1. Kisah Persahabatan
Dini hari masih menyisakan aroma malam waktu itu, ketika hembusan angin dingin menerobos perkebunan kakao menyusup masuk lewat celah ventilasi kamar, membelai mesra sekujur tubuhku yang mungil dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun. Angin dingin itu dengan mesra mengeja namaku, berbisik di telingaku mendesah,
“Luh Kantini, bangunlah sayangku!” Demikian bujuknya mengajakku bangun menantang dingin sebelum fajar menjelang. Namun, aku masih belum hendak bangun. Ingin rasanya aku dipeluk lebih lama oleh hangatnya mimpi-mimpi di ujung malam. Hingga berkali-kali bujukan sang bayu mengabarkan pagi menjelang, berbisik di telingaku, akhirnya kubuka juga mataku.
Sambil mengerlipkan mata yang masih enggan terbuka, kulihat di sebelahku, sahabatku masih terlelap dalam buaian tidurnya. Dia adalah sahabat karibku, Putu Pramita Ayudyah, biasa kupanggil Ayudyah. Seorang sahabat yang kurasa bahkan lebih dekat daripada saudara kandungku sendiri. Perlahan kumencoba beranjak turun dari tempat tidur, kupelankan gerakanku agar tidak sampai membangunan sahabatku itu.
Namun ternyata seretan lembut menyapu permukaan seprei dariku yang hendak turun dari tempat tidur, sudah cukup untuk membuat Ayudyah terbangun dari tidurnya. Ya, dia memang cukup peka kalau dini hari, karena sudah terbiasa ingat dengan tugas rutin yang harus dikerjakannya sebelum berangkat sekolah, memenuhi bak penampungan air.
Terlihat jelas dari mataku, Ayudyah masih mengucek-ngucek matanya, walaupun sudah terduduk di tempat tidurnya, seperti sedang berusaha mengeluarkan diri dari dunia mimpi-mimpi, sementara aku sudah berdiri di tepian ranjang memandanginya. Tak perlu waktu lama, dia mengerlingkan matanya kepadaku lalu berucap semangat, “Ayo, Tini! (begitu dia biasa memanggilku) Sudah waktunya,” aku paham betul maksudnya adalah segera beranjak menuju sumur.
Aku memang selalu semangat membantu Ayudyah mengerjakan tugas rutinnya ini, karena aku tahu, nanti Bu Nyoman Widiani, Ibu Adyudyah sahabatku pasti akan memberikanku beberapa rupiah untuk bekal ke sekolah hari ini. Di samping aku memang senang membantu sahabatku ini. Penuh semangat, aku mendahului Ayudyah tepat di depan dapur, menuju arah barat, agak menanjak menuju areal kebun mangga. Kemudian berbelok lagi ke selatan melalui deretan pohon mangga di kebun itu.
Aku mendengar langkah kaki Ayudyah yang dipercepat di belakangku, seolah ingin menyalipku untuk sampai di sumur lebih dahulu. Aku pun turut mempercepat langkahku, tak ingin didahului olehnya. Perlombaan lari dini hari pun terjadi, membuat kami benar-benar lupa bahwa hari belum terang, namun langkah kaki kami seolah sudah hafal betul medan perkebunan yang kami lalui menuju sumur. Beruntung masih ada sinaran lampu dari dapur tempat Ibu Nyoman Widiani yang rupanya juga sudah memulai aktivitasnya di dapur.
Tek… tanganku menyentuh saklar yang melekat di salah satu sisi kayu pilar penyangga tower air. Bola lampu berwarna kemerahan pun menyala berpijar menerangi aktivitas kami menimba air di sumur tengah kebun mangga itu. Segera kurengkuh timba sumur yang terikat tali yang sudah sedari tadi menunggu kehadiran kami, bergantung pada katrol sumur itu.
