Chapter 01: Anatomi Kepercayaan
Cinta kami tidak dimulai dengan ledakan kembang api atau tatapan di seberang ruangan yang ramai. Ia dimulai dengan pertanyaan yang canggung di bawah lampu perpustakaan yang berdengung.Tugas investigasiku untuk majalah kampus Suara saat itu adalah tentang topik yang paling sering dihindari oleh institusi yang terobsesi pada citra: kegagapan kampus dalam menangani realitas seksualitas mahasiswanya.
Di antara daftar narasumber yang berisi aktivis dan dosen sosiologi, ada satu nama yang janggal: Daka Prasetya, Fakultas Kedokteran. Aku membayangkan akan bertemu robot penghafal buku teks. Ternyata aku salah besar.Aku menemukannya di sudut ruang baca, di bawah jendela tinggi yang cahayanya jatuh dengan ragu-ragu, seolah meminta izin untuk masuk. Dia sedang menunduk menatap Atlas of Anatomy dengan konsentrasi bak seorang biarawan.
Dari caranya menelusuri diagram pembuluh darah dengan ujung jarinya, aku tahu dia tidak sedang menghafal. Dia sedang mencoba memahami peta rumit dari keajaiban dan kerapuhan tubuh manusia.
“Daka Prasetya?”
Dia mengangkat kepala, pelan. Matanya butuh beberapa milidetik untuk melakukan rekalibrasi dari dunia arteri dan vena ke dunia nyata yang lebih membosankan ini.
“Kirana. Dari Suara,” kataku, tanpa basa-basi. “Saya perlu wawancara.”
Dia menatapku, matanya analitis.
“Tentang?”
“Kontrasepsi,” jawabku, sengaja menjatuhkan kata itu seperti batu di atas lantai marmer yang sunyi. “Dan tentang kemunafikan institusional.”
Seutas senyum—lebih terasa seperti getaran otot daripada ekspresi—muncul di bibirnya. Dia menutup buku anatominya dengan gerakan hati-hati seorang pustakawan yang menangani naskah langka.
“Anda tidak suka basa-basi, ya?”
“Basa-basi itu untuk tukang obat,” balasku. “Saya jurnalis. Saya lebih suka langsung ke tujuan.”
Dan begitulah kami mulai. Lima menit berubah menjadi satu jam. Kami tidak hanya bicara tentang kondom. Kami bicara tentang stigma sebagai penyakit sosial, tentang keheningan sebagai bentuk kekerasan, dan tentang institusi yang lebih sibuk memoles fasadnya daripada memperbaiki fondasinya yang rapuh.
Dia tidak banyak bicara, tapi setiap kalimatnya merupakan diagnosis yang cermat: pelan, presisi, dan menusuk langsung ke jantung masalah.
Sejak hari itu, kami mengklaim sudut perpustakaan itu sebagai teritori kami. Dia dengan benteng buku kedokterannya yang rapi; aku dengan kertas-kertas draf yang berserakan seperti peta lokasi bencana. Kami jarang bicara. Bahasa kami berupa secarik post-it kuning yang ia sodorkan bertuliskan, Sudah makan? yang kubalas dengan mengetuk botol air mineralku dua kali.
Dia menjadi pembaca pertama dan editor paling kejam untuk semua tulisanku.
“Paragraf ini terlalu gemuk, Ran. Terlalu banyak kata sifat,” katanya suatu sore, menunjuk tulisanku dengan pena. “Buang semua yang tidak perlu. Biarkan argumennya bernapas.”
Dia benar. Dia selalu benar. Dia bisa melihat celah dalam logikaku seperti dia melihat garis retakan pada tulang di hasil rontgen.
Suatu hari, di taman belakang kampus, di sela-sela kunyahan tahu gejrot, aku bertanya, “Kamu nggak takut dianggap aneh karena ngomongin hal-hal sensitif kayak gini?”
Dia berpikir sejenak.
“Aku lebih takut kalau kita semua berhenti ngomongin hal-hal sensitif,” jawabnya.
“Penyakit yang didiamkan itu tidak sembuh. Ia hanya bermetastasis.”
Saat itulah aku tahu. Perasaan ini bukan sekadar jatuh cinta. Ini pengenalan. Aku sedang menemukan bagian dari diriku yang hilang, di dalam diri orang lain. Daka bukan pacar dalam pengertian konvensional. Dia menjadi rekan konspirasiku. Kami bagaikan dua agen ganda yang menyamar sebagai mahasiswa teladan, diam-diam mencoba membongkar kepalsuan dunia dari dalam.
Kami tidak pernah mengucapkan tiga kata keramat itu (I Love You). Kami tidak perlu. Cinta kami ada dalam detail-detail kecil: cara dia merapikan anak rambut di pelipisku saat aku terlalu fokus membaca, atau caraku tahu persis berapa sendok gula untuk kopinya.
Cinta kami berupa kesepakatan diam-diam bahwa dunia ini sering kali bising dan bodoh, tapi setidaknya kita punya satu sama lain sebagai tempat berlindung.
Dan aku, dengan kebodohan seorang optimis yang belum pernah benar-benar terluka, berpikir bahwa tempat berlindung itu takkan pernah bisa runtuh. Tapi aku melupakan satu hal dasar, bahwa benteng yang paling kokoh sekalipun, selalu punya satu celah kecil. Satu titik buta di mana pengkhianatan bisa merayap masuk tanpa suara.
