Si Mata Sipit Yang Genit
Rabu, pukul 10.30 WIB
Aku bergegas merapikan koperku yang kini sudah bertambah isinya. Semalam sempat membeli tas berukuran sedang di Malioboro untuk cadangan isi koperku. Jam 2 siang nanti aku dan Dimas harus sudah sampai di Bandara Adi Sucipto untuk take off menuju Beijing. Perjalanan kedua kami di tujuh keajaiban dunia.
Lelah memang, tapi aku begitu bersemangat menuju Beijing karena di sana kami akan melakukan foto praweeding di Tembok Besar Cina. Satu tempat yang tak pernah terbayang olehku akan berfoto bersama Dimas untuk pernikahan kami nanti.
“Dim,” panggilku di depan pintu kamar Dimas yang tertutup.
“Masuk aja, nggak di kunci!” teriaknya dari dalam.
Aku menguak pintu dan membiarkannya sedikit terbuka. Kulihat Dimas juga sedang berkemas merapikan barang-barangnya. Aku menatap Dimas tanpa sepengetahuannya. Seandainya saja ini perjalanan honey moon, pasti akan terasa lebih menyenangkan, gumamku di hati.
“Sudah selesai berkemasnya?” tanya Dimas dengan lirikan matanya. Aku hanya mengangguk.
“Lagi musim apa yah di Beijing?” tanyaku.
Dimas hanya diam. Ia sedang sibuk dengan kameranya. Gadget dan kamera, dua benda yang mampu menyaingi keberadaanku di dekatnya. Aku duduk di tepi tempat tidur berseberangan dengan Dimas. Hemm… untung saja dengan benda mati, kalau dengan cewek pasti sudah kutikam habis dia, gerutuku.
“Yups selesai! Cepat kamu siap-siap, sebentar lagi kita akan berangkat!” perintah Dimas padaku.
Aku ngeloyor keluar kamar Dimas. Segera kuambil tas dan koperku di kamar. Ada OB yang membantu membawakan koper-koperku dan Dimas. Masih dengan sopir taksi menuju Bandara Adi Sucipto, aku meninggalkan Jogja dengan perasaan yang nggak karuan. Entahlah, sepertinya ada suatu kekhawatiran yang tertinggal di sana.
***
Pukul 16.00… waktu Beijing.
Pesawat Garuda Airlines yang kami tumpangi mendarat di bandara internasional ibu kota Beijing (Beijing Shoudu Guoji Jichang). Bandara ibu kota yang berlokasi di Distrik Chaoyang, 32 km dari pusat Kota Beijing ini termasuk bandara terbesar di Beijing.
Aku dan Dimas melanjutkan perjalanan menuju hotel di tengah pusat Kota Beijing. Istirahat semalam sebelum kami melanjutkan perjalanan inti menuju Tembok Cina. Aku menutup wajahku dengan masker ketika turun dari taksi. Polusi yang berat memang selalu menjadi ciri dari Kota Beijing. Beda tipis dengan Jakarta, pikirku.
Dimas sedang mengisi buku tamu hotel. Aku hanya duduk di kursi tamu lobby hotel. Tempat wisata di Beijing cukup menarik. Ada Museum Kuno atau disebut juga dengan Kota Terlarang. Ada Kuil Tiantan ( Kuil Langit). Terdapat juga gerbang Tian An Men yang sudah berdiri sejak tahun 1417.
Aku membolak-balik brosur wisata yang terdapat di meja tamu. Kalau saja ini honey moon, pasti aku sudah datangi seluruh tempat wisata itu, gumamku di hati.
Dimas menoleh padaku lalu ia kembali berbincang dengan gadis itu. Si mata sipit, receptionist hotel tak berkedip menatap Dimas. Hemm genit juga cewek itu, pikirku. Aku segera beranjak menghampiri Dimas.
“Xi wang nin manyi zhu zai zheli.[1]” ucap si mata sipit sambil mengerjap genit pada Dimas.
“Xie xie…[2]” Dimas menjawabnya dengan tersenyum ramah dalam bahasa Mandarin. Tak kusangkal, kemampuan bahasa Mandarin Dimas lumayan baik.
Hemm, aku mendengus kesal. Di depan aku saja cewe itu masih berani bergenit ria dengan Dimas. Nggak tahu apa kalau aku ini calon istrinya? Aku dan Dimas naik lift untuk menuju kamar kami di lantai 3.
Hotel King Parkview bintang 3 ini bertarif Rp527.094 untuk semalamnya. Lumayan murah dibanding hotel-hotel lain di Kota Beijing ini. Seperti biasa kami memesan dua kamar untuk lima malam. Waktu yang cukup lama karena kami harus booking waktu dan tempat untuk foto praweeding, juga mencari studio foto yang akan mengambil foto praweeding kami.
Hari ini cukup melelahkan untukku. Dimas sudah masuk kamarnya setelah tadi sempat mencium keningku terlebih dulu. So sweet... memang Dimas selalu mesra padaku. Kurebahkan tubuh di kasur empuk kamar hotel ini. Ponselku berdering. Pasti Mama, tebakku yang langsung menjawab telepon tanpa melihat siapa si penelpon.
“Haloo..” sapaku.
“Dev, gimana kabarnya lo? Rese lo nggak kasih kabar gue! Gimana di Borobudur? Sekarang lo sama Dimas lagi di mana?” Ivana nyerocos dengan banyak tanyanya. Suaranya yang nyaring membuat telingaku serasa mau pecah.