“Yei… aku duluan,” seruku kegirangan mendapat giliran menimba pertama-tama. Ayudyah pun memahami bagiannya kini, ia harus berdiri di anak tangga tower air berpilarkan kayu setinggi kurang lebih dua meter, yang berdiri tegak di sisi timur sumur itu, tugasnya adalah mengambil timba yang telah berisi air dan menaikkannya untuk kemudian dituang ke dalam bak penampungan air ukuran besar di atas tower itu. Derap napasku berpacu dengan irama jantung yang semakin kencang, seolah berlomba dengan gerakan tangan menarik tali dadung mengangkat air. Beberapa kali sudah berhasil kunaikkan air dari dalam sumur yang cukup dalam itu, maklum karena ia berada di dataran yang lebih tinggi dari tempat di sekelilingnya.
Dingin dini hari sudah tak terasa lagi kini, sirna entah ke mana ditelan panas tubuhku yang telah keringatan. Aku cukup lelah, aku naik ke anak tangga tower air, lalu Ayudyah menggantikan posisiku. Dia menimba kini, dan aku yang akan mengangkatnya ke tower nanti. Kami biasa bergiliran. Sambil bercanda ceria, di antara gurauan kami, aku dengar suara kumandang azan subuh menyeruak berbisik turut menimpali percakapan kami.
Seolah berlomba dengan sang waktu, denyut jantung kami yang mulai lelah, dan napas kami yang sama-sama terengah tanda lelah. Tubuh kami pun sudah hangat karena aktivitas pagi yang cukup menguras tenaga. Akhirnya tower air pun penuh terisi air sumur. Dan siap dialirkan menuju tempat-tempat penampungan air di rumah Ayudyah, seperti kamar mandi, dapur, dan kandang babi milik Pak Wayan Sukarta, ayah Ayudyah sahabatku.
Setelah duduk sebentar di anak tangga tower air, sambil menarik napas dan menyeka keringat, kami kembali pulang untuk mandi. Matahari sudah mulai menampakkan sinar merahnya di cakrawala langit. Membelai kami dengan rona senyum semangatnya yang manja, menandakan kami sudah harus bersiap menuju sekolah. Setelah numpang mandi di kamar mandi Ayudyah. Aku mengenakan lagi pakaianku yang kupakai dari semalam untuk pulang. Benar saja, sebelum pulang, Ibu Nyoman Widiani memanggilku.
“Tini… kemarilah, sarapanlah dulu di sini bersama Ayudyah sebelum pulang. Nasi sudah matang dan ada lauk tempe goreng yang bisa kau makan dahulu. Kalau sayurnya sih memang belum matang,” pintanya ramah padaku.
“Ah, Ibu kan tahu, saya tidak terbiasa makan sepagi ini, Bu,” aku menimpali. “Baiklah kalau begitu, bawalah ini ya…” beliau tersenyum ramah padaku, sembari memberikan genggaman tangannya padaku.
Aku mengucapkan terima kasih lalu beranjak pulang. Rumahku berada di selatan kebun milik keluarga Ayudyah. Sambil menyusuri gang tanah di dusun yang masih bergelut dengan sunyi, kukeluarkan lagi tanganku dari kantong celana. Sedari tadi aku masih menggenggamnya, sesuatu yang diberikan Ibu Nyoman Widiani. Benar saja, dua lembar uang kertas berwarna hijau dengan gambar monyet yang lucu, dua lembar lima ratus rupiah, ini sudah lebih dari cukup untuk menjadi bekal sekolahku hari ini.
Seperti dua lembaran uang kertas ini telah menyihir semangat pagiku menjadi berlipat dan berganda. Aku berlari kecil, setengah berjingkrak sambil melantunkan lagu anak yang ceria, kesukaanku, Isabela yang Manis, demikian lirik yang paling suka aku ulang-ulang. Isabela yang manis menemaniku menyusuri gang tanah yang berumput dengan jalur yang agak menurun di antara perkebunan kakao milik Pak Wayan Sukarta di sebelah kanan, dan kebun pisang milik Pekak Mangku di sebelah kiri menuju ke arah selatan sedikit lagi, tibalah aku di rumahku.