Beberapa cinta memang terlihat terlalu sempurna untuk jadi nyata. Dan itulah, seharusnya, yang menjadi tanda peringatan pertama.
Di antara daftar narasumber yang berisi aktivis dan dosen sosiologi, ada satu nama yang janggal: Daka Prasetya, Fakultas Kedokteran. Aku membayangkan akan bertemu robot penghafal buku teks. Ternyata aku salah besar.Aku menemukannya di sudut ruang baca, di bawah jendela tinggi yang cahayanya jatuh dengan ragu-ragu, seolah meminta izin untuk masuk. Dia sedang menunduk menatap Atlas of Anatomy dengan konsentrasi bak seorang biarawan.
Dari caranya menelusuri diagram pembuluh darah dengan ujung jarinya, aku tahu dia tidak sedang menghafal. Dia sedang mencoba memahami peta rumit dari keajaiban dan kerapuhan tubuh manusia.
“Daka Prasetya?”
Dia mengangkat kepala, pelan. Matanya butuh beberapa milidetik untuk melakukan rekalibrasi dari dunia arteri dan vena ke dunia nyata yang lebih membosankan ini.
“Kirana. Dari Suara,” kataku, tanpa basa-basi. “Saya perlu wawancara.”
Dia menatapku, matanya analitis.
“Tentang?”
“Kontrasepsi,” jawabku, sengaja menjatuhkan kata itu seperti batu di atas lantai marmer yang sunyi. “Dan tentang kemunafikan institusional.”
Seutas senyum—lebih terasa seperti getaran otot daripada ekspresi—muncul di bibirnya. Dia menutup buku anatominya dengan gerakan hati-hati seorang pustakawan yang menangani naskah langka.
“Anda tidak suka basa-basi, ya?”
“Basa-basi itu untuk tukang obat,” balasku. “Saya jurnalis. Saya lebih suka langsung ke tujuan.”
Dan begitulah kami mulai. Lima menit berubah menjadi satu jam. Kami tidak hanya bicara tentang kondom. Kami bicara tentang stigma sebagai penyakit sosial, tentang keheningan sebagai bentuk kekerasan, dan tentang institusi yang lebih sibuk memoles fasadnya daripada memperbaiki fondasinya yang rapuh.
Dia tidak banyak bicara, tapi setiap kalimatnya merupakan diagnosis yang cermat: pelan, presisi, dan menusuk langsung ke jantung masalah.
Sejak hari itu, kami mengklaim sudut perpustakaan itu sebagai teritori kami. Dia dengan benteng buku kedokterannya yang rapi; aku dengan kertas-kertas draf yang berserakan seperti peta lokasi bencana. Kami jarang bicara. Bahasa kami berupa secarik post-it kuning yang ia sodorkan bertuliskan, Sudah makan? yang kubalas dengan mengetuk botol air mineralku dua kali.
Dia menjadi pembaca pertama dan editor paling kejam untuk semua tulisanku.
“Paragraf ini terlalu gemuk, Ran. Terlalu banyak kata sifat,” katanya suatu sore, menunjuk tulisanku dengan pena. “Buang semua yang tidak perlu. Biarkan argumennya bernapas.”
Dia benar. Dia selalu benar. Dia bisa melihat celah dalam logikaku seperti dia melihat garis retakan pada tulang di hasil rontgen.
Suatu hari, di taman belakang kampus, di sela-sela kunyahan tahu gejrot, aku bertanya, “Kamu nggak takut dianggap aneh karena ngomongin hal-hal sensitif kayak gini?”
Dia berpikir sejenak.
“Aku lebih takut kalau kita semua berhenti ngomongin hal-hal sensitif,” jawabnya.
“Penyakit yang didiamkan itu tidak sembuh. Ia hanya bermetastasis.”
Saat itulah aku tahu. Perasaan ini bukan sekadar jatuh cinta. Ini pengenalan. Aku sedang menemukan bagian dari diriku yang hilang, di dalam diri orang lain. Daka bukan pacar dalam pengertian konvensional. Dia menjadi rekan konspirasiku. Kami bagaikan dua agen ganda yang menyamar sebagai mahasiswa teladan, diam-diam mencoba membongkar kepalsuan dunia dari dalam.
Kami tidak pernah mengucapkan tiga kata keramat itu (I Love You). Kami tidak perlu. Cinta kami ada dalam detail-detail kecil: cara dia merapikan anak rambut di pelipisku saat aku terlalu fokus membaca, atau caraku tahu persis berapa sendok gula untuk kopinya.
Cinta kami berupa kesepakatan diam-diam bahwa dunia ini sering kali bising dan bodoh, tapi setidaknya kita punya satu sama lain sebagai tempat berlindung.
Dan aku, dengan kebodohan seorang optimis yang belum pernah benar-benar terluka, berpikir bahwa tempat berlindung itu takkan pernah bisa runtuh. Tapi aku melupakan satu hal dasar, bahwa benteng yang paling kokoh sekalipun, selalu punya satu celah kecil. Satu titik buta di mana pengkhianatan bisa merayap masuk tanpa suara.
Beberapa cinta memang terlihat terlalu sempurna untuk jadi nyata. Dan itulah, seharusnya, yang menjadi tanda peringatan pertama.
Other Stories
Blek Metal
Cerita ini telah pindah lapak. ...
After Meet You
kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Pahlawan Revolusi
tes upload cerita jgn di publish ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...