1
Lembayung fajar didesa Gandhewa begitu indah, dengan udara dingin yang menusuk hingga ke tulang. Para warga tampak mulai beraktivitas, jalanan desa mulai ramai dengan warga yang akan menuju ladang dan sawah masing-masing. Penduduk desa Gandhewa pada umumnya berprofesi sebagai petani. Mereka memanfaatkan lahan kosong dan tanah subur untuk menanam berbagai macam sayuran. Sawah yang mulai ditumbuhi padi nampak menghijau seperti bentangan karpet permadani.
Dua gadis cantik kakak beradik yang bernama Melodi Nuansa Senja dan adiknya Nada Aluna Senja tengah berjalan menuju sekolah. Melodi dan Nada merupakan nama pemberian almarhun sang ayah, dan saat ini mereka tengah menempuh pendidikan disekolah menengah atas. Melodi sangat berbakat dibidang alat musik, sedangkan Nada memiliki suara yang sangat indah. Bakat seni mereka merupakan turunan dari sang ayah yang dulu merupakan seorang musisi jalanan.
Mereka merupakan duo yang selalu menjadi pengisi acara disekolah. Didesa Gandhewa mereka juga sering diundang untuk mengisi berbagai acara, mulai dari acara pernikahan hingga acara yang diadakan oleh petinggi desa. Masyarakat desa Gendhawa sangat bangga akan bakat kakak beradik tersebut, mereka juga tahu kalau Melodi dan Nada memiliki mimpi untuk menjadi penyanyi profesioanl. Namun sayangnya mimpi menuju panggung impian tidak didukung oleh keadaan ekonomi mereka.
Ibunya yang hanya seorang pekerja diladang orang lain hanya mempunyai penghasilan cukup untuk bertahan hidup dari hari ke hari. Setelah pulang sekolah Melodi dan Nada akan mengembala kambing peninggalan sang ayah ke kaki bukit dipinggir desa. Disanalah mereka menghabiskan waktu bermain hingga waktu senja. Melodi akan membawa alat musik milik almarhum ayahnya untuk mereka mainkan disela waktu luangnya, sedangkan Nada akan bernyanyi dengan iringan musik sang kakak.
“kakak hari ini bawa ukulele kan?”, Nada duduk diatas cabang sebuah pohon sambil mengayunkan kakinya.
“iya, kamu mau lagu apa?”, Melodi duduk dibawah pohon yang diduduki Nada, dan menyandarkan punggungnya ke batang pohon tersebut.
“hmm lagu mimpi kak, dari putri ariani”, jawab Nada antusias.
Melodi mulai memetik senar nilon dengan jarinya, alunan nada mulai terdengar indah. Nada memejamkan matanya, menghayati lirik demi lirik yang keluar dari mulutnya. Mereka berdua larut dengan kegiatan manggung dipinggir bukit. Setelah selesai, terdengar tepuk tangan dari balik semak yang ada dibelakang mereka. Melodi menengadah menatap Nada yang menautkan kedua alisnya, tidak lama seorang pemuda keluar dengan senyum penuh kekaguman. Dia adalah Gasendra, anak kepala desa yang sedang menempuh pendidikan disalah satu perguruan tinggi seni dikota.
“kak Gasendra?”, Melodi berdiri dan menatap Gasendra yang berjalan menghampiri mereka.
Nada hanya memperhatikan dari atas pohon tanpa ada niat untuk turun.
“permainan alat musik kamu makin bagus Mel, dan suara Nada juga semakin bagus, kalian memang sangat berbakat”, puji Gasendra.
“makasih atas pujiannya kak”, ucap Melodi menunduk malu.
“kalian udah kelas berapa?”, Gasendra duduk disalah satu cabang pohon yang rendah.
“aku kelas XII kak, Nada kelas XI”, Melodi melirik Nada dan memberi isyarat untuk turun.
“enggak usah suruh dia turun, kalian mau bernyanyi lagi? Boleh aku gabung?”, harap Gasendra.
“boleh kok kak”, jawab Nada cepat.
“lagu yang tadi ya, aku suka”, jujur Gasen.
Mereka mulai bernyanyi bersama, menikmati sertiap alunan nada yang mengalir indah dari permainan ukulele oleh Gasen. Suara Melodi yang tak kalah indah membuat Gasen semakin kagum padanya, tanpa mereka ketahui dari dulu Gasendra menyimpan rasa terhadap Melodi. Hari semakin sore, Nada melepaskan ikatan tali kambingnya pada sebuah pohon kecil dan menariknya berjalan kembali kerumah.
Hidangan makan malam sudah siap ditikar rotan diruang tengah rumah, Melodi masih didapur membantu sang ibu membersihkan peralatan bekas memasak. Sedangkan Nada sibuk menuangkan air kedalam gelas untuk mereka bertiga. Setelah semuanya bersih, Melodi dan ibunya bergabung dengan Nada ke ruang tengah. Mereka makan dengan diselingi cerita hari ini, dan sang ibu yang tak henti tersenyum melihat pertumbuhan dua putri kesayangannya. Putri yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah, namun semua bakat ayahnya menemani setiap langkah mereka.
Mas Bagas, lihatlah kedua putrimu tumbuh dengan begitu cantik. Mereka mewarisi semua bakatmu dalam bermusik mas. Walaupun kamu tidak bisa menyaksikan dan mendampingi hingga mereka dewasa, namun didarah mereka mengalir warisan bakatmu yang tak ternilai dengan apapun.