Entah, sejujurnya aku malu mengatakannya sebagai rumah. Ini lebih tepat disebut gubuk. Kumasuki halaman rumah yang belum pernah terkena penerangan dari listrik. Lampu minyak tanah sudah kelihatan berkelip dari sela-sela bilah bambu dinding dapur keluargaku, tanda ibuku sudah memulai aktivitasnya di sana.
Aku tahu, ibu sekedar menjerang dirinya dengan memasak air di tungku tanah berbahan bakar kayu. Ibuku baru akan membeli beras menjelang tengah hari nanti, saat aku pulang sekolah, jadi ibuku selalu hanya memasak air di pagi hari.
Aku tak menuju dapur untuk menghampiri ibuku, aku lebih memilih segera menuju rumah yang juga berdinding bambu dan beratap daun kelapa yang berada di sebelah utara dapur. Ya, inilah kamar tidur kami semua, Ayah dan ibuku, keempat kakakku, dan aku. Hanya ada 2 tempat tidur reyot untuk kami semua, satu untuk ayah dan ibuku hanya bersekat bilah-bilah bambu, kemudian satu tempat tidur lagi untuk aku dan keempat kakakku. Bisa dibayangkan bagaimana berdesakannya kami tidur di ranjang itu. Itulah sebabnya aku lebih suka menginap di rumah Ayudyah. Di gubuk bambu kira-kira 3 x 4 meter persegi inilah semua baju kotor bertumpuk di salah satu sisi ranjang. Pakaian sekolahku ada di lemari plastik bertiang besi yang hampir roboh bersandar di tiang bambu di sudut kamar.
Aku segera mengenakan seragam sekolahku. Mengemasi buku-buku sekolah yang lain, karena sebagian aku bawa menginap semalam di rumah Ayudyah jadi tinggal kumasukkan saja.
Kugendong tas sekolah keluar kamar. Aku memetik beberapa bunga mawar dan bunga bugenvil di halaman rumahku, karena aku hari ini bertugas piket kelas, jadi akan kubawa ke sekolah untuk menghias vas bunga di meja pak guru nanti.
Sambil memetik beberapa bunga, kulihat ayahku yang baru bangun melangkah gontai menuju balai di emperan rumah. Satu tangannya menggulung-gulung dan membetulkan posisi sarung kumalnya, dan satu tangan lagi mengucek mata. Diambilnya bungkusan tas plastik kecil berisi tembakau dan kulit jagung, kemudian dipelintirnya untuk dijadikan rokok. Sembari duduk menghirup gulungan tembakau, ayahku memanggil-manggil ibu di dapur meminta dibuatkan kopi. Tak lama berselang, kudengar suara Ayudyah memanggilku, tanda mengajakku berangkat ke sekolah bersama. Aku hanya memanggil ibuku dari halaman untuk berkata, “Bu, saya berangkat,” Ibu mengiayakan. Sementara pada ayahku, ah... aku memang tidak pernah berpamitan padanya, toh ayah juga jarang sekali memperhatikanku dan menanyaiku.
Aku menuju gang segera menghampiri Ayudyah dan kami pun menuruni bukit bersama. Gang tanah selalu menjadi saksi bisu perjalanan kami menuju sekolah.
Sekitar delapan ratus meter ke arah selatan menuruni bukit, melewati beberapa rumah tetangga, tibalah kami di ujung gang. Di kanan dan kirinya ada dua rumah wallet berdiri kokoh dan di depannya dilengkapi dengan sebuah pos kamling yang berdiri tepat di tepi jalan raya. Kami berbelok ke kiri, kini kami berjalan menyusuri tepian jalan raya. Ramai truk-truk pengangkut barang, mobil pick-up pengangkut sayur, dan bus-bus malam yang datang dari Jawa melintasi desa kami. Kulihat pula ada beberapa teman, adik kelas dan kakak kelas yang juga berangkat ke sekolah. Belum terlalu ramai memang, karena kami memang suka berangkat lebih pagi dari yang lain. Sampai-sampai kadang aku suka tersenyum sendiri, saat teringat Ibu Nyoman Widiani, ibu dari Ayudyah yang kerap menggoda kami, “Kenapa suka sekali berangkat pagi-pagi? Mau membangunkan Pak Supar di mes sekolah ya?” begitu katanya.
