Mitos Baik Vs Mitos Buruk
Pukul 09.30
Aku bergegas menelan habis sisa kunyahan roti terakhir di mulut ketika Dimas sudah mengetuk pintu kamarku. Segala perbekalan untuk liputan di Candi Borobudur sudah kupersiapkan dari semalam. Tape recording, pulpen, dan buku kecil jika diperlukan sudah siap dalam tasku. Dimas pun sudah siap dengan kamera SLR-nya. Mobil sewaan beserta sopir dari hotel tempat kami menginap juga sudah siap. Sepertinya petualangan ini akan menarik, pikirku.
“Ada yang ketinggalan nggak?” tanya Dimas. Aku hanya menggeleng dan mengacungkan jempolku yang lentik tanda semua sudah beres.
Sepertinya hari ini cerah. Langit Jogja sudah terlihat benderang di jam sepagi ini. Aku bernyanyi kecil sambil mendengarkan musik dari headphone ponselku. Dimas masih dengan kebiasaannya selalu sibuk dengan gadget kesayangannya. Entah apa saja yang dia lihat di sana, aku kadang cemburu dibuatnya.
Kudengar Hp Dimas yang satu lagi berdering tanda panggilan masuk. Segera ia letakkan gadget itu dan menerima telepon dari seseorang.
“Ya, halo Om?” sapanya. Aku melepas headphone dari telingaku.
“Kami dalam perjalanan ke Candi Borobudur, Om.” rupanya bos besar yang menelepon Dimas. “Segera kami laporkan segala kegiatan kami. Ya, gimana, Om?” tanya Dimas sambil matanya melirik padaku.
“Devi? Dia baik-baik aja, Om. Nih lagi duduk di sampingku,” jawabnya. Hemm... pasti si bos tanya keadaanku. “Oke, Om. Bye...”
“Ada apa?” tanyaku cepat saat Dimas menutup teleponnya.
“Om tanya keadaanmu.”
“Kenapa kamu nggak bilang tambahin uang sakunya biar kita nggak kelaparan di negeri orang?”
“Weh, kamu ini mata duitan gitu sih?” jawab Dimas. Aku tersenyum kecil melihat ekspresi Dimas yang agak culun gitu. “Yups! Kita udah sampai. Jangan sampai ada yang ketinggalan di mobil karena kita akan jauh dari tempat parkiran,” tukas Dimas mengingatkanku.
Aku berjalan beriringan dengan guide yang memang disediakan untuk menerangkan pada kami sejarah Candi Borobudur. Terik mentari benar-benar menyengat kulitku. Kalau gini caranya aku harus segera ke salon sepulang liputan nanti. Masa calon pengantin kulitnya gosong kayak gini? Gerutuku dalam hati.
Sepanjang perjalanan menuju candi, guide yang bersama kami terus menjelaskan sejarah Candi Borobudur berdiri. Candi yang terletak + 15 km sebelah selatan Kota Magelang ini didirikan sekitar tahun 800 M, pada abad ke 8. Candi Borobudur dibangun oleh wangsa Syailendra.
Aku terpaku mendengar cerita sejarah Candi Borobudur. Sebagian memang sudah kutahu sewaktu pelajaran sejarah di sekolah dulu. Dalam hati aku terus berdecak kagum atas orang-orang yang sudah bergotong royong dalam membangun candi ini. Kami semakin mendekati bangunan candi. Aku berhenti seketika saat kuingat tentang Arca Urung. Di mana letak arca itu? Aku harus hati-hati melewatinya, pikirku.
“Dev, kenapa berhenti?” tanya Dimas heran. Aku masih terpaku mematung. “Hey, Dev!” teriak Dimas. Aku tersentak.
“Eh, nggak kok! Tadi aku hanya mikir di mana aku taro kunci kamar hotel,” jawabku berbohong. Aku nggak mau Dimas atau guide itu berpikir macam-macam.
“Lalu, kamu taro di mana kuncinya?”
“Aku baru ingat kalau kuncinya ada dalam tasku ini. He he...” sahutku sambil nyengir.
Aku berjalan membuntuti mereka. Perasaanku semakin nggak enak saat semakin mendekati bangunan candi. Dadaku berdegup kencang. Weh, kenapa sih aku ini? Aku coba mengingat di mana letak Arca Urung itu. Menurut yang aku baca dari Mbah Gugel, Arca Urung ada pada sebelah kanan dan kiri tangga naik candi. Arca Urung sering juga disebut Singa Urung. Tapi di mana patung singa itu?
“Dev, kamu nyariin apa sih?” tanya Dimas yang melihatku celingukan.
“Hemm, aku lagi cari... eh ya Pak, di mana letak Arca Urung itu?” tanyaku pada guide candi.
“Lho, Mbak nggak lihat apa? Itu yang barusan kita lewati ya Arca Urung namanya. Itu lho yang ada patung singa yang tadi kita naik tangga.”
“Apa?!” teriakku panik. Jadi aku dan Dimas sudah lewati Arca Urung? Mataku memandang Dimas penuh cemas.
“Kamu kenapa, Dev? Kamu sakit?” tanya Dimas mendekati dan memegang keningku. Keringat dingin mengalir dari tubuhku.
“Mbak sakit toh?” tanya Pak Bundi, guide candi. Aku hanya menggeleng lemas. OMG... gimana ini?
“Pak, apa benar mitos tentang Arca Urung ini?” tanyaku spontan.
Pak Bundi tersenyum. Mungkin ia baru sadar akan ketakutanku, “Menurut kepercayaan orang-orang sini ya begitu, Mbak.”
