Sebuah Kejutan Di Alexandria
Petualangan hari ini rencananya akan dilanjutkan ke Kota Alexandria. Kota terbesar kedua di Mesir setelah Kairo. Kota ini selain terkenal dengan keindahan pantainya, juga mempunyai beberapa tempat bersejarah.
Di Alexandria juga terdapat sebuah perpustakaan, yang saat ini menjadi perpustakaan terbesar di dunia. Oleh karenanya Alexandria terkenal dengan nama The City of Learning.
Perjalanan dari Kairo ke Alexandria, kurang lebih tiga jam. Memasuki Kota Alexandria seperti memasuki Kota Yunani dan Perancis, karena arsitektur kedua negara tersebut banyak ditemui di sana. Keindahan Pantai Mediterania semakin mempercantik kota ini.
“Wow! Fantastik banget. Indahnya Alexandria bukan cuma omong kosong doang. Tapi ini kota memang bener-bener indah,” teriak Ivana sambil membidikkan kameranya ke setiap sudut kota. Aku dan Iman hanya tersenyum melihat tingkahnya.
Kota Alexandria ini merupakan tempat tinggal Ratu Cleopatra dan keluarganya. Ratu Mesir yang satu ini selain cantik, pintar menggunakan keahlian asmaranya, ambisius kekuasaan, juga terkenal dengan kisah cintanya. Ia menikah dengan adik kandungnya Ptolemeus XIII agar bisa menjadi Ratu Mesir, menaklukan hati Kaisar Romawi Julius Caesar untuk mendapatkan kekuasaan. Menikahi adik bungsunya Ptolemeus VIX, untuk mengukuhkan kekuasaannya. Dan menjalin hubungan asmara dengan Mark Anthony sebagai penguasa baru Romawi, setelah Julius Caesar meninggal.
“Cleopatra pandai mempergunakan kecantikannya untuk memperoleh kekuasaan. Tapi aku bukanlah Cleopatra yang bisa mendekati Dimas, keponakan Direktur Utama sebuah perusahanan Majalah terkenal di Jakarta tempatku bekerja, agar karierku berjalan mulus dan semakin cemerlang. Aku mencintai Dimas karena perhatian dan kasih sayangnya. Andai saat ini Dimas ada di sini, mungkin suasana di Alexandria ini akan semakin indah.”
“Ke mana Iman sama Ivana? Cepet banget mereka menghilang? Ih! Rese banget mereka, ninggalin gue sendirian,” gerutuku, sambil celingukan nyari mereka.
Tiba-tiba seseorang menarik tanganku, aku sangat kaget dan hampir teriak. Tapi ia langsung menutup mulutku dengan tangannya. “Jangan teriak, Dev. Ini aku Dimas,” katanya sambil membuka kacamata hitam dan topinya.
“Dimas…” Spontan aku berteriak dan memeluknya. “Kamu ke mana aja, Dim? Please jangan marah sama aku, biar aku jelasin semuanya.”
“Nggak ada yang perlu kamu jelasin. Aku mau ngomong, tapi nggak di sini,” katanya sambil kembali memakai topi dan kacamata hitamnya. Ia mengajakku jalan menyusuri Pantai Medeterania. Benar saja suasana jadi semakin indah dengan kehadirannya di sisiku.
“Tapi ada apa dengan Dimas? Sepertinya ia tak ingin ada yang mengetahui kehadirannya.”
Handphone-ku berdering, di layar tertera nama Ivana memanggil. “Siapa?” tanya Dimas, terlihat ada kecemasan dari wajahnya.
“Ivana. Memangnya kenapa? Kok kamu keliatan aneh banget,” aku semakin heran melihat tingkah Dimas yang semakin aneh.
“Angkat saja teleponnya. Tapi jangan bilang kalau kamu lagi sama aku di sini.”
“Emangnya kenapa sih, Dim? Sebenarnya ada apa sih ini?” tanyaku semakin nggak ngerti.
“Udah jangan banyak tanya dulu, nanti aku jelasin semuanya. Kalau kelamaan nggak diangkat nanti malah dia curiga,” kata Dimas, sepertinya ia agak jengkel mendengarku terlalu banyak nanya.
“Woi, lama banget sih ngangkat teleponnya. Emang lo ada di mana? Lagi ngapain?” suara cempreng Ivana pun segera memberondongku dengan pertanyaan saat handphone kuangkat.
“Ada deh, kasih tahu nggak yah?” jawabku seenaknya.
