Viral

Reads
569
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Fira Meutia

Filosofi Donat

Cahaya menyelimuti ruangan begitu saklar ditekan. Nayla bersandar di sofa. Badannya masih terasa pegal karena sepanjang siang mondar-mandir di rumah sakit menemani Ibu merawat Bapak. Ia membalas beberapa pesan pelanggan yang baru masuk. Ada juga pesan dari orang-orang yang senasib dengannya. Mereka terkesan dengan Nayla yang membuang gengsi, bahkan ada yang mulai berjualan karena terinspirasi dengan ceritanya.

Setelah lelahnya reda, ia bergegas mengambil alat tempur, membawanya ke ruang tamu. Aroma manis margarin dan gula mulai meruap, menenangkan pikirannya. Mixer berdengung lembut, mengantarnya ke masa kecil. Dulu ia senang membantu Ibunya, mencomot donat yang baru saja diolesi topping, masih hangat, meruapkan aroma bahagia. Waktu itu ia belum pernah mengenal perbandingan yang membuatnya berkecil hati. Ia suka memamerkan bekal donat buatan Ibu di sekolah, dan teman-temannya berebutan mencicipi. Tapi lama-lama, aroma itu terasa getir, ketika ia mulai mengerti Ibu melakukannya untuk menambah uang makan. Ia tak lagi menyebut-nyebut pekerjaan Ibunya, malah cenderung menyembunyikannya.

Ah, kenapa ia malu dengan hal yang membantunya hidup?

Derit pintu terdengar. Alya menuju kamar, mengganti baju, dan duduk dekat kakaknya, mengulangi gerakan yang sudah mereka hafal, kali ini dengan penerimaan.

Adonan yang tadinya lembek sebelum diputar-putar itu, kini ditarik Nayla yang memastikannya tidak robek. Ia mencubit sebentuk adonan. Menekan-nekan, menghimpitnya di antara kedua tangan. Mencubit lagi, menekan lagi. Meletakkannya di baki, menusuknya dengan cetakan untuk membentuk lubang. Ia akan mendiamkannya, membiarkan ragi bekerja mendorong-dorong adonan dari dalam sampai mengembang, sebelum berdiam di kulkas. Besok pagi adonan itu dicemplungkan ke minyak panas yang akan mengubah bentuk, rasa, dan warnanya. Setelah itu, barulah donat siap dihias. Mirip hidup, pikir Nayla. Setelah melewati berbagai tempaan, manusia akan menemukan versi dirinya yang lebih kuat dan lebih baik dari sebelumnya. Ia merasa, ia sedang berjalan menuju ke sana.


Other Stories
Kepingan Hati Alisa

Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Bekasi Dulu, Bali Nanti

Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...

Dengan Ini Saya Terima Nikahnya

Hubungan Dara dan Erik diuji setelah Erik dipilih oleh perusahaannya sebagai perwakilan ma ...

Separuh Dzrah

Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...

Misteri Kursi Goyang

Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...

Download Titik & Koma