5. Tempat Misteri Berikutnya
Tempat Misteri Berikutnya
Hari kedua di Korea
Mentari bersinar cerah, secerah hati Devi dan Dimas. Jam sembilan pagi mereka berdua sudah siap untuk kembali melanjutkan perjalanan mendatangi tempat misteri berikutnya. Namun masalahnya sudah setengah jam Han Jie Eun beserta kekasihnya belum juga datang menjemput mereka berdua.
Devi jadi gelisah sendiri. Jika sudah gelisah yang dilakukan Devi adalah mondar-mandir. “Aduh, mereka ke mana sih? Kemarin mereka ontime jemput kita, tapi kenapa sekarang ngaret?”
Dimas tiba-tiba memeluknya dari belakang. Inilah cara Dimas menenangkan kegelisahan Devi. “Tenang lah sayang. Mereka bentar lagi pasti datang. Mungkin mereka telat karena menyelesaikan urusan dadakan dulu.”
“Kalau mereka ada urusan dadakan harusnya mereka kasih tau kita dong.”
“Daripada kamu mengomel nggak jelas, lebih baik kamu menunggu kedatangan mereka sambil browsing internet saja.”
“Ngapain browsing internet?”
“Ya, kita mencari tempat misteri berikutnya. Hari ini kan kita belum menentukan mau mendatangi tempat yang mana.”
Devi setuju dengan usulan Dimas. Dia pun meraih laptop kesayangannya. Untung di apartemen ini dilengkapi fasilitas wifi yang bagus, sehingga internet-an bisa secepat kilat. Begitu laptop nyala, Devi klik Mozilla Firefox dan masuk ke laman Google. Terus dia memasukkan kata kunci “Tempat-tempat Misteri di Korea Selatan.” Di kolom pencarian Google.
Dalam sekejap muncul beberapa artikel tentang Tempat-tempat Misteri di Korea Selatan. Dia memilih membaca artikel yang judulnya “10 Tempat Misteri di Korea Selatan.”
Devi terlihat serius sekali membaca artikel itu. “Di situs yang kubaca, ada 10 tempat misteti di Korea Selatan. 2 di antaranya sudah kita datangi kemarin.”
“8 tempat misteri yang belum kita datangi apa aja?” tanya Dimas.
“SMA di Gyeongju, University of Seoul, Restoran Angker Neulbom Garden dan bla… bla… bla.” Devi menyebutkan satu per satu tempat misteri yang dibacanya dari artikel itu.
“Menurutmu hari ini kita enaknya mendatangi tempat yang mana?”
“Kalau menurut aku kita lebih baik ke SMA di Gyeongju aja. Soalnya aku penasaran, ingin melihat sendiri seberapa horor sekolah tersebut.”
“Oke, aku setuju. Hari ini kita ke SMA Gyeongju.”
Entah mengapa tiba-tiba Devi merasakan rasa sakit yang luar biasa pada kepalanya. Dia pun memijit-mijit kepalanya sendiri. Namun bukannya agak enakan malah sekarang ingin muntah.
Dia langsung berdiri dan berlari menuju kamar mandi. Sesampai di kamar mandi, dia memuntahkan seluruh isi perutnya. “Hoek… hoek…”
Dimas menyusulnya ke kamar mandi. Suaminya itu dengan sabar memijit-mijit bagian belakang lehernya dengan minyak kayu putih. Beberapa saat kemudian dia sudah agak enakan. Secepatnya dia membersihkan mulut menggunakan air keran.
“Aku nggak apa-apa kok, mungkin cuma masuk angin biasa. Tadi malam kan aku tidur tengah malam.”
Ting… Ting
Smartphone Dimas berbunyi. Devi melihat suaminya merogoh saku celana, tak lama kemudian suaminya mengeluarkan smartphone. “Ada sms masuk dari Han Jie Eun,” ujar Dimas.
“Lalu isinya apa?”
“Maaf, kami datang terlambat. Tadi ada urusan mendadak, sekarang kami sedang dalam perjalanan menuju apartemen kalian. Kalian sudah siap?”
“Gimana nih, Dev? Apa aku bilang aja bahwa kamu sakit dan hari ini kita nggak bisa melakukan perjalanan?”
“No, hari ini tetep melakukan perjalanan tapi aku nggak ikut.”
“Lah, kalau kamu nggak ikut siapa yang mencatat semua liputan tentang tempat itu? Terus siapa yang jagain kamu? Aku takut terjadi apa-apa jika kamu di apartemen sendiri,” terlihat jelas guratan cemas di wajah Dimas.