“Wew, lo kayak kereta api sih panjang gitu nanyanya?” teriakku sambil bangun.
“Lo gimana sih, janji mau update berita terbaru tiap kali lo liputan? Gue tunggu-tunggu malah nggak ada?!” Ivana, si suara cempreng masih saja memberondongku dengan ke ‘kepoannya’.
“Lo kira gue facebook apa, selalu update berita terbaru?” jawabku setengah kesal. “Gue sekarang udah sampai di Beijing.”
Dan bla bla bla…
Aku menceritakan perjalananku dari Borobudur hingga saat ini di Beijing. Ivana terdiam. Entah kenapa tiba-tiba pertanyaannya yang panjang mirip kereta api itu seakan hilang. Terakhir yang masih kuingat Ivana mengatakan, “Aku sepertinya punya firasat buruk tentang kalian, Dev.”
kalimat yang kini jadi pikiranku sepanjang malam. Apa maksudnya? Aku pejamkan mata untuk mengusir cemas ini. Semoga esok kubuka mata, cemas ini sudah tak ada.
***
“Xiaojie, wo neng zhao yijia xinglou tiqian hunli?”[3] tanyaku pada receptionist yang berjaga di lobby hotel. Gue melirik pada Devi yang duduk di kursi lobby hotel. Hidung bangirnya tampak tinggi menjulang dari samping.
“Di er, wo hui se ban.”[4] jawab si mata sipit ini tersenyum manis. Kulihat dia membuka sebuah buku besar. “Shui yuanyi jiehun ma?”[5] tanyanya sambil matanya menatap gue sebentar.
“Wo he wo de airen. Ta shi nuhai, you,”[6] sahut gue sambil menunjuk ke arah tempat duduk Devi.
“Ooo... wo juede ni haishi ziji. Wo huaixi ta shi ni de meimei,”[7] ucapnya sambil menunduk malu. “I’m sorry...”
“Shi de, mei wenti.”[8] jawab gue membalas senyumnya. Gue menoleh lagi pada Devi. Mata kami beradu tepat di tatapan yang sama. Devi tampak bingung melihat gue yang tersenyum menatapnya.
“De yinglou de mingzi. Hui shi shenme wo de lianxi fangshi?”[9] gadis itu menunjukkan alamat dan nomor telepon studio yang gue cari. Gue hanya mengangguk. Lalu ia dengan sigap memutar nomor telepon yang dituju.
“Dev, kemari sebentar!” panggil gue. Devi menghampiri dan mendekat. Gue jelaskan sama dia kalau studio tempat untuk foto pra-weeding sudah berhasil gue temukan. Dengan mengambil paket maka yang harus dibayarkan adalah 1055.5 sen. Atau dalam rupiah sekitar Rp2 jutaan. Sudah termasuk copi-an dalam bentuk CD dan hasil cetak mininya.
“Gimana, Dev?” tanya Dimas. Devi hanya diam, lalu ia melirik pada si mata sipit yang menatap gue sedari tadi.
“Lo ngobrol apa aja sih tadi sama dia?” tanya Devi yang tiba-tiba bertanya demikian. Hemm… kalau udah pake bahasa begini pasti Devi lagi kumat ngambeknya. “Asyik benar dari tadi gue liatin, Pakai senyum-senyum segala lagi!”
“Doo... jadi cemburu nih?” tanya Dimas dengan maksud menggodanya. “Aku kan cuma tanya dia soal studio foto. Beruntung dia mau bantu kita lho! Jadi kita nggak usah bingung lagi. Besok kita liputan ke Tembok Cina dan lusa kita sudah bisa siap-siap untuk foto pre weeding.”
Devi masih saja cemberut. Wajahnya ditekuk entah sampai lipatan ke berapa. Dimas lantas merangkulnya di depan si mata sipit. Dan anehnya, gadis itu malah tersipu malu.
“Udah dong jangan ngambek gitu. Hidungmu tambah mancung nanti kayak Pinokio. He he he...” tukas Dimas sambil mencubit lembut hidung Devi.
Devi tersenyum manis. Gue tahu ia tak akan bertahan lama kalau lagi ngambek. Resepsionis itu meninggalkan kami. Dari wajahnya jelas terlihat kalau ia cemburu melihat kemesraan Dimas dengan Devi.
“Ho ho ho… biar gimana pun masih lebih cantik pacarku dong,” puji Dimas dalam hati.
[1] Semoga Anda puas menginap di sini.
[2] Terima kasih
[3] Nona, bisa bantu saya mencari studio foto jelang pernikahan?
[4] Sebentar, saya akan carikan
[5] Siapa yang mau menikah?
[6] Aku dan kekasihku. Dia yang ada di sana
[7] Ooo... saya kira Anda masih sendiri. Saya menduga dia adalah adik Anda.
[8] Ya, tidak masalah
[9] Ini nama studio fotonya. Apa mau saya yang hubungi?
Other Stories
2r
Fajri tak sengaja mendengar pembicaraan Ryan dan Rafi, ia terkejut ketika mengetahui kalau ...
The Truth
Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...
Bahagiakan Ibu
Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...
Autumns Journey
Akhirnya, Henri tiba juga di lantai sepuluh Apartemen Thamrin. Seluruh badannya terasa p ...
Itsbat Cinta
Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...