Oh ya, Pak Supar adalah bapak guru wali kelas kami yang tinggal di mes sekolah. Beliau berasal dari Jawa.
“Tini, banyak juga ya mobil pick-up yang membawa sayur dari Jawa,” kata sahabatku yang memang tak diam-diam dari tadi, ada saja celotehnya selama dalam perjalanan.
Saking banyaknya dia bicara, aku sampai tidak ingat persis apa saja yang ia katakan. Persisnya konsentrasiku lebih tertuju ke sekolah, aku sangat ingin cepat sampai di sekolah. Pertanyaan sahabatku itu kujawab sekenanya, “Ya, banyak Yud.”
Ia tersenyum lalu berkata lagi, “Besok kita tanam sayuran yang banyak di halaman rumah kita yuk, biar para ibu kita tidak perlu banyak-banyak membeli sayuran yang dari Jawa itu,” lanjutnya ceria.
“Hahaha, ide bagus. Aku doakan sayuranmu tumbuh subur dan tidak dimakan ulat. Nanti aku bantu jualin,” kataku padanya.
“Ah, kamu sih tahunya jualin saja.”
Lalu kami pun tertawa bersama.
Tak terasa karena terus bergurau di sepanjang jalan, kami pun tiba di depan sekolah kami. Seorang bapak polisi lalu lintas sudah siaga di sana dan siap membantu kami menyeberang jalan. Kami langsung berlari menuju ruang kelas yang ternyata baru saja dibuka kuncinya oleh Pak Supar. Beliau tersenyum dan berkata pada kami, “Rajinnya dua muridku ini.”
Serentak kami berdua menjawab sambil tertawa, “Iya dong, Pak!”
Beliau tersenyum lalu bergegas pergi membuka ruang kelas yang lain, atau mungkin bergegas mandi. Entahlah, karena sepertinya beliau belum mandi.
Ayudyah membantuku membersihkan ruang kelas, walau dia sebenarnya tidak bertugas piket hari ini. Itu sudah biasa terjadi di antara kami, besok kalau Ayudyah yang giliran piket, aku yang membantu. Ya, seperti itulah kami.
Dia mengambil sapu ijuk yang tersimpan di belakang lemari kelas, lalu membersihkan dua leret bangku di bagian selatan. Sedangkan aku membersihkan dua leret bangku di bagian utara. Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk menyelesaikannya. Teman-teman sekelas yang lain mulai berdatangan, meletakkan tas di meja masing-masing lalu bergegas melakukan pembersihan di halaman sekolah. Karena sekolah kami adalah sebuah Sekolah Dasar di desa, jadi tidak punya petugas kebersihan khusus. Kami semua sudah terbiasa mengerjakan tugas membersihkan lingkungan sekolah setiap pagi sebelum pelajaran dimulai.
Jam dinding menunjukkan pukul 07.30, bel sekolah pun berbunyi. Kami semua berbaris di halaman sekolah untuk mengikuti upacara pengibaran bendera. Setelah mendengarkan pengarahan dari bapak kepala sekolah, kami semua masuk ke dalam kelas, berbaris rapih, dan kemudian mengadakan doa bersama di dalam ruang kelas sesuai dengan agama dan kepercayaan kami masing-masing.