“Kamu tenang aja, aku akan baik-baik aja kok sendirian di apartemen. Kalau soal liputan, kamu rekam aja seluruh yang diucapkan Han Jie Eun di smartphone. Beres kan?”
“Tanganku kan cuma dua, kedua tanganku sibuk memotret objek. Mana bisa memegang smartphone juga?”
Devi tersenyum simpul. “Kan kamu bisa minta tolong Lee Young Jae buat megangin smartphone-mu itu.”
“Iya juga ya. Hehehe. Tapi kamu beneran nggak apa-apa ditinggal sendirian di apartemen?”
“Aku nggak apa-apa, Sayang.”
“Aku pergi dulu ya. Kalau terjadi apa-apa dengamu, langsung hubungi aku!”
“Siap.”
Sebelum pergi, Dimas mengecup kening Devi dan Devi mencium tangan Dimas. Dalam hati dia berdoa agar suaminya sampai di tempat tujuan dengan selamat.
***
Sesuai kesepakatan dengan Devi tadi pagi, Dimas hari ini mendatangi SMA di Gyeongju. Tentu saja bersama Han Jie Eun, hari ini Lee Young tak ikut karena dia lagi sakit. Bangunan sekolah ini sangat megah dan luas. Tak kalah dengan sekolah elite lainnya di Korea Selatan.
Jika tak membaca situs internet, orang luar Korea pasti tak ada yang tahu bahwa sekolah ini dibangun di atas pemakaman.
Sebelum mereka memasuki sekolah, terlebih dahulu Dimas menyalakan tombol perekam dulu biar apa yang dikatakan Han Jie Eun terekam di smartphone-nya. Sesampai di dalam sekolah, kedatangan mereka disambut ramah oleh bapak kepala sekolah. Beliau bersedia menemani mereka menyusuri setiap sudut sekolah ini.
Sekolah ini terdiri dari 9 kelas. Satu kelas terdiri dari tiga local. Bukan hanya itu saja, di sekolah ini pun ada kantin, toilet, ruang laboraturium, ruang latihan music, ruang latihan drama dan ruang seni lukis. Walaupun demikian, aura mistis di sekolah ini tetap ada.
Terbukti saat Dimas melewati ruang laboraturium, dia merasakan ada energi negatif yang sangat kuat. Dia tak ingin mengabaikan momen tersebut, dia pun memegang kamera LDR yang menggantung di lehernya. Dia membidik kameranya dan memotret ruang laboraturium.
“Astagfirullahaladzim!” pekik Dimas kaget ssat melihat hasil bidikannya.
“Ada apa, Dim?” tanya Han Jie Eun heran.
“Coba deh kamu liat, ada bayangan putih tertangkap di kameraku,” ujar Dimas sambil menunjukkan hasil bidikannya.
Pak kepala sekolah hanya tersenyum saja. “Itu paling penunggu ruang lab ini. Dari sekian banyak ruangan di sekolah ini, ruang laboraturium lah yang paling angker. Tak ada satu pun murid berani lewat atau memasuki lab. Ini. Setiap ada yang memasuki lab, pasti kesurupan.”
Dimas kaget, pak kepala sekolah bisa berbahasa Indonesia. Hal itu justru menjadi sebuah keuntungan bagi Dimas, dia tak perlu repot-repot membuka kamus bahasa Korea. “Pak, bisakah Anda jelaskan mengapa sekolah ini angker?”
“Sebenarnya, SMA ini dulunya berada di tengah kota, namun kemudian dipindahkan ke pinggiran kota. Gedung sekolah yang baru tersebut didirikan di atas sebuah bukit yang merupakan area pemakaman, dekat dengan makam Kim Yushin, Jenderal terkenal Korea dari abad ke-7. Untuk membangunnya, beberapa makam pun dipindahkan. Ketika proses pemindahan makam, sebenarnya sudah dilakukan semacam kegiatan doa. Konon, ini dimaksudkan agar tidak ada “penunggu” yang marah ataupun merasa nggak tenang. Namun, banyak yang beranggapan bahwa prosesi doa ini nggak sepenuhnya berhasil. Setelah pembangunan selesai dan sekolah resmi beroperasi, muncullah berbagai ‘gangguan,’” Pak kepala sekolah menjelaskan secara panjang lebar.
“Terus gangguan apa saja yang dialami murid-murid di sini?”