“Rese banget sih, Lo! Tau nggak, gue sama Iman nyari lo ke mana-mana.” suara Ivana terdengar jengkel.
“Maaf... maaf tapi boleh ya, kalau gue pengen sendiri dulu, please.” kataku sedikit memohon.
“Nggak apa-apa sih, kalau lo lagi pengen sendirian dulu. Tapi setidaknya bilang dong, jadi kan gue nggak bingung nyari-nyari,” suara Ivana terdengar melemah.
“Emang kenapa sih lo? Lagi kangen sama Dimas, ya?” tanyanya menggoda.
“Ya, gitu deh.”
“Ya udah deh, semoga keindahan Alexandria bisa menghibur lo, Dev. Tapi saran gue, lo jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Rasanya nggak pantes aja buat seorang Devinta Anggraini harus terus-terusan bersedih. Kalau lo butuh gue, telepon aja ya. Biar Iman jalan sama gue.”
Ivana memang selalu care, itu yang membuatku tak ingin kehilangan sahabat seperti dia.
“Oke, bawel!” Kumatikan handphone. Dimas yang berdiri di sampingku hanya diam. Kulihat ia menarik napas panjang. Seperti ada beban berat yang sedang ia pikul. Kami kembali menyusuri pesisir pantai.
“Devi…” Dimas memulai pembicaraan, tapi suaranya terdengar berat.
“Apa sebenarnya yang ingin ia bicarakan? Apakah ada hubungannya dengan kejadian di Paris kemarin? Apa ia akan melupakan hal itu dan hubungan kami kembali seperti biasa. Atau malah sebaliknya, ia akan mengakhiri semuanya? Ah! Entahlah, tapi aku melihat sepertinya ia sangat sulit untuk mengutarakannya.”
“Kamu mau ngomong apa sih, Dim? Kenapa tidak diteruskan? Ada apa sih? Ko kamu jadi aneh begini?”
“Aku mau ngomong, tapi takut kamu nggak percaya,” ucapnya terdengar lirih.
“Emangnya apa sih yang mau diomongin Dim? Jangan bikin aku jadi tambah penasaran begini dong,” kulihat Dimas kembali menarik napas panjang, matanya terlihat menerawang jauh ke depan.
“Kamu masih percaya, tentang mitos Singo Urung itu?” tanyanya tanpa menoleh sama sekali.
“Tergantung. Kalau hubunganku sama kamu baik-baik aja, berarti mitos itu nggak bener. Tapi, kalau hubungan kita berakhir. Aku percaya kalau mitos itu benar adanya.”
“Tapi, jika ada seseorang yang sengaja merekayasa tentang mitos itu, bagaimana?” tanyanya kembali dan suaranya terdengar sangat datar.
“Apa, maksud kamu?! Tapi sumber cerita itu bukan hanya dari satu orang. Bahkan saat aku searching di Google pun, mitos tentang Singo Urung itu ada. Jadi siapa yang kamu maksud merekayasa tentang mitos situ?”
Tak ada jawaban, hanya suara tarikan napas panjang yang terdengar.
“Jawab, Dim. Kenapa kamu diam?”
“Ya memang benar, tapi itu kan cuma mitos. Yang belum tentu kebenarannya, kalaupun ada, mungkin hanya kebetulan aja. Tapi, kejadian yang kamu alami di hotel tempat Rifky menginap malam itu, bukan merupakan sebuah kebetulan. Tapi merupakan rencana dari orang-orang yang memilikii pikiran picik dan tidak bertanggung jawab,” Dimas menghela napas panjang. Dialihkan pandangannya padaku.
“Siapa orang-orang yang kamu maksud, Dim?” aku jadi sangat penasaran, selama ini aku sepertinya merasa tak punya musuh.
“Jika aku kasih tahu orangnya, pasti kamu tidak akan percaya. Sebenarnya bukan hanya kamu yang tidak percaya, aku sendiri tidak percaya jika orang itu tega menyakiti dan mengkhianati kamu.”
“Siapa orangnya, Dim? tanyaku semakin penasaran.
“Ivana, dia sekongkol sama Rifky untuk menghancurkan pernikahan kita,” Dimas menatap Devi sedih.
“Apa?! Nggak mungkin! Nggak mungkin! Kamu pasti salah, Dim! Aku tahu siapa Ivana, dia sahabat terbaikku. Kami bersahabat sejak SD. Dia yang care dan selalu support saat aku sedang terpuruk. Jadi nggak mungkin dia punya niat untuk nyakitin, apalagi untuk menghancurkan aku. Itu nggak mungkin! Sangat nggak mungkin!” aku jelas membela Ivana dan rasanya tak mungkin Ivana akan melakukan perbuatan yang sama sekali tak terpuji, apalagi terhadap aku sahabatnya. Kita sudah seperti sauadara.