“Begitu bagaimana, Pak?” tanyaku penasaran.
“Mitos itu sudah turun temurun dipercaya. Arca Urung atau Singa Urung adalah sebutan untuk sepasang arca singa yang tadi kita lewati. Menurut cerita, sepasang kekasih yang lewat di antara kedua arca tersebut hubungannya tidak akan sampai pada jenjang pernikahan. Urung itu dalam bahasa Jawa dapat diartikan gagal, Mbak,” jelasnya.
Aku semakin lemas mendengarnya. Bukan nggak mungkin mitos itu akan terbukti dalam hubunganku dengan Dimas. Walaupun Mama pernah juga bilang jangan terlalu percaya dengan mitos, serahkan saja semua pada Tuhan.
“Ayo, kita teruskan ke atas. Masih banyak yang harus dijelaskan,” ujar Pak Bundi.
“Sudah Mbak, nggak usah terlalu khawatir, pasrahkan saja pada Yang Kuasa,” sambungnya yang melihatku masih cemas.
Aku benar-benar cemas. Ini bukan main-main, pikirku. Kenapa aku bisa ceroboh dengan Arca Urung itu? Padahal sebelum datang kemari aku sudah hati-hati untuk melewati arca itu. Sekarang kami menaiki teras berikutnya dari candi. Di sini juga ada mitos tentang arca yang lain.
Mitos yang paling terkenal adalah Kunto Bimo, yaitu arca dalam stupa yang konon dapat mengabulkan permintaan. Terletak di stupa sebelah kanan pada teras lingkaran pertama. Pak Bundi menjelaskan dengan penuh serius. Dimas yang sedari tadi sibuk mengambil gambar dengan kameranya juga tak begitu memperhatikanku.
Tape recording masih menyala di tanganku untuk merekam setiap yang dijelaskan Pak Bundi. Hey, kenapa aku nggak ikuti saja apa yang Pak Bundi terangkan? Bukankah di stupa ini dapat mengabulkan tiap permintaan bagi yang dapat menyentuh bagian tertentu dari arca?
Aku segera mendekati Arca Kunto Bimo. Dan mencoba memasukkan sebelah tanganku untuk menyentuh telapak kaki dari arca di dalam stupa. Tapi herannya tanganku nggak sampai, walau sepertinya telapak kaki arca bisa dengan mudah kusentuh.
“Ayo Mbak, dicoba lagi!” ujar Pak Bundi menyemangatiku. Aku mencoba lagi dengan tangan kananku. Semoga saja kali ini berhasil, pikirku. Tapi tetap saja tangan kananku tak dapat menyentuh telapak kaki arca. Aku semakin penasaran.
“Masa sih gue nggak bisa, orang kelihatan gampang gitu,” gerutuku dalam hati.
Kali ini aku agak sedikit membungkuk agar sebelah tanganku sampai pada telapak arca. Jari-jari kugerakkan untuk dapat menyentuhnya walau sedikit sembari berdoa kalau apa yang aku khawatirkan tentang Arca Urung tak menjadi kenyataan. Yups! Akhirnya jari tengahku dapat menyentuh telapak kaki arca itu.
“Waw..!” teriakku kegirangan. “Dimaaas ! Aku berhasil menyentuhnya!” teriakku lagi. Dimas menoleh padaku dengan tersenyum. “Dim, cepat kemari! Kamu harus bisa juga menyentuh arca ini biar mitos Arca Urung bisa dipatahkan. Ayo cepat Dim!”
Pak Bundi tertawa melihatku yang melompat kegirangan seperti anak kecil. Dimas cepat mendekati dan memberikan kameranya padaku. Lalu ia menggulung lengan bajunya. Hatiku berdegup kencang. Berharap Dimas juga dapat menyentuh posisi tangan atau mudra dari arca.
“Auw!” teriak Dimas saat lengannya bergesekan dengan dinding stupa yang kasar. Ada luka baretan di lengannya. Tapi Dimas tak gentar, ia mencoba sekali lagi dengan tangan yang lain.
“Dimas, jangan lupa ucapkan doa kalau sudah menyentuh tangan arca!” kataku mengingatkan Dimas. Aku masih deg-degan melihat perjuangan Dimas menyentuh tangan arca itu.
“Yes! Aku berhasil!” teriak Dimas. Aku melompat kegirangan. Berarti mitos Arca Urung sudah dapat dipatahkan dengan mitos Kunto Bimo.
Tak terasa sore sudah tiba. Aku dan Dimas kembali ke hotel untuk beristirahat karena besok kami harus melanjutkan perjalanan ke Cina. Petualangan kami yang pertama telah selesai. Walau di hatiku masih meninggalkan jejak keraguan tentang mitos Arca Urung.
Ya Tuhan, semoga saja mitos itu tak mendatangi kami yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan. Aku pandangi foto Dimas di wallpaper Hp-ku. Cowok yang baik yang mau menerimaku apa adanya, begitu juga dengan keluarga besarnya. Tidak seperti Rifky yang tak mau berjuang untuk hubungan kami. Aaah… luka itu kembali terkuak walau sesungguhnya aku masih mencintainya.
Other Stories
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Melupakan
Dion merasa hidupnya lebih berarti sejak mengenal Agatha, namun ia tak berani mengungkapka ...
Akibat Salah Gaul
Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...
Hellend ( Noni Belanda )
Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...
Kukejar Impian Besarku
Ramon, Yongki,Dino,Jodi,Eka adalah sekumpulan anak band yg rutin manggung di sebuah cafe d ...
Di Bawah Panji Dipenogoro
Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...