Bab 1 LUKA PERTAMA
Hujan turun deras di luar jendela kafe kecil di sudut kota itu. Aroma kopi bercampur dengan dingin udara sore. Azzam duduk berhadapan dengan Nadia, wanita yang selama dua tahun terakhir menjadi alasan ia terus berjuang. Senyum Nadia, biasanya jadi obat penat, tapi sore itu wajahnya tampak berbeda—serius, kaku, tanpa cahaya.
Azzam menatapnya penuh tanda tanya. “Kenapa wajahmu dingin sekali hari ini, Nad? Ada apa? Seharusnya kita merayakan dua tahun hubungan kita, bukan?”
Nadia menarik napas panjang, menunduk, lalu berkata dengan suara yang bergetar.
“Zam… aku nggak tahu harus mulai dari mana. Tapi aku rasa… aku nggak bisa terus sama kamu.”
Kata-kata itu seperti petir yang menghantam dada Azzam. Tangannya refleks meremas cangkir kopi di meja. “Apa maksudmu? Kamu… kamu serius?”
Nadia menatap matanya, seakan berusaha tegar. “Aku capek, Zam. Aku sayang sama kamu, tapi aku butuh kepastian. Aku nggak bisa terus-terusan hidup dalam bayangan mimpi kamu. Kamu bilang usahamu akan sukses, tapi sampai kapan? Aku butuh hidup yang mapan, nyaman… dan itu belum bisa kamu kasih sekarang.”
Azzam terdiam. Kata-kata itu menohok. Ia tahu, usahanya memang belum besar. Ia masih menjual kaos dengan modal pinjaman, masih mengantar pesanan sendiri naik motor tua. Tapi selama ini, ia yakin Nadia percaya.
“Jadi… ini semua karena aku belum punya cukup uang? Karena aku belum punya mobil, rumah, atau gaji besar?” suara Azzam meninggi, meski ada getar sedih di baliknya.
Nadia menunduk lagi, air mata mulai jatuh. “Aku nggak munafik, Zam. Aku sudah memilih. Reza… dia bisa kasih aku semua itu. Aku akan menikah dengannya.”
Seketika, dunia Azzam runtuh. Nama itu Rezaselalu menghantui, lelaki mapan dengan pekerjaan stabil dan gaya hidup mewah.
Azzam mencoba menahan emosinya. “Aku pikir… kamu percaya sama aku. Aku pikir kita akan bangun semuanya bersama. Ternyata aku salah.”
Nadia menggenggam tangannya sebentar, lalu melepaskannya perlahan. “Kamu nggak salah, Zam. Kamu laki-laki baik. Tapi kadang, cinta saja nggak cukup. Maafkan aku.”
Azzam menatapnya lama, mencari secercah harapan di mata wanita itu. Tapi yang ia lihat hanya keputusan yang bulat.
Hening menyelimuti meja itu. Hanya suara hujan yang jatuh di luar, seakan ikut menangis.
Azzam akhirnya berdiri. “Kalau itu pilihanmu, aku nggak bisa menahanmu. Semoga kamu bahagia, Nad. Walau… entah kenapa aku rasa, aku baru saja kehilangan separuh nafasku.”
Tanpa menoleh lagi, Nadia bangkit dan berjalan pergi. Langkahnya menjauh, semakin jauh, sampai pintu kafe tertutup.
Azzam duduk kembali, menunduk, menatap cangkir kopi yang sudah dingin. Dadanya sesak. Perasaan hancur bercampur marah, kecewa, tapi di tengah luka itu, satu tekad pelan-pelan lahir:
“Kalau aku jatuh, biarlah jatuh karena berusaha, bukan karena menyerah.”
Dan sore itu, di kafe kecil dengan hujan deras sebagai saksi, seorang lelaki patah hati memulai perjalanan panjangnya perjalanan yang kelak akan mengubah luka menjadi cahaya.
Azzam menatapnya penuh tanda tanya. “Kenapa wajahmu dingin sekali hari ini, Nad? Ada apa? Seharusnya kita merayakan dua tahun hubungan kita, bukan?”
Nadia menarik napas panjang, menunduk, lalu berkata dengan suara yang bergetar.
“Zam… aku nggak tahu harus mulai dari mana. Tapi aku rasa… aku nggak bisa terus sama kamu.”
Kata-kata itu seperti petir yang menghantam dada Azzam. Tangannya refleks meremas cangkir kopi di meja. “Apa maksudmu? Kamu… kamu serius?”
Nadia menatap matanya, seakan berusaha tegar. “Aku capek, Zam. Aku sayang sama kamu, tapi aku butuh kepastian. Aku nggak bisa terus-terusan hidup dalam bayangan mimpi kamu. Kamu bilang usahamu akan sukses, tapi sampai kapan? Aku butuh hidup yang mapan, nyaman… dan itu belum bisa kamu kasih sekarang.”
Azzam terdiam. Kata-kata itu menohok. Ia tahu, usahanya memang belum besar. Ia masih menjual kaos dengan modal pinjaman, masih mengantar pesanan sendiri naik motor tua. Tapi selama ini, ia yakin Nadia percaya.
“Jadi… ini semua karena aku belum punya cukup uang? Karena aku belum punya mobil, rumah, atau gaji besar?” suara Azzam meninggi, meski ada getar sedih di baliknya.
Nadia menunduk lagi, air mata mulai jatuh. “Aku nggak munafik, Zam. Aku sudah memilih. Reza… dia bisa kasih aku semua itu. Aku akan menikah dengannya.”
Seketika, dunia Azzam runtuh. Nama itu Rezaselalu menghantui, lelaki mapan dengan pekerjaan stabil dan gaya hidup mewah.
Azzam mencoba menahan emosinya. “Aku pikir… kamu percaya sama aku. Aku pikir kita akan bangun semuanya bersama. Ternyata aku salah.”
Nadia menggenggam tangannya sebentar, lalu melepaskannya perlahan. “Kamu nggak salah, Zam. Kamu laki-laki baik. Tapi kadang, cinta saja nggak cukup. Maafkan aku.”
Azzam menatapnya lama, mencari secercah harapan di mata wanita itu. Tapi yang ia lihat hanya keputusan yang bulat.
Hening menyelimuti meja itu. Hanya suara hujan yang jatuh di luar, seakan ikut menangis.
Azzam akhirnya berdiri. “Kalau itu pilihanmu, aku nggak bisa menahanmu. Semoga kamu bahagia, Nad. Walau… entah kenapa aku rasa, aku baru saja kehilangan separuh nafasku.”
Tanpa menoleh lagi, Nadia bangkit dan berjalan pergi. Langkahnya menjauh, semakin jauh, sampai pintu kafe tertutup.
Azzam duduk kembali, menunduk, menatap cangkir kopi yang sudah dingin. Dadanya sesak. Perasaan hancur bercampur marah, kecewa, tapi di tengah luka itu, satu tekad pelan-pelan lahir:
“Kalau aku jatuh, biarlah jatuh karena berusaha, bukan karena menyerah.”
Dan sore itu, di kafe kecil dengan hujan deras sebagai saksi, seorang lelaki patah hati memulai perjalanan panjangnya perjalanan yang kelak akan mengubah luka menjadi cahaya.
Other Stories
Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya
Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...
Bukan Cinta Sempurna
Pesona kepintarannya terpancar dengan jelas, rambut sebahunya yang biasanya dikucir ekor ...
Dream Analyst
Frisky, si “Dream Analyst”, bersama teman-temannya mengalami serangkaian kejadian meny ...
Suffer Alone In Emptiness
Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...
Menantimu
“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...
Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat
Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...