32 Detik

Reads
1.1K
Votes
270
Parts
23
Vote
Report
Penulis Ign Indra

Chapter 02: Kamera Saksi Abadi

Ada malam-malam tertentu di mana alam semesta terasa berkonspirasi untuk menyusut, hingga gravitasinya hanya cukup untuk menahan satu kamar kos dan dua orang di dalamnya. Malam itu salah satunya. Hujan turun di luar, bukanlah hujan yang penuh amarah, tapi hujan yang metodis, yang ritmenya di atap seng terdengar seperti ketukan mesin tik tua yang sedang menulis cerita panjang dan melankolis. Aroma mi instan rasa kari ayam—parfum kemahasiswaan yang universal—masih mengambang di udara, berkelahi dengan bau asam dari kertas-kertas buku tua.

Daka berbaring di sampingku, kepalanya di atas lenganku. Matanya menatap langit-langit seolah sedang membaca peta konstelasi di retakan-retakan catnya. Jarinya, dengan ketelitian seorang calon ahli bedah, menelusuri garis-garis di telapak tanganku, mencari diagnosis atas takdirku.

“Kadang aku berpikir memori itu seperti seorang editor yang buruk,” bisiknya, suaranya hampir saja ditelan oleh suara hujan.

“Ia memotong bagian-bagian terbaik. Ia menghilangkan tekstur. Kau ingat sebuah tawa, tapi kau lupa bagaimana rasanya getaran tawa itu di dadamu.”

“Membekukan waktu itu pekerjaan fiksi ilmiah, Ka,” jawabku.

“Bukan pekerjaan mahasiswa yang besok ada kuis anatomi.”Dia tertawa kecil, suaranya hanya untuk konsumsi kami berdua.

“Bukan itu. Maksudku… momen seperti ini. Ini terasa begitu padat, begitu nyata. Tapi aku tahu, seminggu dari sekarang, otak kita akan mengkompresnya menjadi sebuah file .jpeg berkualitas rendah. Jadi ringkasan.”

Aku tahu persis apa yang ia maksud. Kami merupakan generasi arsiparis yang gelisah. Kami mengabadikan hidup kami dalam resolusi tinggi, mengunggahnya ke cloud, hanya untuk membuktikan bahwa kami ada.

Tapi semua itu terasa seperti pertunjukan. Presentasi diri. Kami mendambakan sesuatu yang tidak untuk dipresentasikan. Sesuatu yang lebih murni.

Lalu, ide itu lahir di antara kami seperti spora, melayang di udara yang lembap sebelum akhirnya menemukan tempat untuk tumbuh. Lahir dari keheningan, dari tatapan mata kami yang saling bertanya, dari keinginan bersama untuk memiliki satu kuil suci di tengah dunia yang gaduh.

“Bagaimana kalau kita punya data mentahnya?” kataku, akhirnya memberi terminologi pada perasaan itu.

“Satu file yang tidak terkompresi. Satu bukti yang tidak untuk diunggah, tidak untuk dibagikan. Hanya untuk kita. Anggap saja arsip non-publik.”

Daka mengangkat kepalanya dari lenganku. Di matanya, aku tidak melihat nafsu. Aku melihat ketakutan eksistensial yang sama persis dengan yang kurasakan: ketakutan bahwa semua ini—keintiman yang langka ini—akan menguap, tergerus oleh tekanan tugas akhir, ekspektasi keluarga, dan realitas banal dunia kerja yang menanti.

Dia bangkit dan mengambil kameraku. Kamera Canon tua yang bodinya sudah lecet-lecet, saksi bisu dari liputan demo mahasiswa yang ricuh dan wawancara dengan ibu-ibu di pasar. Benda itu menjadi perpanjangan dari mataku yang skeptis, alatku untuk mencari kebenaran objektif.

Dan sekarang, kami akan mengarahkan lensa objektif itu pada momen kami yang paling subjektif.

“Kau yakin?” tanyanya. Dia tidak memegang kamera itu seolah benda itu radioaktif. Dia memegangnya seolah itu adalah jantung manusia yang masih berdetak.

“Aku tidak yakin tentang apa pun di dunia ini,” jawabku, dengan kejujuran yang menakutkan.

“Tapi aku yakin seratus persen tentang kamu.”

Dan keyakinan itu, pada saat itu, terasa seperti satu-satunya hukum fisika yang berlaku di alam semesta kami.

Dia meletakkan kamera di atas tumpukan buku Narnia, mengarahkannya pada kami, lalu menekannya. Lampu merah kecil di pojoknya menyala, menyerupai detak jantung digital di dalam ruangan kami yang remang-remang. Titik merah itu menjadi satu-satunya penonton kami. Saksi abadi kami.

Aku tidak akan menceritakan apa yang terjadi selanjutnya. Bukan karena aku malu. Tapi karena detail visualnya tidak penting. Yang terpenting adalah apa yang tidak terekam: perasaan rentan yang anehnya justru terasa seperti baju zirah paling kuat. Perasaan dua tubuh yang berkomunikasi dengan bahasa purba yang tidak membutuhkan terjemahan. Ada tawa gugup, ada bisikan yang hanya bisa didengar oleh kulit, ada jeda panjang di mana satu-satunya suara adalah napas kami dan musikalisasi hujan di luar.

Di hadapan lensa itu, kami tidak sedang berakting. Kami sedang menelanjangi jiwa kami, membiarkan diri kami dilihat sepenuhnya oleh satu-satunya orang di dunia yang kami percayai tidak akan pernah menggunakan rekaman itu untuk melawan kami.Setelah semuanya selesai, Daka mematikan kamera. Dia menghampiriku, wajahnya serius dalam cahaya temaram. Dia menggenggam tanganku, erat.

“Ini cuma untuk kita. Aku bersumpah,” katanya. Dan cara dia mengatakannya, dengan kesungguhan seorang pria yang akan membedah jantung manusia, membuatku percaya tanpa syarat.

“Tidak akan pernah keluar dari laptop ini.”

Aku memeluknya.

“Aku tahu,” bisikku, dan aku benar-benar mempercayainya.

Malam itu, aku tidur dengan perasaan damai yang absolut. Perasaan memiliki relik suci, fosil dari perasaan kami yang akan kami simpan selamanya. Kami pikir kami telah berhasil menipu dunia, menciptakan anomali, atau kapsul waktu yang hanya berisi kami berdua.

Kami merekam karena kami percaya. Kami percaya karena kami punya cinta. Kami hanya melupakan satu hal fundamental.

Bahwa cinta bisa membuatmu buta. Buta pada fakta bahwa di dunia ini, tidak ada enkripsi yang cukup kuat, tidak ada janji yang cukup sakral, untuk menghentikan pengkhianatan yang datang dari orang yang kau izinkan masuk ke dalam bentengmu.

Other Stories
Keeper Of Destiny

Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...

The Museum

Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...

Impianku

ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...

Deru Suara Kagum

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Misteri Kursi Goyang

Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...

Cinta Rasa Kopi

Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...

Download Titik & Koma