Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Reads
2.1K
Votes
0
Parts
22
Vote
Report
cinta di 7 keajaiban dunia
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Penulis Nenny Makmun

The Best Moment Of Pre Wedding

Dimas mengajak Devi menikmati indahnya Venice, tak ada alasan untuk Devi menolak. Apalagi Dimas memutuskan akan mengambil foto mereka berdua dengan Devi berpakaian jilbab.
Tak bisa dipungkiri, hati Devi sangat riang. Setelah salat subuh, Devi sedikit memoles wajahnya natural dan mengenakan rok jilbab bermotif bunga-bunga dengan lilitan kerudung yang sedikit dimodifikasi.
Ivana masih tertidur pulas, sepertinya sisa-sisa efek wine masih menyelimutinya. Devi memutuskan untuk menikmati breakfast. Suasana Camping Fusina sangat asyik. Sebuah croissant, secangkir kopi Itali yang sedap, harus menutup hari-hari yang menyenangkan di sini.
Di pagi yang santai itu, dekat dengan pohon-pohon cemara dan pantai, Devi berdialog dengan laptopnya. Laporan 7 Keajaiban dunia sudah rapi dan kelar, Devi ingin menunjukkan kepada Dimas dan sekaligus berdiskusi apa yang kurang dari reportasenya, apalagi ada banyak foto yang harus Dimas share juga.
Sehari ini akan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan Dimas untuk mengambil foto pre wedding yang diputuskan di Vinance dan dengan berbusana hijab. Devi sungguh tak menduga Dimas menjadi sangat antusias melewati momen ini, diam-diam Devi semakin bersyukur. Bahkan Devi tak mau mendendam dengan apa yang telah dilakukan Ivana dan Rifky terhadapnya.
Devi sudah belajar berpikir panjang, karena ada masalah ini maka jalan hidayah terbuka untuknya. Coba kalau tak ada masalah yang direkayasa Ivana dan Rifky, well mungkin jalan hidupnya tetap mulus tapi tetap jauh dari Allah.
Devi kembali ke kamar setelah menikmati sarapan paginya yang berkesan dan Ivana masih bermalas-malasan di tempat tidur. Melihat Devi masuk, Ivana cuek saja.
“Assalamualaikum Ivana, pagi yang indah. Aku seharian ini mau jalan dengan Dimas. Alhamdulillah kita sudah baikan. Ivana kalau kamu sudah mandi dan makan, kamu boleh membuka laci itu. Ada sesuatu yang perlu kamu tahu. Aku jalan dulu ya, kasihan Dimas sudah menunggu. Assalamualaikum.”
Devi tahu tak perlu menunggu salam kembali dari Ivana, tampak wajah Ivana kaget dan memerah. Tak terbayangkan apabila dia sudah mendengar ucapan-ucapan dia semalam dan kebusukan kerja samanya dengan Rifky yang terekam di tape recorder Dimas. Terutama lagi ketahuan rahasia hatinya selama ini yang ternyata mencintai Dimas.
***
Dimas tampak cakep dengan baju hem muda senada dengan jilbabku. Kita menyusuri tempat mana pun bisa menjadi tempat yang indah dan romantis, tetapi jika kita memilih untuk menikah di atas perahu yang menyusuri Kota Venesia yang penuh cinta, tentu saja Anda harus menaiki gondola kayu yang tersohor itu. I wish ...
Aku dan Dimas berfoto di kapal-kapal dan juga Piazza San Marco (konon ini adalah tempat asal sang pelaut terkenal, Marcopolo). Landmark Kota Venice ini terpampang megah dengan menaranya yang tinggi menjulang. Di setiap sudut Piazza San Marco rasanya penuh dengan turis. Banyak yang sibuk memotret keindahan arsitektur Piazza ataupun sekedar mengagumi pemandangan di sana.