Ditengah mereka yang sedang asik menikmati makanan, terdengar pintu diketuk dari luar. Melodi berdiri dan bergegas membukakan pintu. Dibalik pintu berdiri Gasen dengan senyum sumringahnya, ia menenteng sebuah kantong plastik yang berisi makanan. Melodi yang terkejut melihat kehadiran Gasen tersentak karena suara sang ibu.
“siapa kak?”, suara Gita terdengar dari ruang tengah.
“kak Gasendra bu”, sahut Melodi.
Kemudian ia mempersilahkan Gasendra masuk dan bergabung dengan ibu dan adiknya. Gita mempersilahkan Gasen duduk dan ikut makan bersama mereka.
“ini Mel, buat kamu, Nada dan bu Gita”, Gasen menyerahkan kantong plastik yang ia bawa.
“ayo silahkan kita makan bersama Gasen, tapi maaf ya kalau menu seadanya”, Gita begitu ramah.
“tidak apa bu, saya yang menjadi sungkan karena telah mengganggu waktu makan malamnya”, Gasen tersenyum.
Melodi datang dari arah dapur dengan dua buah piring berisi satu ekor ayam bakar dan berbagai macam gorengan. Ia menghidangkan dan menuangkan air kedalam gelas untuk Gasen. Mereka makan bersama, Nada begitu antusias dengan ayam yang dibawa Gasen. Biasanya mereka hanya makan dengan lauk tempe dan tahu, namun kali ini makan ayam bakar.
Setelah selesai makan, Melodi dan Nada menyimpang makanan dan piring kotor kebelakang. Bu Gita dan Gasendra tetap duduk sambil mengobrol diruang tengah. Bu Gita sebenarnya penasaran dengan kedatangan Gasen yang tiba-tiba dirumahnya sambil membawa makanan. Tidak lama Melodi dan Nada kembali dan ikut bergabung dengan mereka.
“maaf ibu mau bertanya, sebenarnya ada apa Gasen tiba-tiba kerumah ini dan membawa makan enak pula untuk kami? Ibu jadi sungkan”, Bu Gita bertanya dengan nada yang sangat lembut.
“maaf ya bu, kalau kedatangan saya mengagetkan ibu, Melodi, dan Nada. Saya hanya ingin bersilahturrahmi bu, dan juga sekalian menyampaikan undangan dari ayah saya untuk Melodi dan nada tampil dibalai desa sabtu depan dalam rangka ulang tahun desa, apakah bu Gita mengizinkan?”, jelas Gasen sambil menatap mereka bertiga secara bergantian.
“wah acara dibalai desa?”, mata Nada berbinar senang.
“iya Nad, dan pastinya nanti ada komisi untuk setiap pengisi acara”, Gasen tampak sangat antusias.
Mata Nada dan Melodi berbinar mendengar penjelasan dari Gasen, mereka menatap sang ibu dengan tatapan penuh harap. Mereka memang sudah beberapa kali tampil dibalai desa, namun belum pernah dengan acara sebesar ini. Ulang tahun desa tentu saja akan sangat meriah dan dihadiri semua warga desa Gandhewa. Bu Gita tersenyum dan kemudian mengangguk.
“tentu saja ibu mengizinkannya, ibu akan sangat bangga melihat kalian berdua tampil dipanggung. Semoga ini merupakan bagian dari langkah kalian menuju panggung impian ya”, Bu Gita membentangkan tangannya agar kedua putrinya memeluknya.
Melodi dan Nada berhamburan kepelukan sang ibu, mereka sangat bahagia dan bersyukur memiliki seorang ibu yang selalu mendukung setiap mimpi anaknya.
“kalian harus rajin berlatih, jangan sampai mengecewakan ibu dan terutama mengecewakan bapak kepala desa yang telah mengundang kalian ya nak”, Gita mengelus lembut rambut kedua putrinya.
“baik bu, kami akan berlatih setiap hari”, Nada memebri hormat kepada sang ibu yang dibalas tawa oleh Gita.
“kalian memang anak-anak kebanggaan ibu”, senyumnya kembali merekah.
“terimakasih bu”, Melodi tersenyum dan mencium pipi sang ibu.
“sekali lagi terimakasih ya Gasendra dan sampaikan terimakasih kami kepada ayah kamu”, Bu Gita menatap lembut pemuda yang duduk didepannya.
“sama-sama bu, nanti saya sampaikan, kalau begitu saya permisi pamit pulang ya bu”, Gasendra berdiri dan berjalan menuju pintu.
“iya silahkan”, Bu Gita, Melodi, dan Nada mengantarkan Gasendra hingga kedepan pintu.
Setelah motor Gasendra meninggalkan halaman rumah,
mereka kembali masuk kedalam rumah. Nada melompat kegirangan, senyumnya tidak
pernah luntur dari bibir indahnya. Melodi hanya tertawa melihat kelakuan sang
adik, ia juga merasakan bahagia yang sangat luar biasa.
Other Stories
Mission Escape
Apa yang akan lo lakukan jika Nyokap lo menjadikan lo sebagai ‘bahan gosip’ ke tetangg ...
Awan Favorit Mamah
Hidup bukanlah perjalanan yang mudah bagi Mamah. Sejak kecil ia tumbuh tanpa kepastian sia ...
Cinta Satu Paket
Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...
Dia Bukan Dia
Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...
Nestapa
Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...
Aku Versi Nanti
Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...