Tak lama setelah waktu berdoa bersama, terdengar suara langkah kaki bersepatu menghantam lantai mendekati pintu kelas, suasana seketika hening. Benar saja, sosok yang datang adalah seorang bapak guru bertubuh kurus, tinggi, dengan kepala yang tidak berambut alias botak di bagian depan sampai atas ubun-ubunnya. Kacamata terpasang di hidung seperti mau jatuh saja kelihatannya. Beliau adalah guru Bahasa Indonesia kami, Bapak Ketut Lindih namanya. Sambil melihat kepada kami satu per satu, beliau mengecek kehadiran muridnya.
Satu demi satu dari kami dipanggil namanya dan diperhatikan secara detail. Memang demikian kebiasaannya. Eka Rina, anak dengan nomor absen 1, menurutku dia memang cocok diberi nomor 1. Dia cantik, dia paling kaya di antara kami, ayahnya sopir truk barang PP Jawa-Bali. Dan ibunya punya usaha toko kebutuhan sehari-hari, dari sanalah mungkin rezeki keluarganya mengalir baik, dan menjadikan kehidupan ekonomi keluarganya paling mapan di antara kami.
Ngurah Kadek, dipanggil berikutnya. Dia adalah cucu dari seorang Pekak Mangku, sebutan untuk seorang tokoh agama dan tetua masyarakat di desa kami, dia jago dalam bidang olahraga.
Putu Pramita Ayudyah, dia selanjutnya. Dia sahabat terbaik sekaligus terdekatku. Putri seorang Pegawai Negeri Sipil staf UPT dinas pendidikan di kecamatan kami. Dia gadis yang ceria dan rajin belajar, itulah sebabnya aku suka sekali membuat PR di rumahnya, bahkan keseringan aku langsung menginap di rumahnya. Sebab keluarganya juga baik dan perhatian padaku, aku di sana dianggap seperti putri mereka juga. Giliran yang duduk di belakangku, Mamik. Hmmm... Slamet Mulyono sebenarnya, tapi dia lebih sering dipanggil Mamik. Kemudian teman sebangkunya, Eliyas. Masih banyak lagi teman sekelasku yang lainnya yang disebut namanya satu demi satu oleh Pak Ketut Lindih, sampai akhirnya beliau selesai memeriksa kehadiran kami.
Seperti biasa sejak duduk di bangku kelas 5 ini, setiap kali ada jam mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bapak Ketut Lindih akan memberikan kami tugas untuk membuat karangan bebas. Seperti juga hari ini, di akhir pembelajaran, bapak guru yang katanya sudah menjelang pensiun ini, memberi lagi kami tugas untuk membuat karangan bebas di rumah. Tulisan harus rapih, menggunakan huruf tegak bersambung, minimal satu setengah halaman. Demikian beliau selalu mengingatkan kami.
Potongan besi tua yang bergantung di depan kantor kepala sekolah rupanya telah dipukul, bunyinya yang nyaring mengisyaratkan waktunya kami untuk beristirahat. Bapak guru telah mengemasi alat-alatnya di atas meja dan beranjak menuju kantor guru. Aku dan teman-temanku bersorak riang lalu berhamburan berlarian ke luar kelas. Rata-rata dari mereka langsung menyerbu ibu kantin. Namun kali ini aku bersama Ayudyah dan beberapa teman sekelasku yang lain yaitu Ekarina, Erna, Komang Puri, Ariasanji, dan Diantari sang putri bapak kepala sekolah memilih untuk duduk santai membentuk lingkaran kecil di bawah pohon jambu air yang tengah berbuah ranum di halaman sekolah kami di sisi selatan.
“Kalau kita petik jambu ini sudah pasti akan dimarahi oleh bapak guru,” Komang Puri mengawali pembicaraan dalam rapat kecil kami kali ini.
“Ya, tentu saja. Bukankah sudah ada dalam peraturan sekolah bahwa kita tidak boleh memetik sendiri buah-buahan di lingkungan sekolah?” sambung Erna, temanku yang berkulit eksotis, bermata bulat dengan rambut keriting dan logat Jawanya yang amat kental. Maklum dia baru pindah dari Jawa saat duduk di kelas 4. Ya, kira-kira setahun yang lalu baru ia mulai bersekolah di sekolah ini.
