
“Ya, kekuasaan. Saat ini dia menguasai dunia peri. Dia adalah Raja Amn,” ujar Zha tak bisa menutupi rasa kesalnya.
“Dunia peri? Apakah dunia peri itu ada?” matanya membulat mendengarnya. Dante tidak pernah menyangka ada tempat berkumpulnya seluruh peri itu. Ia tak bisa membayangkan bagaimana bisa cerita-cerita dalam buku dongengnya ternyata benar-benar nyata.
“Tentu saja ada. Dan dia membuangku di sini…” Zha tampak marah dan mengepalkan kedua tangannya yang mungil.
“Aku ingin pergi ke dunia peri saja!” kata Dante tanpa berpikir.
“Apa?!” teriak Zha kaget, “Tentu saja tidak bisa!”
“Kenapa?!” protes Dante.
“Karena kamu adalah manusia. Jadi kamu tak bisa berada di dunia peri!” kata Zha menang.
“Tapi kamu bisa ke sini…!” kata Dante tak mau menyerah.
“Itu berbeda,” jawab Zha mulai tidak sabar.
“Kalau begitu ubah aku menjadi peri!” kali ini Dante benar-benar tak menghiraukan akal sehatnya.
“Apa?!” teriak Zha lagi.
“Oh ya! Dan juga dewasa. Um… jadi aku ingin kamu mengabulkan keinginanku untuk berubah menjadi peri dewasa dan pergi ke dunia peri. Dan aku akan membebaskanmu. Bagaimana?” tawar Dante sibuk mendaftar keinginannya. Mumpung ada peri di depannya, sekalian saja ia meminta apapun, pikirnya. Pasti menyenangkan sekali berada di antara kerumunan para peri. Mengayunkan tongkat dan bisa mendapatkan apapun yang diinginkan.
Zha terdiam. Ia bingung sekali. Ia terbang berputar-putar di dalam bola sambil memegang dagunya. “Sulit. Ini sangat sulit. Aku memang bisa melakukannya tapi kamu akan menyulitkanku. Aku tidak ingin kamu bersamaku tapi kamu mengetahui bahwa aku bebas,” gumamnya bingung.
Dante tidak begitu mengerti tapi ia mencoba membantu. “Aku tidak harus bersamamu jika memang itu membuatmu sulit,” saran Dante. Di dunia peri sana pasti banyak sekali peri lain yang lebih bersahabat dan tidak galak seperti Zha. Buku-buku dongengnya telah memberi tahu segala sesuatu tentang para peri. Mereka selalu tersenyum dan ceria. Kecuali Zha, tentunya. Ia baru menemukan ada peri segalak dan secerewet Zha.
“Tapi kamu tahu aku bebas!” kata Zha keras. “Dan jangan sebut aku galak atau cerewet, anak kecil!” tambahnya ketus.
“Eh?” Dante tidak tahu peri juga bisa membaca pikirannya. Apa semua peri begitu? Ia terheran-heran. “Aku tidak akan memberitahukannya kepada siapapun!” Dante berusaha meyakinkan.
Zha agak ragu, namun ia sudah tidak sabar, ia ingin segera bebas. “Baiklah,” kata Zha akhirnya. “Oh ya, tidak semua peri bisa melakukan itu. Kemampuanku sudah melebihi mereka semua. Untuk mendengar apa yang kamu pikirkan, itu hanya hal kecil saja bagiku. Tapi tidak bagi yang lain,” jelasnya congkak.
Dante tak menghiraukan lagi penjelasan Zha. Wajahnya berseri-seri. Ia gembira bukan main. Meski tak pernah sekalipun memimpikan hal ini, ia sangat senang akan menjadi peri. Ia akan pergi ke dunia peri.
“Nah, kamu harus membebaskanku dulu,” kata Zha kemudian. Dante mengangguk bersemangat. “Oke. Semuanya tentang keinginan yang ada di dalam dirimu.”
Dante mengernyit. Ia sudah akan membuka mulutnya untuk bertanya ketika Zha melanjutkan, “Kamu hanya perlu menggenggam bola sial ini erat-erat dan pikirkan kalau satu-satunya hal yang paling kamu inginkan saat ini adalah aku bebas.”
“Hanya itu?” tanya Dante heran.
“Ya. Dan ingat, kamu harus benar-benar ingin aku bebas! Dengan begitu aku akan bisa mengabulkan keinginanmu.”
“Baiklah. Itu hal yang mudah,” ujar Dante kemudian. Ia menggenggam bola itu erat-erat dan memejamkan mata. Hening sejenak, suasana di sekitarnya masih gelap. Tapi tidak terjadi apa-apa pada bolanya.
“Harus benar-benar ingin aku bebas. Bayangkan aku adalah ratumu yang sangat kamu hormati dan kamu puja. Bayangkan kamu adalah budakku. Kebebasanku adalah keinginan terbesarmu!” bisik Zha, namun Dante bisa mendengarnya dengan jelas. Dante mengambil napas dan kembali berkonsentrasi.
Aku adalah budak Zha. Dia adalah Ratuku. Aku ingin dia bebas. Karena ia pun akan membebaskanku, Dante berkata dalam pikirannya. Bola keperakan itu mulai terasa hangat. Dante terus mengulangi keinginannya dalam pikirannya. Bola di genggamannya memanas, dan menjadi sangat panas hingga Dante tidak sengaja melepasnya. Bola itu menggelinding jatuh ke lantai dengan suara berderak. Ternyata bola itu kuat sekali karena tak ada tanda-tanda pecah atau rusak, meskipun jatuhnya dari tempat tidur yang lumayan tinggi. Dante kaget, ia buru-buru mengambil bola itu, yang sudah kembali dingin.