“Para murid, terutama yang menghuni asrama, seringkali merasa nggak nyaman saat di sekolah. Malah, banyak kesaksian yang menyatakan bahwa mereka melihat penampakan aneh. Alhasil, nggak ada yang mau berlama-lama di sekolah. Murid-murid juga menghindari pulang-pergi melewati jalur bukit pemakaman. Soalnya setiap lewat situ, kabarnya sering muncul perasaaan yang nggak enak. Menurut cerita yang beredar, banyak makhluk halus.”
Dimas merasa cukup liputannya di sekolah ini. Dia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Waw, ternyata sudah jam setengah satu. Sudah waktunya makan siang.”
“Gimana kalau kita makan siang di kantin sekolah ini saja?” tanya Han Jie Eun.
Dimas menggeleng pelan. “No, aku hari ini ingin makan di restoran angker Neulbom Garden aja.”
“Oh, baiklah kalau begitu.”
Dimas mengulurkan tangan kanannya, pak kepala sekolah menjabat tangan Dimas. “Terima kasih banyak karena Bapak sudah mengizinkan kami untuk meliput sekolah ini. Sekali lagi terima kasih.”
“Sama-sama. Saya senang kalian mengunjungi sekolah ini, jangan kapok main ke sekolah ini ya.”
Ketika Dimas dan Han Jie Eun melangkah menuju luar sekolah, tiba-tiba ada seorang murid laki-laki berlari-lari. Mungkin karena datang terlambat. Murid laki-laki itu tak sengaja menyenggol tubuh Han Jie Eun dengan keras.
Otomatis tubuh Han Jie Eun terhuyung ingin jatuh. Dengan sigap Dimas menangkap tubuh Han Jie Eun agar tak jatuh.
Terjadilah saling pandang dari jarak yang sangat dekat. Mata Dimas tak berkedip melihat kecantikan Han Jie Eun dari jarak yang sangat dekat. Namun dia teringat wajah Devi. Devi selalu marah jika dirinya terpesona dengan kecantikan wanita lain. Dimas pun tersadar dari lamunannya. Cepat-cepat dia beristigfar, minta maaf ke Han Jie Eun dan membantu Han Jie Eun kembali berdiri tegak.
Tanpa disadari Dimas ada sepasang mata yang menatapnya dari jauh. Pemilik sepasang mata itu menatapnya dengan penuh kebencian.
***
Dimas kecewa karena apa yang diharapkannya tak sesuai kenyataan. Tadinya dia mengira Restoran Neulbom Garden masih beroperasi namun ternyata restoran ini sudah 20 tahun yang lalu ditutup. Bangunannya memang masih berdiri dengan kokoh, namun dibiarkan begitu saja tak terurus.
Dia sangat menyayangkan hal itu. Dia berpikir andai restoran itu dibuka kembali pasti akan laris manis. Terletak di derah perbukitan sejatinya restoran ini menjadi salah satu restoran yang punya daya tarik bagi kalangan wisatawan, bahkan boleh dikata jika restoran ini juga memiliki kisah sejarah yang besar bagi warga Korea. Pasalnya, terletak di bukit yang punya pemandangan langsung dengan lautan luas, restoran ini menjadi tempat wisata favorit banyak kalangan.
Dia jadi penasaran ingin tahu sejarah restoran ini. Dia pun bersiap melempar pertanyaan ke Han Jie Eun. Namun sebelumnya tentu saja dia mengaktifkan tombol perekam suara di smartphone-nya dulu.
“Han Jie Eun, apakah kau tahu tentang restoran ini?” Dimas mengajukan pertanyaan pertama setelah tombol perekam suara aktif.
“Tentu saja aku tahu. Seluruh masyarakat asli Korea pasti tahu tentang restoran ini.”
“Bisakah kau ceritakan sejarah restoran ini? Dari awal berdiri sampai restoran ini angker.”
“Awal mula restoran ini jadi horor itu masih simpang siur. Ada dua versi ceritanya. Kau mau aku ceritakan versi yang mana?”
“Aku mau dua-duanya. Tapi kau ceritakan versi pertama dulu lah!”
Han Jie Eun menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskan secara perlahan, “Kisah horor restoran ini berawal setelah pemilik restoran membantai keluarganya sendiri sebelum akhirnya ia gantung diri. Menurut kisahnya, pembunuhan tersebut terjadi karena ia dan istrinya frustasi dengan kondisi satu-satunya putri cantik mereka yang mengalami cacat mental dan fisik setelah mengalami insiden kecelakaan. Mereka tidak bisa menahan rasa sakit hati melihat putrinya tidak bisa tumbuh dengan normal, dan setelah aksi pembantaian tersebut, restoran tua ini mulai diselimuti aura-aura horor mengerikan.”