“Eh… bagaimana kalau kita beli jambu di rumah Ibu Ji. Dia kan juga berjualan jambu air, yang warna merah malah lebih manis kalau di sana,” Eka Rina mencoba memberikan solusi.
Kami semua setuju, lalu sambil berlari kecil menuju tembok barat sekolah. Tempat di mana mes guru berada, di sebelahnya ada pintu gerbang kecil kira-kira hanya semeter lebarnya untuk kami bisa keluar sekolah. Begitu gerbang samping sekolah kami buka, di depan gang sudah langsung terpampang nyata dagangan Ibu Ji, jambu merah sudah dibungkus lengkap dengan bumbunya. Lima ratus rupiah harga sebungkusnya. Aku mengeluarkan selembar uang hijau bergambar monyet yang tadi pagi diberikan oleh Ibu Nyoman Widiani. Satu lembar lagi aku biarkan di dalam kantong baju seragamku. Kami tertawa riang sambil menikmati jambu yang matang baik dan sangat manis. Ternyata teman-teman kami yang lain juga banyak yang menyusul kami berdatangan membeli jambu di tempat Ibu Ji ini.
Sebenarnya kalau ketahuan pak guru, kami bisa dimarahi ramai-ramai ini. Karena dilarang keluar sekolah pada saat jam sekolah. Tapi tak apalah, toh juga kami tidak menyeberang jalan raya, dan tempat Ibu Ji ini sangat dekat, tepat di samping tembok pembatas sekolah.
Sudah selesai menikmati jambu-jambu, aku dan teman-temanku segera menuju halaman sekolah kembali, takut kalau-kalau waktu istirahat sudah akan habis dan kami terlambat tiba di kelas. Ternyata kami terlalu cepat kembalinya, waktu masih ada untuk bermain di luar kelas. Di sudut halaman sekolah di depan ruang guru, ada sebuah taman kecil berisi tumbuhan bunga-bunga. Kami lihat Luh Sudi bersama Puji Astuti, teman sekelas kami juga bermain bongkar pasang di tepian kebun itu. Bongkar pasang adalah sebutan kami untuk mainan orang-orangan dari kertas yang bisa ditukar-tukar pakaiannya dengan aneka model gaun yang indah. Kami menghampiri Luh Sudi dan Puji Astuti di sana. Lalu duduk di samping mereka.
“Hai… kalian baru datang dari rumah Ibu Ji ya?” tanya Puji Astuti.
“Ya. Kenapa kalian tidak ikut?” Erna menimpali.
“Ah, tidak. Aku dan Luh Sudi tadi membeli nasi bungkus saja di kantin sekolah,” sahut Puji Astuti kembali.
“Benar itu. Oya, kalian tidak membelikan jambu juga untuk kami?” tanya Iluh Sudi.
“Tidak, Luh. Beli saja sana sendiri!” aku menyahut sekenanya sambil tertawa menggodanya.
“Huh, dasar pelit!” kata Iluh Sudi membalasku.
Senyum dan canda teman-temanku selalu menjadi pewarna bagi rona semangatku menjalani hari-hari di sekolah ini. Setiap hari belajar, seperti belajar mengejar cita-cita rasanya. Kadang merasa bahagia saat aku dan teman-teman belajar menulis. Menulis sebaris cita-cita untuk masa depan kami kelak. Entah apa yang kami baca nanti di masa depan, dan entah apa yang akan kami tulis kelak untuk masa depan kami masihlah buram di kertas harapan. Tapi apa yang kami baca hari ini, dan apa yang kami tulis hari ini adalah harapan nyata kami untuk sebuah cita-cita.
Kilatan sinar mentari yang mulai beranjak tinggi dari balik semak perdu kembang jempiring di kebun sekolah menerpa mataku mendatangkan silau. Barulah aku tersadar, ternyata jidatku sudah terpapar panas mentari sedari tadi. Aku bangun dari posisi duduk bersila di antara teman-temanku yang tengah asyik bermain, menuju ruang kelas.
