Staf D
Teror demi teror terjadi. Pagi itu, seperti sengatan listrik yang dirasakan oleh Nadiva. Pak Revan adalah seseorang yang dikenalnya sejak hari pertama dia ada di perusahaan ini. Sudah menjadi orangtua bagi Nadiva.
“Revan adalah saudara bagi saya. Kami membangun perusahaan ini sejak tiga puluh tiga tahun yang lalu. Saya sangat berduka.” Adhar Irfandi mengusap wajahnya. Kelihatan sang direktur benar-benar terpukul kali ini.
“Kita harus mengusut siapa penyerang...”
“Pak...”
Nadiva mengacung tanpa aba-aba. Seluruh mata terpaku pada gadis itu.
“Bagaimana jika ini bukan tentang monster yang sedang menunggu runtuhnya perusahaan ini?”
Adhar Irfandi memicingkan matanya. Raut muka tua itu terlihat jelas di gurat wajahnya. Wajah-wajah lelah yang mulai pasrah akan kehidupan yang tinggal hitungan jari.
“Saya diperkenalkan oleh seseorang tentang sebuah yayasan,” Nadiva melanjutkan ucapannya.
“Yayasan?”
“Yayasan yang akan membantu kita untuk mengetahui penyerangan ini.”
Semua mata seperti tak berkedip. Penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Nadiva sekaligus penasaran dengan apa reaksi Adhar Irfandi yang terkenal susah goyah mempertahankan pahamnya sendiri.
“Gihon... Teman yang dulu mengantar saya ke kantor saat...”
“Saat hari kematian Revan sekaligus penyerangan sama kamu juga?” Adhar Irfandi memotong cepat. Nadiva mengangguk.
“Teman saya memiliki koneksi yang baik dengan mereka karena dia juga mantan Staf D di sana.”
“Staf D?”
“Ya. Staf D adalah pegawai yayasan yang memiliki kemampuan memadai untuk meluluhkan penyerangan.”
“Nadiva.” Adhar Irfandi menekankan suaranya menyebut nama Nadiva. “Kamu percaya sama temanmu?”
Nadiva mengangguk perlahan. Untuk sekarang percaya.
“Kalau kamu percaya, kamu boleh mengajak dia. Hanya dia. Kita tak butuh yayasan untuk menangani masalah ini.”
“Masalahnya, dia sekarang hanya mantan Staf D. Kalau untuk membantu memberhentikan penyerangan, dia tak memiliki wewenang lagi karena dia sudah berhenti bekerja di sana. Dia hanya punya koneksi yang akan membantu kita terhubung dengan yayasan yang bisa membantu kita.”
Adhar Ifrandi terdiam sangat lama.
“Apa nama yayasannya?” Adhar bersuara pelan.
“SCP Foundation.”
Nama itu terlepas begitu saja ke udara. Tak ada yang bersuara. Gedung megah itu seperti tak berpenghuni selama seabad.
“Kita harus tetap menjaga kerahasiaan ini dari perusahaan lain.”
Benar. Harga diri yang dimiliki oleh Adhar Irfandi yang begitu mahal tentu akan anjlok jika perusahaan tersaing mengetahui masalah perusahaan itu. Benar bahwa harga diri yang dimiliki oleh Adhar Irfandi boleh dibayar dengan apapun, sekalipun itu dengan nyawa orang yang dianggap sudah menjadi nadinya.
Other Stories
Separuh Dzarah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...
Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat
Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...
Mozarella (bukan Cinderella)
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseora ...
Pertemuan Di Ujung Kopi
Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...
Akibat Salah Gaul
Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...
Puzzle
Karina menyeret kopernya melewati orang-orang yang mengelilingi convayer belt. Koper ber ...