“Lalu versi kedua bagaimana ceritanya?”
“Versi kedua, ada rumor pintu tiba-tiba membuka dan menutup, dan pelanggan akan memesan makanan yang aneh-aneh dan cukup mengerikan. Bos tidak bisa menangani situasi seperti ini dan meninggalkan karyawan untuk melakukan semua pekerjaan karena dia sibuk mencuci piring di dapur belakang. Oh ya, dan si bos juga bakal mukul kepala si pelanggan jika dia melihat mereka bermain dengan makanan mereka atau menjatuhkan sisa-sisa makanan di lantainya. Mungkin si bos gila ini adalah bagian dari salah satu yang mengerikan.”
“Lalu apakah tak ada orang yang berniat membangun kembali restoran ini? Andai restoran ini dibuka lagi pasti bakal ramai dikunjungi wisatawan.”
“Setelah dibiarkan kosong sekitar 20 tahun, restoran tua ini sebenarnya sempat kembali di buka, namun pemilik restoran pun tidak bisa bertahan lama. Berdasarkan kisah yang beredar, para pekerja termasuk pemilik restoran sering mengalami teror yang sangat nyata di restoran ini. Konon menurut kisah yang dilansir beberapa sumber, para karyawan sering melihat piring yang bergerak dengan sendirinya hingga suara-suara gaduh yang bersumber dari dapur. Hal tersebut dibenarkan oleh seorang pakar spiritual di Korea, ia menyebutkan bahwa restoran ini tidak pernah ditinggalkan oleh pemilik sebelumnya meski telah tewas, arwah pemilik rumah beserta istri dan putrinya masih ada di restoran ini. Sampai sekarang tak ada orang yang berani membangun kembali restoran ini.”
Drtt… Drttt
Smartphone di tangan Dimas bergetar. Di layarnya tertulis Istriku memanggil. Dia menggeser icon telepon warna hijau ke icon telepon warna merah, itu artinya menerima panggilan.
“Halo, istriku tercinta. Gimana keadaanmu?” tanya Dimas.
“Alhamdulillah, aku sudah agak enakan. Kamu lagi di mana?”
“Aku lagi ada di Restoran Neulbom Garden, aku kira restoran itu masih beroperasi makanya aku mau makan siang di sini, eh taunya sudah tutup sejak 20 tahun yang lalu.”
“Aduh, maaf ya Sayang tadi pagi aku lupa bilang ke kamu bahwa restoran itu memang sudah lama ditutup.”
“Nggak apa kok.”
“Kamu pulang jam berapa?”
“Bentar lagi aku pulang? Kamu sudah kangen ya ma aku?”
“Sebelum kamu pulang, mampir ke restoran dulu ya. Belikan aku makanan Sundubu jigae, Kimchi Jigae, Chamchi Jigae, Ojingeo Deopbab, Chamchi Deopbab dan bulgogi.”
“Baiklah, nanti akan kubelikan.”
Tuuut… tuutt sambungan telepon terputus.
Han Jie Eun melirik ke arah Dimas. “Yang nelpon Devi ya?”
“Iya, dia minta aku pulang sekarang.”
“Kalau begitu kita pulang sekarang.”
“Tapi sebelum pulang ke apartemen, kita mampir ke restoran dulu ya. Devi minta dibelikan makanan Sundubu jigae, Kimchi Jigae, Chamchi Jigae, Ojingeo Deopbab, Chamchi Deopbab dan bulgogi.”
“Oke, aku akan bilang ke sopir bahwa kita mampir ke restoran dulu sebelum pulang ke apartemen.”
***
Dimas tiba di apartemen tepat jam dua siang. Kepulangan Dimas disambut dengan pelukan hangat dan kecupan mesra dari Devi.
“Sayang, gimana liputannya? Lancar?” tanya Devi.
“Alhamdulillah lancar tanpa ada kendala sedikit pun,” Dimas menjawab pertanyaan Devi dengan senyum memesona.
“Mana rekaman hasil liputan ke tempat misteri? Terus kamu nggak lupa beliin makanan pesananku kan?”
“Ini pesananmu.”
Tangan kanan Dimas menenteng plastik besar berisi makanan pesanan Devi sedangkan tangan kirinya memegangi smartphone. Devi malah mengambil smartphone, lalu meraih laptop kesayangannya. Dia bingung sendiri melihat tingkah istrinya itu.
“Devi, kok ngambil laptop? Harusnya kan kamu ambil piring dan sendok buat makan.”