Tepat ketika aku duduk di bangkuku, bel tanda pelajaran selanjutnya telah dibunyikan. Teman-temanku ramai riuh kembali ke dalam kelas. Aku ingat pelajaran kali ini adalah Ilmu Pengetahuan Alam. Mata pelajaran kesukaanku. Karena guru yang mengajar mata pelajaran ini sangat humoris. Beliau selalu berhasil mengocok perut kami dengan guyonan-guyonan riangnya. Seorang bapak guru dengan perawakan agak gendut. Kulitnya putih bersih dan rambutnya hitam karena selalu disemir sepertinya. Beliau adalah seorang guru yang berasal dari Kabupaten Tabanan. Bapak Made Suwartama namanya. Merantau di Jembrana ini karena tugas.
Beliau bersama istrinya tinggal di mes guru yang satu lagi, tempatnya tidak di areal sekolah ini, melainkan masuk ke utara dari jalan raya, di sebelah utara Pura Desa. Istri beliau adalah seorang guru TK, aku mengenalnya walaupun dulu tidak sempat bersekolah TK. Karena aku sering datang ke rumahnya untuk menjual sarana upacara adat terbuat dari daun kelapa yang dijahit berbentuk bulat, di sebut tamas, yang dibuat ibuku.
Tak terasa, sudah dua jam pelajaran ini berlangsung. Karena saking asyiknya kami belajar bersama beliau yang humoris. Tiba-tiba jam istirahat kedua sudah tiba. Rasanya masih ingin belajar bersama Bapak Made. Bahkan beliau masih kupandangi sampai tidak terlihat dari pintu kelas.
Istirahat kali ini aku dan Ayudyah memilih untuk membaca buku cerita di perpustakaan sekolah. Kebetulan sekali kegiatan ini memang sudah lama menjadi hobi kami berdua. Hampir setiap hari di sekolah kami selalu menyempatkan diri membaca buku cerita di perpustakaan sekolah. Dari depan pintu perpustakaan, aku sudah bisa melihat Bapak Hanafi tersenyum ramah kepada kami, tanda menyambut kedatangan kami. Beliau adalah seorang guru agama Islam yang sekaligus ditugaskan sebagai petugas perpustakaan. Ruang perpustakaan sudah lumayan ramai.
Aku langsung menuju rak buku cerita, memilih buku cerita, lalu duduk lesehan bersama yang lainnya. Aku tidak pernah mengerti bagaimana keasyikan dalam membaca bisa menyihirku untuk lupa pada berjalannya waktu. Aku bahkan lupa sahabatku Ayudyah ada di mana. Entah di mana ia duduk, aku juga tak ingin memedulikannya dulu untuk saat ini. Aku yakin dia juga tengah asyik dengan buku pilihannya sendiri. Hingga tiba waktu kami kembali ke kelas untuk memulai pelajaran yang baru lagi.
Meskipun mengetahui teman-teman kami sudah beranjak menuju kelas masing-masing, aku dan Ayudyah belum meninggalkan perpustakaan. Seperti biasa, aku dan Ayudyah sangat suka membantu Bapak Hanafi menyusun kembali buku-buku ke dalam rak. Kami tinggal meletakkannya di rak, seperti yang Pak Hanafi suruh. Terlebih dahulu beliau sudah menyusunnya rapih.
“Pak, sebentar… apa ada jam mengajar lagi?” aku bertanya kepada Pak Hanafi.
“Tidak. Ada apa, Tini?” jawabnya ramah kepadaku.
“Bapak mau kabur duluan ya?” tanyaku lagi sambil tersenyum menggodanya.
“Ah, kamu ini ada-ada saja,” jawabnya sambil tersenyum.