“Apa yang kamu lakukan?!” teriak Zha marah, “Kalau bola ini pecah, aku akan mati! Dasar anak bodoh kamu ini!” makinya kesal.
“Hei, aku tidak bodoh!” protes Dante ikut kesal, “Tadi itu benar-benar panas, tahu! Kamu ini sangat menyebalkan,” kata Dante marah.
“Kamu ingin aku membuatmu bebas atau tidak?” tanya Zha pelan setelah dapat mengendalikan emosinya.
Dante terdiam, kemudian menjawab ragu, “Yah... ya, tentu. Aku ingin bebas. Aku ingin pergi ke dunia peri.”
“Kalau begitu bebaskan aku! Jangan pedulikan rasa panasnya. Kamu tidak akan mati hanya karena itu. Jangan cengeng!” kata Zha berapi-api.
“Aku tidak cengeng!” sahut Dante. Dan ia pun segera menggenggam erat-erat bola itu. Ia berkonsentrasi penuh kali ini. Rasa panas mulai menjalari jemarinya, rasanya seperti membakar telapak tangan Dante. Tapi ia tidak menghiraukannya. Dahinya berkerut menahan rasa sakit di tangannya.
Aku bukan anak yang cengeng! Batinnya, sambil terus menggenggam bola itu erat-erat. Zha menatap tajam Dante, berharap kali ini ia berhasil.
Saat Dante merasa ia sudah tak kuat lagi dan tangannya mulai mati rasa, tiba-tiba saja bola itu lenyap dengan memancarkan cahaya merah menyilaukan. Dante membuka matanya. Kini di genggamannya hanya ada Zha, tanpa selubung kaca. Zha melambai-lambai keras padanya.
“Lepaskan! Lepaskan aku!” katanya serak. Ia seperti kehabisan napas. Dante segera melepasnya ketika menyadari genggamannya terlalu kuat untuk orang sekecil itu.
Zha melayang-layang gembira di depan Dante. Ia tertawa terbahak-bahak. Melayang cepat mengitari ruangan kamarnya seperti peluru keluar dari lubang pistolnya. Setelah lelah berputar-putar, Zha melayang pelan tepat di depan wajah Dante. Ia terlihat begitu senang tetapi juga agak menyeramkan melihatnya tanpa selubung kaca.
“Bagus sekali, Pipi gemuk. Nah, sekarang aku akan menepati janjiku,” ujar Zha.
Dante mengangguk-angguk antusias dan tidak sabar menunggu sesuatu terjadi padanya. Ia tak peduli lagi dipanggil Pipi Gemuk, sebentar lagi ia akan berubah. Ia tak bisa membayangkan bagaimana rasanya berubah menjadi peri. Ia akan menjadi sekecil ibu jari.
“Kamu memintaku mengubahmu menjadi peri dewasa dan kamu ingin pergi ke dunia peri?” Zha mengulangi keinginan Dante sebelumnya.
“Ya, itu keinginanku!” sahut Dante bersemangat. “Eh, tunggu. Kamu tidak perlu tongkat untuk melakukannya?” tanya Dante heran.
“Tongkat?” Zha tertawa keras, “Kekuatanku sudah melebihi apapun hingga tongkat tidak lagi berguna untukku,” jelasnya dramatis.
Dante kagum mendengarnya. Zha tersenyum puas. Kemudian ia mulai memutar-mutar tangannya dengan gerakan aneh. Mulutnya komat-kamit dan tampak berkonsentrasi penuh. Cahaya merah keluar dari tangannya, cahaya itu semakin besar dan menguat, kemudian Zha melemparkan cahaya merah di tangannya ke arah Dante. Kini seluruh tubuh Dante diselubungi cahaya merah. Mendadak Dante tak bisa melihat apa-apa. Semuanya menjadi putih dan rasanya seluruh tubuh Dante kesemutan. Napasnya sesak tak karuan.
“Kita pergi ke dunia peri!” terdengar gaung suara Zha samar-samar. Kemudian serasa ada ledakan di depannya. Ia terpental, melayang menjauh entah ke mana. Dante tidak bisa mengingat apapun lagi.
Cahaya keperakan di kamar Dante sudah terangkat. Suasana gelap yang semula menyelimuti telah hilang. Begitu juga dengan Zha dan Dante. Mereka lenyap. Yang tertinggal sekarang hanyalah ruangan kosong yang sunyi.
***

Other Stories
Aku Bukan Pilihan

Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...

Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )

pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...

Kidung Vanili

Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...

Death Cafe

Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...

Boneka Sempurna

Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...

Download Titik & Koma