“Makannya nanti sajalah. Aku mau ngetik artikel hasil liputanmu tadi.”
“Tapi kan kamu lagi sakit, Sayang. Ngetik artikelnya bisa lain kali.”
“Aku udah sehat kok. Tenang saja.”
Dimas hanya mendengus kesal. Jika istrinya sudah ingin sesuatu ya harus dikerjakan sekarang juga. Dia tak bisa berbuat apa-apa.
Jari-jari tangan Devi menari lincah di atas keybord laptop, mengetik kata demi kata di lembar ketiga artikel yang diketiknya kemarin.
SMA di Gyeongju
Bangunan sekolah ini sangat megah dan luas. Tak kalah dengan sekolah elite lainnya di Korea Selatan. Jika tak membaca situs internet, orang luar Korea pasti tak ada yang tahu bahwa sekolah ini dibangun di atas pemakaman.
Sekolah ini terdiri dari 9 kelas. Satu kelas terdiri dari tiga local. Bukan hanya itu saja, di sekolah ini pun ada kantin, toilet, ruang laboraturium, ruang latihan music, ruang latihan drama dan ruang seni lukis. Walaupun demikian, aura mistis di sekolah ini tetap ada. Terbukti saat ada orang yang melewati ruang laboraturium, dia merasakan ada energi negatif yang sangat kuat.
“Dari sekian banyak ruangan di sekolah ini, ruang laboraturium lah yang paling angker. Tak ada satu pun murid berani lewat atau memasuki lab. Ini. Setiap ada yang memasuki lab, pasti kesurupan,” ujar bapak kepala sekolah ini.
SMA ini dulunya berada di tengah kota, namun kemudian dipindahkan ke pinggiran kota. Gedung sekolah yang baru tersebut didirikan di atas sebuah bukit yang merupakan area pemakaman, dekat dengan makam Kim Yushin (Jenderal terkenal Korea dari abad ke-7). Untuk membangunnya, beberapa makam pun dipindahkan. Ketika proses pemindahan makam, sebenarnya sudah dilakukan semacam kegiatan doa. Konon, ini dimaksudkan agar tidak ada “penunggu” yang marah ataupun merasa nggak tenang. Namun, banyak yang beranggapan bahwa prosesi doa ini nggak sepenuhnya berhasil. Setelah pembangunan selesai dan sekolah resmi beroperasi, muncullah berbagai ‘gangguan.’
Para murid, terutama yang menghuni asrama, seringkali merasa nggak nyaman saat di sekolah. Malah, banyak kesaksian yang menyatakan bahwa mereka melihat penampakan aneh. Alhasil, nggak ada yang mau berlama-lama di sekolah. Murid-murid juga menghindari pulang-pergi melewati jalur bukit pemakaman. Soalnya setiap lewat situ, kabarnya sering muncul perasaaan yang nggak enak. Menurut cerita yang beredar, banyak makhluk halus.
Restoran Neulbom Garden, yang terletak di perbukitan dengan pemandangan laut, dulunya populer tapi kini dikenal angker. Ada dua versi kisah horornya: satu tentang pemilik yang membantai keluarganya karena putrinya cacat, lalu bunuh diri; versi lain menyebut bos restoran gila yang bersikap kasar pada pelanggan. Setelah kosong 20 tahun, restoran sempat dibuka lagi tapi ditinggalkan karena teror gaib. Konon, arwah pemilik dan keluarganya masih menghuni tempat itu. Devi menulis artikel tentang kisah ini sebelum bersiap makan.
Restoran Neulbom Garden, yang terletak di perbukitan dengan pemandangan laut, dulunya populer tapi kini dikenal angker. Ada dua versi kisah horornya: satu tentang pemilik yang membantai keluarganya karena putrinya cacat, lalu bunuh diri; versi lain menyebut bos restoran gila yang bersikap kasar pada pelanggan. Setelah kosong 20 tahun, restoran sempat dibuka lagi tapi ditinggalkan karena teror gaib. Konon, arwah pemilik dan keluarganya masih menghuni tempat itu. Devi menulis artikel tentang kisah ini sebelum bersiap makan.
Other Stories
Langit Ungu
Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...
Awan Favorit Mamah
Hidup bukanlah perjalanan yang mudah bagi Mamah. Sejak kecil ia tumbuh tanpa kepastian sia ...
Padang Kuyang
Warga desa yakin jika Mariam lah hantu kuyang yang selama ini mengganggu desa mereka. Bany ...
Devils Bait
Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...
Kala Cinta Di Dermaga
Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...
Dua Mata Saya ( Halusinada )
Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...