Walaupun berkulit gelap dan memiliki mata yang besar, aku tetap bisa merasakan kebaikan hati dari guru ini. Ya, Bapak Hanafi memang sering pulang lebih dahulu jika sudah tidak ada jam mengajar di siang hari. Maklum rumah beliau sangat jauh, di Kecamatan Pekutatan katanya. Kata ibu Nyoman Widiani yang sering bercerita kepadaku, Kecamatan Pekutatan itu jauh sekali, masih harus melewati 3 kecamatan lainnya untuk menuju ke sana, yang jelas paling ujung timur dari wilayah Kabupaten Jembrana ini. Bapak kepala sekolah juga sepertinya mengizinkan Bapak Hanafi pulang terlebih dahulu kalau sudah tidak ada jam mengajar lagi di siang hari.
Sesampainya di kelas, aku dan Ayudyah meminta maaf atas keterlambatan kami kepada Ibu Gusti Ayu Suyasmini yang sudah tiba di kelas lebih dahulu. Kami menjelaskan kegiatan kami tadi di perpustakaan. Ibu Gusti Ayu tersenyum ramah dan mempersilakan kami duduk. Beliau adalah seorang guru Bahasa Bali. Beliau sangat ramah, selalu halus, lembut dan santun tutur katanya. Terlebih lagi sinar matanya yang memancarkan kedamaian, membuat kami semua sangat senang belajar Bahasa Bali. Terlebih kali ini Ibu Gusti Ayu akan mengajak kami belajar melantunkan tembang Bali. Pupuh Ginanti namanya, salah satu dari begitu banyak lagu tradisional Bali yang diajarkan secara turun temurun. Pupuh Ginanti yang sangat merdu terlantun dari bibir manis Ibu Gusti Ayu, menuntun kami untuk turut mengikuti menyanyikannya.
Saking tuhu manah guru
Mituturin cening jani
Kaweruh luir senjata
Ne dadi prabotang sai
Keanggen ngeruruh merta
Saenun ceninge urip
Demikianlah lirik dari Pupuh Ginanti yang diajarkan oleh ibu guru kami yang cantik. Dengan sabar kemudian Ibu Gusti Ayu menjelaskan arti dari Pupuh tersebut kepada kami. Bahwa arti dari pupuh tersebut yaitu,
Sang guru dengan penuh perhatian dan kesungguhan
Memberikan petuah kepada para muridnya
Pengetahuan itu bagaikan senjata
Yang dapat dipergunakan setiap waktu
Terutama untuk memperoleh rezeki dan penghidupan yang layak
Di sepanjang kehidupanmu
Pelajaran yang kudapat di kelas siang ini sungguh menyentuh hatiku. Menjadikan nyala semangat di dalam hati untuk terus menimba ilmu pengetahuan semakin jelas dan membara. Semangat berkobar di dada yang tak akan pernah padam. Benar-benar satu penutup hariku belajar di sekolah yang sangat berkesan dan istimewa. Pelajaran untuk kami semua di kelas hari ini, telah tiba di penghujung waktu. Pembelajaran sehari ini begitu berkesan bagiku. Sama berkesannya seperti persahabatanku dengan semua teman. Tak siapa pun mungkin kan merasakan. Betapa dalam dan haru semangat persahabatan ini dalam hatiku. Menutup pembelajaran seharian yang sangat berkesan ini, kami masing-masing berdoa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Betapa indahnya persahabatan dalam perbedaan ini. Kami melakukannya secara bergiliran. Rasanya aku bahkan sampai ikut hafal doa teman-temanku yang berbeda keyakinan. Ceria selalu rasanya hari-hariku dalam kisah persahabatan ini.
Other Stories
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Ophelia
Claire selalu bilang, kematian Ophelia itu indah, tenang dan lembut seperti arus sungai. T ...
Metafora Diri
Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Mendua
Dita berlari menjauh, berharap semua hanya mimpi. Nyatanya, Gama yang ia cintai telah mend ...
Pasti Ada Jalan
Sebagai ibu tunggal di usia muda, Sari, perempuan cerdas yang bernasib malang itu, selalu ...