Chapter 4: Begitu Saja
“Terima kasih, Mas Faris. Pertemuannya sangat berkesan. Reza adalah pria yang sangat beruntung.”
Faris hanya mengangguk, namun pikirannya kini diselimuti oleh pertanyaan tentang identitas Nayla yang terasa terlalu sempurna, terlalu terkontrol.
Malam itu, Faris tidak tidur. Rasa familier itu terus menghantuinya, menggerogoti profesionalismenya. Ia merasa ada yang disembunyikan, bukan oleh Nayla, tetapi oleh ingatannya sendiri. Ia akhirnya menyerah pada instingnya. Ia membuka lemari arsip lamanya. Di antara tumpukan dokumen kantor, ia menemukan sebuah kotak kardus lusuh bertuliskan "SMA & Nisa." Faris menghela napas, ia jarang membuka kotak itu.
Faris mengeluarkan setumpuk foto lama. Matanya menyapu wajah Nisa yang berambut panjang, tersenyum lebar. Kemudian ia membuka map Nayla yang ia dapatkan dari berkas taaruf. Nama, riwayat pendidikan, alamat, semua baru. Tetapi wajah di foto itu, senyum tipis itu, adalah Nisa, hanya saja lebih matang dan tertutup jilbab. Faris menyadari dia bukan gagal mengenali wajahnya, tetapi gagal mengenali auranya yang telah berubah.
Yang membuat Faris yakin adalah data tambahan yang Reza lampirkan: Nama Ibu Kandung Nayla. Nama itu sangat unik, dan Faris ingat Nisa pernah bercerita bahwa nama ibunya selalu menjadi bahan lelucon di keluarganya. Nama itu cocok.
Nisa adalah Nayla.
Faris merasakan serangan panik, jantungnya berdebar kencang. Ia telah memfasilitasi pernikahan mantan kekasihnya, cinta yang hilang, dengan sahabatnya sendiri. Faris menutup map itu dengan keras. Ia kini tahu rahasianya, tetapi Nayla belum tahu bahwa Faris tahu. Permainan baru saja dimulai. Takdir jenis apa ini? Apakah Tuhan sengaja mengujinya dengan cinta yang telah ia relakan?
Ia mengingat malam Nisa menghilang. Itu adalah malam yang dingin di Jakarta, bau hujan dan lumpur tercium dari jalanan. Ia berdiri di luar gerbang rumah kontrakan Nisa, melihat bayangan di balik jendela. Nisa yang berusia tujuh belas tahun, rambutnya masih panjang diurai, menangis di bahu ibunya. Tiga orang pria berjaket kulit hitam berdiri di teras, berbicara dengan suara yang membentak-bentak. Faris muda, yang baru tahu arti cinta dan belum mengerti arti kesulitan hidup, hanya bisa mematung di kegelapan. Ia ingin maju, berteriak, melindungi, tetapi ia hanyalah seorang remaja tanpa daya.
Pagi harinya, rumah itu kosong. Sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya, menghapus semua janji yang pernah mereka buat.
Nisa: Maaf, Faris. Selamat tinggal. Aku harus pergi jauh. Jangan pernah cari aku. Kamu pantas mendapat yang lebih baik, yang tidak membawa beban.
Pesan itu telah mengubur Faris yang lama. Faris yang sekarang, fasilitator takdir, lahir dari kuburan itu.
Kini, Nisa kembali, berdiri di ambang pintu takdir sahabatnya. Faris menutup map itu dengan keras. Ia tidak bisa membiarkan masa lalu mengganggu proses sakral ini. Tapi bagaimana mungkin ia profesional jika setiap helaan napas Nayla mengingatkannya pada Nisa?
Other Stories
Menantimu
“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...
Menolak Jatuh Cinta
Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...
Melodi Nada
Dua gadis kakak beradik dari sebuah desa yang memiliki mimpi tampil dipanggung impian. Mer ...
Pada Langit Yang Tak Berbintang
Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...