Entah berapa banyak sudah kita berdua meminta tolong untuk diambilkan gambar berdua, bersyukur menemukan sesama pelancong yang paham dengan kita yang tengah berburu foto cantik untuk pre wedding. Dimas paling pinta saat meminta tolong untuk mengambilkan gambar kita berdua. Tanpa malu-malu dia katakan ini untuk foto pre wedding kami dan tentu saja orang yang dimintai tolong jadi sangat serius saat mengambil gambar kita.
Aku dan Dimas sangat puas dengan foto pre wedding kita kali ini. Sepertinya baru kali ini kita benar-benar sangat kompak dan sehati. Benar sekali after rain will be rise beautiful rainbow.
Peristiwa yang membuat kita merenggang sekarang sebaliknya kita mendapat hikmahnya, untuk menjalin komitmen dibutuhkan kepercayaan dan kesetiaan. Kita jadi banyak berdiskusi lebih berbobot dan rasanya seperti baru saling kenal menjadi manusia baru. Dimas juga tidak lagi memegang aku sesukanya, dia lebih menjaga jarak bahkan kesannya melindungi aku. Alhamdulillah Dimas juga melewati fase perubahan seperti aku.
“Aku kangen Indonesia, Dim,” kataku pada pada Dimas setelah seharian kita benar-benar memuaskan hati di Venice.
Dimas masih terkagum-kagum dengan hasil jepretan berbagai turis yang dimintai tolong memotret kami.
“Iya, besok kita kan sudah balik, gimana reportasenya, sudah kelar?” tanya Dimas lanjut.
“Beres dong, tinggal kamu cek ulang dan dipasin dengan foto-foto kamu Dim,” Devi tersenyum cantik.
“Kamu selalu on time, pantesan Om nyuruh kamu yang berangkat meliput. Eh Ivana sudah tahu belum kalau kamu sebenarnya sudah mengerti yang sebenarnya?” Dimas menyela.
“Aku tinggalkan Ivana tadi pagi saat dia baru bangun tidur dan aku beri saran kalau sesudah mandi dan sarapan untuk mendengarkan rekaman kamu Dim,” kata Devi datar tanpa beban.
“Kamu nggak marahin Ivana sama sekali Devi?” Dimas penasaran.
Devi menggelengkan kepala, “Mendengar rekaman kamu dan itu adalah suara hati Ivana sendiri cukup akan menampar hatinya Dim. Jadi buat apa aku ribut-ribut mengulangi amarah. Nggak ada gunanya Dim.”
“Devi aku salut deh sama kamu! Kamu bisa tahan emosi, jujur kalau ada Rifky sekarang aku pasti tak akan tinggal diam! Aku akan menonjok dia berkali-kali!” Dimas tampak geram, gambaran Devi dan Rifky tidur bersama masih melekat di ingatannya. Tapi Dimas tidak mau menyalahkan Devi lagi. Devi hanya korban sahabat dan mantannya.
“Sudahlah Dim, aku juga sudah memaafkan mereka berdua. Biar Allah saja yang akan mengingatkan mereka untuk sadar,” Devi dengan tenang berkata.
“Devi! Devi! Kamu memang luar biasa!” Dimas geleng-geleng kepala.
***
Dimas mengantar Devi sampai lobby. Saat masuk ke kamarnya ternyata sudah rapi dan tas Ivana sudah tak ada lagi.
Hanya ada selembar kertas dan segera Devi membaca isinya.
Dear Devi ...
Maafkan aku, aku sungguh sangat malu dengan sikapku yang lalu terhadap kamu. Aku terlalu iri dengan kamu sehingga menutup hatiku.
Devi aku pulang sekarang dan sepertinya aku nggak berani bertatap muka lagi dengan kamu dan Dimas. Saat kau sampai di Indonesia aku sudah mengundurkan diri dari kantor dan jangan cari aku. Selamat berbahagia dengan Dimas. Memang kamu yang layak mendapatkan Dimas.
Semoga kamu mau memaafkan aku.
Salam,
Ivana

Other Stories
Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Puzzle

Karina menyeret kopernya melewati orang-orang yang mengelilingi convayer belt. Koper ber ...

Misteri Kursi Goyang

Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...

Nina Bobo ( Halusinada )

JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...

Aruna Yang Terus Bertanya

Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...

Download Titik & Koma