“Aku akan mengatakan hal yang sama, kalau aku nggak mendengar sendiri apa yang mereka bicarakan,” lanjut Dimas menerangkan.
“Aku nggak percaya, Dim!” kataku sambil menutup muka dengan kedua tangan. Aku bingung, benar-benar bingung.
“Sejak kejadian itu. Aku nggak benar-benar pergi. Aku tetap mengikuti dan mengawasi kamu dari jauh. Sambil mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan tadi malam, tanpa sengaja aku melihat Ivana dan Rifky bertemu di lobby wisma. Mereka sedang membicarakan kebusukan yang mereka lakukan untuk menghancurkan hubungan kita. Ivana memberimu obat tidur sebelum mereka bertemu. Agar mereka leluasa.”
“Stop! Stop, Dimas! Aku tidak ingin lagi mendengar kamu menjelek-jelekkan Ivana. Dia itu sahabatku. Ingat itu!” aku memarahi Dimas.
“Gue tahu, Devi! Gue tahu, Ivana itu sahabat lo! Makanya gue bilang, gue nggak percaya, kalau gue nggak denger sendiri!” suara Dimas terdengar mengeras.
“Udahlah Dim! Jangan paksa gue buat percaya sama lo,” aku tetap tidak percaya penemuan Dimas atas persekongkolan Ivana dan Rifky.
“Gue nggak paksa lo buat percaya. Tapi setidaknya coba lo inget- inget. Ada sikap yang aneh nggak dari Ivana, dari sejak rencana keberangkatan kita sampai kejadian di Paris?”
“Gue nggak ngerasa ada yang aneh. Bahkan dia yang udah nolong gue nyelamatin karier gue. Gara-gara partner keja gue nggak bertanggung jawab, ninggalin gue sendirian. Hampir aja semuanya berantakan. Untung ada Ivana, kalau nggak ada dia, mungkin karier gue tamat!”
“Gue bukan orang yang nggak bertanggung jawab, Devi!” bantah Dimas.
“Oh… kalau gitu! profesional dong, Dim. Jangan campur adukin masalah kerjaan sama masalah pribadi. Kalau lo sih enak, Om lo direktur utama di tempat kita kerja. Jadi dia nggak mungkin mecat lo. Tapi gue! Siapa gue? Kalau bikin kesalahan, tamatlah karier gue!”
“Oh! Apa lo juga masih bisa ngomong gitu, kalau lo ada di posisi gue saat ini? Masih mending gue cuma foto lo saat itu, coba kalau gue lupa diri, gue bunuh lo berdua saat masih tidur. Bukan cuma karier lo yang tamat, tapi hidup lo juga tamat sampai di situ!” wajah Dimas terlihat memerah, sepertinya ia menahan marah.
“Sudahlah, Dim. Beri aku waktu untuk berpikir, aku tidak ingin bertengkar terus seperti ini. Aku cape! Biar waktu yang akan menjawab semuanya. Saat ini aku mohon jangan ganggu aku. Biarkan aku sendiri dulu, Dim.”
“Ok, Dev. Satu hal yang perlu lo tahu. Gue nggak akan biarin ada orang yang akan menghancurkan hubungan kita. Love you, Dev…” Dimas berlalu meninggalkanku. Ternyata dengan kehadiran Dimas, Alexandria tak seindah yang kubayangkan.
Jepret, tiba-tiba blitz kamera mengagetkanku. “Ha ha ha… kaget lo ya? Jadi dari tadi lo, cuma bengong aja di sini? Ya ampun Devi! Rugi tahu nggak lo, Alexandria segini indahnya disia-siakan gitu aja,” kata Ivana sambil terus bermain-main dengan kamera di tangannya.
“Kita pulang, yuk. Gue pengen istirahat, capek. Besok kita harus melanjutkan perjalanan ke Makkah.”
“Ok! Princes.”
Kami segera meninggalkan Alexandria menuju wisma Indonesia. Tempat kami menginap di Kairo. Esok hari kami akan melanjutkan perjalanan ke Makkah.
Other Stories
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
DIARY SUPERHERO
lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...
Tukar Pasangan
Ratna, wanita dengan hiperseksualitas ekstrem, menyadari suaminya Ardi berselingkuh dengan ...
Dia Bukan Dia
Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Egler
Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...